Hukuman Seumur Hidup Belum Tentu Menjerakan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hukuman Seumur Hidup Belum Tentu Menjerakan

Hukuman Seumur Hidup Belum Tentu Menjerakan
Foto Hukuman Seumur Hidup Belum Tentu Menjerakan

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe menjatuhkan vonis penjara seumur hidup bagi Murtadha, seorang penyimpan narkoba jenis sabu-sabu seberat 41 kilogram. Sedangkan tiga temannya hingga kemarin masih dalam pengejaran pihak penegak hukum.

Murtadha dibekuk aparat Polres Lhokseumawe pada 23 Agustus 2016 bersama barang bukti sabu-sabu tersebut. Dalam persidangan terungkap, nerkoba itu dipasok dari Malaysia melalui perairan kawasan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, menggunakan boat.

Majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 112 juncto Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Narkotika. Dan, karenanya dihukum penjara seumur hidup.

Ya, terpidana memang masih punya hak untuk bandinmg ke pengadilan tinggi dan kemudian kasasi ke mahkamah agung. Artinya, vonis seumur hidup itu masih bisa berubah lebih ringan atau bahkan lebih tinggi.

Saat ini, penjara-penjara di Aceh memang disesaki oleh para narapidana kasus narkotika, terutama sabu-sabu dan ganja. Di antara mereka ada mewnjalani hukuman seumur hidup dan bahkan hukuman mati.

Yang menjadi pertanyaan apakah vonis hukuman mati dan hukuman seumur hidup itu tidak berat sehingga tidak menakutkan bagi para sindikat peredaran narkoba? Buktyi tidak menakutkan adalah, aktivitas perdagangan narkoba di daerah ini makin “gila-gilaan”. Artinya, hukuman berat setingkat hukuman seumur hidup dan hukuman mati itu tidak berefek pada penurunan aktivitas bisnis narkoba di daerah ini.

Di sisi lain, para bandar narkoba yang bergelimang duit ini sudah tahu betul bagaimana “menari” di tengah banyaknya oknum-oknum aparat penegak hukum yang gampang “dibeli”. Mulai dari lapangan hingga dalam penjara. Sudah menjadi rahasia umum bahwa begitu banyak bandar-bandar narkoba berstatus narapida hukum berat, termasuk yang hukuman seumur hidup, “mengatur” oknum-oknum petugas di lembaga pemasyarakatan.

Karenanya, sebagian di antara mereka, dengan status narapidana malah lebih leluasa mengembangkan bisnis narkobanya. Kalau ada inspeksi penjara mereka akan ada dalam sel, selebihnya mereka juga sering di luar penjara. Dan, sudah cukup banyak napi yang ditangkap di luar penjara sedang sedang bertransaksi narkoba.

Oleh sebab itulah, yang menjadi pertanyaan kita sekarang apakah hukuman yang tak menjerakan para narapidana kasus-kasus narkoba, atau sistem pengawasan di penjara yang terlalu “longgar” membuat para napi merasa “nyaman” berstatus napi?

Sejak lama, polisi dan BNN sudah cukup geram atas “kelonggaran” di penjara-penjara kita. Makanya, ke depan ini hal paling pentinga adalah mengetatkan pebngawasan napi di penjara termasuk hal yang sangat penting dalam rangka menekan bisnis dan pemakaian narkoba di Aceh. (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id