Jengek | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Jengek

Jengek
Foto Jengek

Cerpen Edi Miswar Mustafa

UDARA terasa segar hari ini. Marzuman menyisap rokoknya dengan
perasaan menyenangkan. Sangat menyenangkan malah. Laut kelihatan
lewat celah kuala. Ia tatap arah utara.

Beberapa boat labi-labi mulai masuk. Sure sedang mahal-mahalnya.
Sekilo 25 ribu. Tapi bukan boatnya yang masuk itu, batinnya.
Tangan kiri di tentang alis kiri.

Sekali lagi ia menatap lebih fokus. Belum juga kelihatan boatnya. Sabar
saja, batinnya lagi. Maknu sudah menelpon tadi dari laut. Mereka
dapat 27 fiber.

“Ada 27 fiber. Tiga fiber lagi sudah saya bagi-bagikan. Ya, banyak
sekali jengek di Meureudu. Beda dengan Panteraja.” Pawangnya
mengabari. Marzuwan bisa membayangkan posisi Pawang Maknu saat
menelponnya. Pasti sambil makan di dapur. Beberapa kali ia ke laut,
Maknu hobi duduk menyendiri di belakang, di dapur. Kalaupun ada
yang mengajaknya mengobrol, ia lebih banyak diam.

“Piyoh, Toke Zuman,” ujar Ramli sambil mengelap meja. Marzuman
tidak berkata apa-apa. Duduk, melihat kiri-kanan di warung kopi itu
lalu diam. Kelihatan seperti sedang mempertimbangkan: mau minum
atau tidak.

“Pesan apa, Toke Zuman?” tanya Ramli. Tangan kanannya masih
mengelap meja. “Nanti saja,” kata Marzuman sambil merogoh saku celana, mengeluarkan
rokok Dji Sam Soe Premium, lalu mengeluarkan korek api gas dan
menyalakannya. Satu dua orang yang masuk menyapanya, “Toke…”
Marzuman hanya mengangguk sambil mengangkat tangan kanannya sedikit.

“Minum, Toke Zuman…” tawar orang-orang di warung kopi itu. Lagi-lagi Marzuman hanya mengangguk dengan senyum kecil dan mengangkatnya tangan kanannya sedikit.

Dulu, waktu ia cuma jadi jengek, mana ada yang menegurnya. Sekarang ketika sudah jadi toke boat, ia disapa di mana-mana. “Toke Zuman,” bisiknya
dalam hati.

Padahal, ketika jadi jengek, nama panggilannya adalah Pliek. Kurang ajar.
Saat terpikir nama tersebut, jika ada yang melihat ke arahnya, maka
akan tampak Marzuman sedang tersenyum sedih, lalu, tiba-tiba saja,
wajahnya berubah bengis.

Marzuman ingat benar siapa yang menamainya Pliek. Hingga semua jengek waktu itu
memanggilnya Pliek. Sampai-sampai ceweknya juga memanggilnya Pliek. Kini ia sudah
menikah dan punya anak tiga, mantan ceweknya juga sudah berkeluarga.

“Bang Pliek, ke Batee Iliek yok,” gitu dulu ceweknya memanggil.
Untung sekarang tidak ada yang berani memanggilnya Pliek. Kalau
ada, entah bagaimana. Alangkah konyolnya kalau ada yang memanggilnya
‘Toke Pliek’.

Orang yang menamainya Pliek yaitu Bang Irsan. Sekarang melaut
dengan Bang Jamin. Ia tidak punya boat lagi. Terpaksa melaut bersama
orang lain. Orang itulah yang manamainya Pliek. Sebab, ketika ia barubaruan
jadi jengek, ia pernah makan lincah pliek u dalam boat. Rupanya
remah-remah pliek masuk ke dalam buritan boat. Saat melaut, Bang Irsan
mencium pliek yang menjengkelkannya sehingga ketika pulang, apalagi
mereka pulang tanpa membawa pulang tangkapan, mulailah ia
dipanggil Pliek.

Tidak ada nama jengek setengik dia. Teman jengek lain ada yang
bernama Bakong Asoe, Bieng Bangka, Dapu Itam, Mieng Kuala, Komakah,
Komajih. Pokoknya lebih bagus dan teramat sangat bagus ketimbang
Pliek.

Pikiran tentang nama itu selesai ketika seseorang di pinggir sungai

berteriak ke arah warung kopi Ramli, “Toke Zuman, boat sudah masuk kuala.”
Marzuman perlahan beranjak dari kursi, naik motor dan ke TPI.
Sudah lebih 10 tahun ia menjadi toke. Orang yang menamainya Pliek
selalu ia ingat. Orang itu dari pawang terkenal kemudian menjadi pawang
biasa kemudian menjadi ‘kawan’ dari pelaut-pelaut lain selalu dipantauannya.

