Israk Mikraj, Spirit Kepemimpinan Aceh Baru | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Israk Mikraj, Spirit Kepemimpinan Aceh Baru

Israk Mikraj, Spirit Kepemimpinan Aceh Baru
Foto Israk Mikraj, Spirit Kepemimpinan Aceh Baru

Oleh Adnan

ISRAK Mikraj merupakan satu peristiwa sejarah mahadahsyat dalam perjalanan kerasulan Nabi Muhammad saw. Yakni sebuah perjalanan yang sarat dengan makna spritualitas, sainstis, dan kepemimpinan. Sebab, perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Israk) dan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha (Mikraj) yang ditempuh dalam sepertiga malam (QS. Al-Isra: 1), belum pernah dialami oleh para rasul sebelumnya. Peristiwa sejarah mahadahsyat ini diyakini terjadi pada 27 Rajab 621 M.

Karena itu, setiap 27 Rajab umat Islam melakukan refleksi dan kontemplasi untuk mengambil ‘ibrah baik yang tersurat maupun tersirat dalam peristiwa Israk Mikraj ini. Sebab Israk Mikraj merupakan peristiwa sarat makna yang dapat menjadi acuan dan referensi bagi perjalanan kemanusiaan setelahnya. Apalagi satu kado terindah dalam peristiwa tersebut, yaitu perintah wajib melaksanakan shalat lima waktu. Yakni ibadah yang selalu menjadi rutinitas umat Islam saat ini di sela-sela aktivitas rutin.

Satu yang tidak kalah menarik dalam refleksi Israk Mikraj adalah meneropong soal kepemimpinan. Apalagi pada Juni 2017 mendatang, Aceh akan segera memiliki nakhoda baru dalam menentukan arah pembangunan dan pemajuan Aceh ke depan. Maka Israk Mikraj sangat releven dikaji dalam konteks kepemimpinan Aceh baru. Sehingga makna-makna yang tersurat dan tersirat dalam Israk Mikraj dapat menjadi spirit pemimpin dalam membangun dan memajukan Aceh ke depan.

Beberapa spirit
Beberapa spirit yang dapat dipetik dari peristiwa Israk Mikraj, yakni: Pertama, penyucian jiwa (tazkiyatun nufus). Dikisahkan sebelum Nabi Muhammad saw mengikuti seluruh rangkaian Israk Mikraj, beliau terlebih dulu dibedah dadanya oleh Malaikat Jibril. Prosesi pembedahan dada ini untuk mengambil dan menghilangkan kotoran-kotoran batin, lalu disucikan dengan Air Zam-zam, kemudian diganti dengan ilmu dan hikmah. Ini merupakan rangkaian awal yang harus didahului oleh Nabi Muhammad saw sebelum melanjutkan rangkaian selanjutnya. Ini menunjukkan penyucian jiwa merupakan satu indikator penting dalam menghadap Allah Swt.

Sebab itu, pada proses ini memberikan refleksi konkret bahwa hendaknya kita menjadi manusia yang bersih jiwa. Bersih jiwa merupakan syarat utama untuk mengharmonisasi hubungan ketuhanan dan kemanusiaan. Dalam konteks kepemimpinan, kesucian jiwa harus dimiliki oleh pemimpin Aceh baru dalam menjalankan roda pemerintahan. Artinya, untuk menjadi pelayan seluruh rakyat Aceh diperlukan kebeningan hati pemimpin, sehingga mampu menentukan dan memutuskan program-program pro-rakyat Aceh, bukan pro-pribadi dan keluarga serta golongan semata.

Karena tatkala pemimpin baru Aceh telah meninggalkan seluruh materi dunia (zuhud) dalam kepemimpinan. Sungguh ia tidak akan tergoda dengan materi yang bukan haknya. Ia mampu memetakan antara hak pribadi, keluarga, dan golongan, dengan hak rakyat Aceh. Ia mampu memilah dan memilih kepentingan yang bersifat pribadi dan publik. Bahkan ia bekerja di atas kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan. Sehingga roda pemerintahan yang dipimpinnya dapat memberikan kontribusi penuh dalam pembangunan dan pemajuan Aceh dalam masa kepemimpinannya.

Tapi, jika pemimpin masih sibuk dengan keuntungan proyek bagi pribadi, sibuk mengurusi dana aspirasi hingga melupakan aspirasi, sibuk mengkalkulasi keuntungan yang harus dimiliki selama kepemimpinannnya, hingga terjerumus pada perilaku nista dan hina, semisal korupsi. Ini satu indikator bahwa jiwa para pemimpin masih kotor. Dan, Israk Mikraj harus menjadi spirit dalam penyucian jiwa sebelum tampuk kepemimpinan diserahkan kepada mereka. Karena itu, Israk Mikraj memberikan refleksi kesucian jiwa bagi para pemimpin Aceh ke depan dalam mewujudkan pembangunan dan pemajuan Aceh.

