Trawl Kuras Laut Singkil | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Trawl Kuras Laut Singkil

Trawl Kuras Laut Singkil
Foto Trawl Kuras Laut Singkil

SINGKIL – Kapal pukat trawl atau yang bisa dikenal dengan sebutan pukat harimau dilaporkan kembali masuk ke wilayah laut Aceh Singkil dalam sebulan terakhir. Kegiatan kapal trawl sempat mengilang pascatindakan tegas aparat keamanan dengan melakukan penangkapan serta patroli rutin. Informasi masuknya kapal pukat harimau untuk menguras kekayaan laut Aceh Singkil disampaikan sejumlah nelayan serta warga pemancing. Antara lain pukat harimau terlihat di sekitar Pulau Sarang Alu dan Pulau Bangkaru, Kepulaan Banyak.

“Sekitar sepekan lalu saat kami memancing melihat pukat harimau di dekat Sarang Alu,” kata seorang warga yang hobi memancing, Sabtu (22/4). Untuk mengelabui petugas pelaku menyaru sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkap ikan lukah (penjerat ikan). Praktek kotor nelayan yang disinyalir asal Sibolga, Sumatera Utara itu juga sulit dideteksi sebab beroperasi tengah malam. Sementara siangnya pura-pura mancing atau menjaring.

Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Perikanan (SDP) Dinas Perikanan Aceh Singkil, Chazali ST mengatakan, mengantisipasi kembali masuknya pukat harimau pihaknya melakukan patroli rutin. “Kami terus menggencarkan patroli rutin mencegah masuknya pukat harimau,” kata Chazali.

Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian tahun 2008 lalu terumbu karang yang menjadi tempat berkembang biaknya ikan di laut Aceh Singkil mengalami keruskan hingga 75 persen. Kerusakan tersebut akibat pukat trawl (harimau), bom ikan, potasium sianida dan pengambilan trumbu karang untuk bahan bangunan.

“Mungkin saat ini kerusakan lebih besar. Oleh karenanya penegakan hukum terhadap pelaku harus dibarengi dengan pembuatan trumbu karang buatan serta jangka pendek membuat rumah ikan,” ujar Chazali.

Bahaya Trawl
Penggunaan trawl sangat berbahaya karena semua ikan (dewasa maupun kecil) ikut terjaring karena ukuran lubang jalanya sangat kecil jika dibandingkan dengan jaring yang dipakai oleh nelayan tradisional. Trawl juga merusak lingkungan bawah laut, merusak terumbu karang dan rumput laut sebagai habitat tempat ikan dan hewan air lainnya mencari makan dan berlindung.

Hal ini dikarenakan trawl dilengkapi dengan alat tangkap berat plus jaring yang beratnya beberapa ton, kemudian diletakkan di dasar laut dan ditarik oleh kapal dengan cepat sehingga membuat lubang galian sepanjang bagian bawah dasar laut dan menyebabkan batu besar atau batu karang akan terseret secara bersamaan.(*/de) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id