Asyiknya ‘Tour of Japan’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Asyiknya ‘Tour of Japan’

Asyiknya ‘Tour of Japan’
Foto Asyiknya ‘Tour of Japan’

ROSI MALIA SH MM, Ketua DPC Iwapi Kota Banda Aceh, melaporkan dari Tokyo, Jepang

JAKARTA-Tokyo, ibu kota Jepang, dapat ditempuh dalam tujuh jam perjalanan naik pesawat udara. Penerbangan yang tak terlalu melelahkan. Jadi, dari Bandara Haneda kami berlima (tiga pengusaha, satu profesional, dan satu fotografer) langsung menuju kota dan menginap dua malam di Tokyo.

Esoknya, kami lanjutkan perjalanan dengan Shinkansen (kereta api supercepat), naik dari Rail Station Haneda menuju Sinagawa, lalu menyambung perjalanan ke Shinjuku. Di sini kami stay di Hotel Keio Plaza yang berada di tengah Kota Shinjuku.

Udara masih sangat sejuk pagi itu dan terlihat bunga sakura mulai banyak berguguran di kota yang dipenuhi gedung pencakar langit ini.

Meski Jepang penghasil mobil terbanyak di dunia, tapi yang ramai terlihat di jalanan adalah orang-orang yang berjalan kaki, jarang naik mobil. Penumpang Shinkansen justru ramai. Ini karena Jepang telah menciptakan transportasi bawah tanah supercepat dan tepat untuk mendukung masyarakatnya dalam melakoni pekerjaan secara efisien dan tepat waktu. Tiket Shinkansen dari Haneda ke Shinjuku dapat dibeli dengan harga ¥680, kurang lebih Rp 83.000.

Tapi makanan halal memang susah didapat di sini. Untungnya ada sushi yang bisa dilahap tanpa banyak pikiran negatif tentang apa yang terdapat di dalamnya. Harga makanan di sini memang tidak murah. Dengan harga ¥2.000-3.000 per porsi baru kita bisa makan enak.

Selama dua hari di Shinjuku kami hanya makan nasi legit plus rendang dan teri kacang sambal lado. Ini semata-mata untuk memastikan apa yang kami makan halalan thayiban, tak jadi mudarat bagi tubuh.

Kami sangat terkesan dengan keramahtamahan orang-orang Jepang yang selalu mengucapkan arigatou gozaimasu (terima kasih) sambil membungkukkan badannya di mana pun mereka berada.

Kami juga sempat mengunjungi Disneyland Tokyo yang sangat indah serta tertata rapi. Kami keliling Disney, pusat permainan dan perbelanjaan. Jarak Shinjuku ke Disneyland cuma 30 menit dengan tarif ¥10.000 IDR = 1.000.000.

Esoknya kami lanjutkan perjalanan ke Gunung Fuji yang terkenal. Saat menuju Mount Fuji ini kami gunakan car rent limousin yang tarifnya ¥40.000, setara dengan 4.960.000 dalam kurs rupiah.

Waktu tempuhnya 2,5 jam. Akhirnya, kami sampai ke Mount Fuji, dapat melihat dengan jelas Gunung Fuji yang puncaknya dibalut salju abadi. Namun, sakura di sana belum mekar. Baru akan mekar dua pekan lagi.

Selain keindahan Gunung Fuji di Fujima tersebut terdapat outlet yang terkenal dan besar, selalu diserbu banyak wisatawan, bernama Gotemba. Waktu tempuh dari Mount Fuji ke Gotemba hanya 1,5 jam naik bus. Harga tiket per orang ke Gotemba adalah ¥2.000.

Jadwal bus trayek Gotemba juga sangat teratur. Tapi kita tak boleh lalai, sebab akan ditinggal bus, baik saat pergi maupun pulang.

Setelah bermalam di Mount Fuji, esoknya kami lanjutkan ke Kyoto, kota tua di Jepang. Di sini masih banyak ditemukan pria, wanita, dan anak-anak yang memakai pakaian tradisional Jepang, kimono.

Bahkan yang paling menarik kami inap di hotel tradisional. Tidurnya di lantai, hanya beralaskan kasur dan selimut tebal. Tapi di dalam kamar tersebut tak terdapat kamar mandi, melainkan hanya tersedia toilet. Begitu kagetnya sehingga kami bertanya: Di mana kami harus mandi?

Akhirnya, resepsionis memberi tahu bahwa mandinya di basement bersama-sama. Hah? Ternyata perempuan mandi dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki, tapi harus naked. Kaget juga mendengarnya. Tapi, ini pengalaman unik. Begitulah tradisi di Jepang tempo doeloe. Walau negara mereka kini maju, tapi tradisi/budaya mereka tidak mereka hilangkan, justru menjadi daya tarik wisata. Keren, top Jepang.

Setelah bermalam di Kyoto kami lanjutkan perjalanan ke Osaka. Ini kota metropolitan ketiga di Jepang. Di Osaka tidak banyak yang menggunakan kimono, karena sudah modern.

Malam di Osaka jalanannya tak terlalu padat, namun pusat perbelanjaan dan pangkalan cafe serta resto-resto ramai oleh pengunjung. Suasana di Osaka nyaman dan tak ada macetnya.

Kota-kota di Jepang sangat bersih dan teratur. Tidak satu pun toilet umumnya yang jorok. Di Jepang, khusus Osaka, toiletnya selalu bersih serta semua toilet tinggal pencet. Nggak pakai muter-muter tombol. Semua memakai teknologi canggih. Kami jadi cemburu melihatnya, karena negara kita masih jauh tertinggal. Pemerintah Jepang punya komitmen. Begitu juga masyarakatnya yang pekerja keras serta sangat serius. Mereka sangat siap. Saya bangga menjadi salah satu keturunan mereka, karena orang Jepang sangat konsisten. Maka negara mereka menjadi maju dan superpower.

Dari Osaka kami lanjut ke Tokyo yang waktu tempunya hanya 45 menit dengan kereta. Tokyo adalah kota metropolis pertama di Jepang. Semuanya serbamodern, mobil-mobil mewah bertebaran di jalan, dan cara berpakaian pun sudah modern. Semua infrastruktur tertata rapi, mulai dari tempat parkir, jalan tol, rel kereta, taman bermain, perkantoran, perumahan, air, listrik, sekolah, mal, hingga kafe. Pendeknya, tour of Japan kami selama seminggu, asyik banget.

Jarang ada penganggur di sini. Semua masyarakat Jepang sangat patuh pada rule yang digariskan pemerintah, karena pemerintah pun hadir memberikan fasilitas yang lengkap untuk dimanfaatkan warganya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id