Kedua, punya integritas. Dikisahkan dalam perjalanan israk mikraj Nabi Muhammad Saw menerima tawaran dua jenis minuman, yakni susu dan arak, dan beliau memilih susu. Beliau memilih susu memberikan filosofi bahwa orientasi kehidupan umatnya akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah Swt dan RasulNya. Tapi, apabila beliau memilih arak, maka sungguh umatnya akan disorientasi dalam kehidupan mereka, yakni hanya terlena dan mabuk dengan gemerlapnya dunia.

Bahkan dalam Durratun Nashihin diungkapkan bahwa sedang dalam perjalanan Israk Mikraj, beliau mendengar suara yang memanggil-manggilnya, baik dari sisi kanan maupun kiri. Panggilan dari sisi kanan bermakna provokasi Yahudi, dan dari sisi kiri bermakna provokasi Nasrani. Ketika itu, Nabi Muhammad saw tidak sekalipun menghiraukan panggilan tersebut. Sebab, jika beliau menghiraukan panggilan itu, sungguh umatnya akan mudah terprovokasi dan condong kepada Yahudi dan Nasrani. Selain itu, beliau juga mendapatkan berbagai panggilan yang bersifat materialisme, sekularisme, dan liberalisme.

Dua kisah ini menunjukkan integritas yang dimiliki Nabi Muhammad saw dalam perjalanan Israk Mikraj. Dalam konteks kepemimpinan, integritas hal penting yang harus dimiliki oleh pemimpin. Sebab, ketika pemimpin tidak memiliki integritas akan mudah tersulut untuk berperilaku destruktif dan amoral, semisal korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sepintar apapun seseorang, ketika tidak memiliki integritas ia akan mudah terjerumus pada perilaku negatif. Karena itu, integritas harus dimiliki oleh para pemimpin Aceh baru ke depan, agar masa kepemimpinannya terjaga dari perilaku-perilaku tercela.

Ketiga, punya kepekaan dan kepedulian. Pada peristiwa Israk Mikraj juga diriwayatkan adanya negosiasi jumlah waktu shalat oleh Nabi Muhammad saw dengan Allah Swt. Awalnya, shalat diwajibkan 50 waktu, lalu terjadilah proses “negosiasi” yang diinisiasi oleh Nabi Musa as, sehingga kewajiban shalat menjadi 5 waktu. Tapi, walaupun hanya 5 waktu, pahalanya sama seperti melaksanakan shalat 50 waktu. Proses “negosiasi” ini menunjukkan adanya keinginan Nabi Muhammad saw untuk meringankan beban yang akan dipikul oleh umatnya. Sebab, umat pasti sangat kesulitan untuk melaksanakan perintah shalat 50 waktu.

Inilah spirit yang harus dimiliki oleh pemimpin Aceh baru ke depan. Yakni harus berusaha untuk meringankan beban yang sedang dihadapi rakyat Aceh saat ini. Bukankah Aceh saat ini sedang diliputi oleh berbagai persoalan fundamental, semisal persoalan listrik dan kemiskinan. Jika pemimpin tidak ada kepekaan dan kepedulian untuk menyelesaikan dua persoalan itu, sungguh rakyat Aceh akan terus merana dan menderita. Dan, ini menunjukkan bahwa buah dari MoU Helsinky belum dinikmati oleh seluruh rakyat Aceh.

Keempat, pembangunan berbasis kebersamaan. Dalam sejarah dicatat hanya beberapa lama berselang peristiwa Israk Mikraj, lalu Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Hingga mampu menjadikan Madinah sebagai wilayah yang berperadaban. Di Madinah Nabi Muhammad saw mampu mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang Mekkah) dan Anshar (pribumi Madinah), serta mampu menyatukan berbagai kabilah tanpa kecuali Yahudi dan Nasrani. Penduduk Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhamamd saw hidup sangat toleran walaupun berbeda etnis, suku, dan keyakinan.

Sebab itu, Israk Mikraj memberikan spirit kepada pemimpin Aceh baru bahwa Aceh akan maju jika sang pemimpin mampu menyatukan seluruh komponen rakyat Aceh. Karena rakyat Aceh merupakan rakyat yang homogen, terdiri dari berbagai sifat, watak, jenis, suku, partai politik, organisasi, pemahaman keagamaan, dan lainnya. Maka homogenitas ini harus menjadi energi dalam pembangunan dan pemajuan Aceh ke depan. Artinya, kemajuan hanya akan diperoleh dengan semangat kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan. Semoga!

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh. Email: [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id