‘Peusaboh Hate’ Membangun Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Peusaboh Hate’ Membangun Aceh

‘Peusaboh Hate’ Membangun Aceh
Foto ‘Peusaboh Hate’ Membangun Aceh

Oleh Lukman Hakim

PERNYATAAN Ketua Fraksi PA DPRA, Kautsar Muhammad Yus bahwa Partai Aceh (PA) siap mendukung Irwandi di pemerintahan, memang sedikit mengejutkan (Serambi, 7/4/2017). Namun di lain sisi, kita dapat memaknainya sebagai sebuah angin segar bahwa semua komponen yang sebelumnya berserak kini menyatu untuk memberikan yang terbaik bagi Aceh. Mulai menyatukan hati demi Aceh tercinta dengan mengeyampingkan kepentingan kelompoknya. Sebenarnya ini adalah satu harapan yang dinantikan oleh sengenap masyarakat Aceh, yang ingin hidup damai menuju masa depan yang lebih baik.

Kenyataannya memang Pilkada 2017 telah berlalu menyisakan riang dan pilu, karena pada Rabu 15 Februari 2017 rakyat Aceh telah menentukan pilihan nuraninya. Dengan menggunakan logika sederhananya masyarakat telah memilih orang yang diyakini dapat diberikan amanat memimpin, menjadi “kapten” membawa Aceh ke arah yang lebih baik dan bermartabat.

Kebanyakan pengamat menilai penyelenggaraan pilkada kali ini jauh lebih baik dan demokratis dibandingkan pilkada sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa tingkat kesadaran dan kecerdasan berpolitik masyarakat Aceh mengalami peningkatan yang signifikan. Dikatakan cerdas karena mereka tidak lagi memilih atas dasar janji atau karena ancaman, tetapi memilih berdasarkan keinginan nalurinya.

Pengadilan rakyat
Pilkada pada hakikatnya dapat dimaknai sebagai “pengadilan rakyat”. Kini rakyat telah menusuk paku, memaku pilihannya dalam labaran surat suara. Ada yang tak percaya dengan hasil Pilkada 2017, sebab telah terjadi pendobrakan dahsyat kemapanan dari arus utama opini yang berkembang.

Inilah dunia politik yang terkadang riaknya kencang, kadang buihnya tenang, namun menenggelamkan. Terkadang dia bagaikan permainan sepakbola, yang sulit diprediksi hasilnya. Sebab, pemainnya banyak, sebanyak rakyat Aceh yang selama ini telah melihat polah dan prilaku “pemilik klub” dan “fans setianya”. Tidak aneh jika kemudian pemain pun menentukan sikapnya menendang bola liar, menjebol gawang sendiri mengabaikan janji-janji.

Kiranya sengenap kompetitor pilkada ini bisa menjujung tinggi sifat kesatria dan jumawa. Pihak yang menang tidak perlu terlalu riang dan bereforia, sementara yang kalah juga tidak perlu larut dalam duka sebab hidup bukan semata-mata untuk berpolitik. Permainan politik adalah permainan kalah dan menang, oleh karena itu setiap orang yang masuk di dalamnya harus mempersiapkan mental untuk siap menang dan juga siap kalah.

Pemenang yang telah mendapat mandat rakyat, harus sudah memulai memikirkan program melanjutkan pembangunan Aceh yang telah dimulai dan dirintis oleh pemimpin sebelumnya. Melanjutkan flatform pembangunan yang dianggap baik dan memproyeksikan program lain yang lebih baik (al-mukhafadhah ala qadimis shalih wal akhzu bil jadidil ashlah). Oleh karenanya dalam menyusun program pembangunan Aceh kedepan perlu mengimput insipirasi dari pemimpin sebelumnya dan juga segenap perwakilan elemen masyarakat Aceh. Hal ini diharapkan akan membuat impak pembangunan lebih merata bagi masyarakat.

Sementara bagi yang kali ini belum memperoleh mandat dari rakyat mungkin sudah dapat memikirkan dan mengevaluasi sikap dan kerja sehingga setidaknya menemukan titik gagal memperoleh kepercayaan masyarakat. Dengan kata lain pihak yang kalah harus melakukan instrospeksi diri atau “muhasabah politik” sebagaimana yang dipesankan oleh Muktasim Jailani (Serambi, 7/4/2017).