Tapi, suatu kali, saat Bang Irsan minta pinjam uang kepadanya, ia
sungguh tak sanggup untuk tidak menolongnya. Ia ingat, bagaimana
pun, berkat Bang Irsan ia kenal dengan laut.

Teman-teman mainnya di SD dulu asyik main sepak bola di depan masjid,
tapi ia harus cuci boat, mengambil bensin ke pasar. Bang Irsanlah yang
mengajaknya, “Mau cuci boat saya?” tanya Bang Irsan ketika itu. Ia baru
pulang mancing kepiting dan mandi di dekat boat Bang Irsan.

“Mau,” jawabnya. Akhirnya, ia tak sempat berpuas main layanglayang,
bude aneuk jari, bude aneuk siren, bude trieng, main kelereng,
bahkan main geude-geude di kebun Chik Miyam dilatih Suman Gentot.

Sesekali, saat libur sekolah, ia turut serta dibawa ke laut. Ketika itu
ia masih SMP. Ketika tamat, ia putuskan tak lagi melanjutkan sekolah
meski sangat ingin. “Bagaimana, Mak. Saya sekolah atau ke laut saja,”
tanyanya kepada mak suatu malam.

“Terserah sama kamu,” jawab mak saat itu. Semenjak ayah kena
TBC, cuma mak yang kerja. Mak menganyam tikar pandan. Terkadang
bikin kue adee kalau ada yang pesan. Musim panen, mak
membantu orang kaya, yang tanah sawahnya luas.

Akhirnya ia putuskan pergi ke laut. Pertama dengan Bang Irsan.
Karena seringkali Bang Irsan memakinya dengan pliek khieng,
kemudian ia pergi melaut dengan Bang Joker. Mungkin hanya setahun
setengah, ia bertukar pawang lagi.

Bang Joker menurutnya saat itu agak kurang mengerti cara memancing
ikan di laut, tapi selalu sok tahu. Makanya hasil tangkapannya
kurang. Lagi pula, satu lagi, Bang Joker suka adik maknya. Ia tak
suka laki-laki itu menyindir Cek Mail, suami Cek Marni, yang kerjanya
jualan cendol ke tiap kota-kota kecamatan menurut hari pekan
masing-masing.

Bang Joker sampai sekarang masih kelihatan malu kalau berbicara
dengannya. Padahal, ia tak lagi marah sama semua orang yang membuatnya
dulu jengkel. Walaupun, terkadang, kalau ingat masa lalu, ia agak marah
dan sedih.

“Masa lalu, masa muda, bagian paling menentukan dalam hidup,”
suatu kali ia baca catatan ini di kaki lembaran buku TTS. Ia bersyukur
pernah diejek. Pernah dihina. Ia ingat ia kerap dikata-katai kawannya paling
pelit. Dan, itu memang benar. Ia ingin mengumpulkan emas sebanyakbanyaknya.

“Ingat. Beli emas. Kalau tidak punya emas, tidak ada yang mau kawin
denganmu,” pesan mak dulu. Mendengar itu pertama-tama memang membuatnya
malu. Tapi ia patuhi anjuran maknya. Ia pun menyimpan uang sama
mak. Maklah yang kemudian mengabari bahwa emasnya sudah sekian dan bisa
beli boat thep-thep. Dari satu boat thep-thep ia beli dua, tiga, dan empat.

Lalu ia beli boat pukat. Dan kini, ia punya boat pukat dua. Boat labi-labi
lima. Boat thep-thep dua. Di samping punya boat, ia juga beli
sejumlah sawah. Ini juga anjuran mak. Mak memberi contoh Toke Main. Dulu
kaya raya dengan boat. Tapi, saat Toke Main meninggal, boatnya dikelola sama
anak-anaknya, dan akhirnya anak-anak Toke Main jatuh miskin. “Beli sawah.

Jangan hanya beli boat. Beli sapi, dipelihara yang jaga, nantinya hasilnya
bagi dua.” Semua anjuran mak dipatuhinya. Kepada yang bertanya padanya
bagaimana menyimpan uang, ia bercerita tentang maknya dan tambahan,
“Jangan terlalu sering di warung kopi. Bukan pelit. Tetapi terkadang
kita tidak sadar, satu hari saja, kita minum sampai empat kali di warung
kopi. Ya, kan?”

Marzuman menyisap rokok di warung kopi Ramli sore hari. Angin
laut yang sepoi-sepoi memainkan pipinya yang kini tambah tembem
seperti pipi para gadis. Sambil makan buah geureumbang dan pliek u, ia
memesan kopi ke arah yang punya warung yang sedang nonton sinetron
India di Indosiar. “Li . . .,” teriaknya, “kopi sikhan!”

Rungkom, 17 April 2017
* Edi Miswar Mustafa, cerpenis ini
tinggal di Pidie Jaya (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id