Sekiranya ada keinginan untuk kembali berpartisipasi dalam pilkada mendatang pengalaman hari ini harus menjadi acuan untuk perbaikan dalam merengkuh kepercayaan masyarakat. Sebab terhadang masyarakat dalam diamnya menilai, mengevaluasi dan pada saatnya nanti akan memilih yang terbaik dalam logika sederhana dan nalurinya.

Kini mungkin kita perlu membangun paradigma dalam berpikir bahwa Aceh adalah titipan Allah untuk kita dan anak cucu kita bersama. Selama ini mungkin ada sebagian kalangan yang mengangap bahwa Aceh dan segenap identitasnya adalah milik mereka. Paradigma ini membuat seakan hanya merekalah yang berhak dan paling respresentatif mewakili Aceh dalam segalanya, baik budaya, karakter dan bahkan simbol-simbol keacehan.

Cara berpikir seperti ini hanya akan berimplikasi mengkotak-kotakkan Aceh dalam struktur tertentu sehingga memunculkan eklusivitas kultural. Gejala ini hakikatnya adalah memecahkan kekuatan yang sejatinya harus disatukan demi mewujudkan Aceh tercinta ini menuju hala-tuju yang lebih baik dan bermartabat.

Kebersamaan
Aceh ke depan harus dibangun atas kebersamaan setiap elemen rakyat Aceh. Semua pihak harus merasa terpanggil untuk sama-sama mengambil bagian dalam setiap lini pembangunan sesuai dengan profesinya masing-masing. Para akademisi harus berkomitmen membangun sumber daya insani yang handal menyongsong Aceh baru yang berjaya di masa depan. Para petani dan harus diberi kesempatan dan difasilitasi menghasilkan pangan bagi kemakmuran Aceh masa datang. Para pengawai negeri harus mampu berkerja dengan etos kerja yang baik bagi terwujudnya capaian kerja yang maksimal. Begitu juga dengan berbagai profesi lainnya.

Selama ini ada yang mengatakan bahwa Aceh ini telah ditakdirkan menjadi daerah yang dalam sejarahnya selalu saja diwarnai bencana dan konflik. Seakan takdir ini tak dapat ditolak atau diminimalisir. Padahal semua yang terjadi tidak selamanya takdir mubram yang tak mungkin ditepis, tetapi juga ada takdir muallaq yang menyediakan ruang kepada masyarakat Aceh untuk mengambil bagian dalam membangun takdir baru bagi Aceh untuk mengapai kejayaan jauh dari bencana dan konflik. Menisbahkan semua bencana dan konflik yang terjadi kepada Allah secara iktikad adalah keliru. Allah Swt sendiri telah berfirman, “Munculnya kerusakan di laut dan di darat adalah disebabkan oleh ulah tangan manusia.”

Selama ini kalau kita melihat bencana dan konflik berkepanjangan di Aceh adalah karena ulah tangan manusia yang bercelaru. Oleh karena itu, mari kita menyatukan hati dan energi menggapai asa bersama menuju Aceh yang bermartabat dan berjaya. Saat ini, ada semacam geliat positif sebagian masyarakat kelas bawah menengah yang mencoba meniti jalan ekonomi yang lebih sehat, seperti berternak, bercocok tanam, berjualan dan sisi ekonomi mikro lainnya.

Geliat ini mungkin adalah hal yang positif yang perlu diberdayakan melalui pemberian modal kerja dan yang lebih penting memberikan rasa aman dan damai dalam mereka menjalankan usahanya. Jadi kalau ada upaya yang mencoba merusak kedamaian yang telah terbangun ini mari kita satukan hari dan energi bahwa itu musuh bersama yang menjadi onak dalam membangun Aceh. Kita berharap semoga nanggroe Serambi Mekkah ini akan menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Amin Ya Rabbal’alamin.

* Dr. Lukman Hakim bin Abdul Wahab, M.Ag., Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan Peneliti pada Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Provinsi Aceh. Email: [email protected] (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id