Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)
Foto Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

Oleh Mukhtaruddin Yacob

DALAM dua bulan terakhir, pengelola pendidikan di Indonesia sibuk menyelesaikan program evaluasi Ujian Nasional (UN). Jika UN SMK sudah selesai, UN SMA/Madrasah Aliyah (MA) baru saja tuntas. Tak lama lagi, UN tingkat SLTP pun akan digelar.

Meskipun target pemerintah memberlakukan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tuntas pada 2017, kenyataannya, masih banyak sekolah yang harus bergelut dengan Ujian-Nasional Berbasis Kertas dan Pinsil atau (UBKP). Persoalan insfrastruktur seperti jaringan internet, perangkat komputer sampai sumber daya IT sesuatu yang tidak bisa dielakkan.

Terlepas dari masalah teknis, ada satu pesan yang akan dicapai pada UN tahun ini. UNBK sering saya analogikan sebagai UN Berbasis Kejujuran adalah tujuan berat yang harus diperjuangkan. Memang, tidak mudah mencapai integritas atau kejujuran pada saat ini. Karena jujur dianggap aneh.

Pada UNBK seharusnya bisa diraih unsur kejujuran. Selain tak bisa menyontek atau dapat bantuan darurat, UNBK dilatih untuk bisa belajar keras agar bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal. Sayang, tak semua rencana ini bisa berjalan mulus.

Percaya diri
Filosofi “UNBK” sejatinya mendapatkan generasi berintegritas sebagai sebuah variabel mengembalikan kualitas bangsa yang mandiri dan percaya diri. Penanaman nilai integritas bagian dari pengembangan karakter bangsa pada nilai moral yang terpuji.

UNBK sebagai wacana Uji Kejujuran akan bermakna jika disertai keteladanan. Karena saat ini, contoh baik sangat banyak dan bertaburan pada teori yang ditulis oleh banyak orang. Sebaliknya, keteladanan sangat sulit ditemui karena sebagian dari mereka berbicara pada teori bukan aplikasi.

Wajar jika pada tokoh bangsa tempo doeloe mengedepankan pada pendidikan karakter lewat berbagai cara, di antaranya melalui lirik lagu yang ditempuh Ibu Sud. “Pergi Belajar” satu dari banyak lagu anak-anak zaman dulu yang mencerdaskan, sekaligus membanggakan seperti lirik berikut: Oh, ibu dan ayah, selamat pagi// Kupergi sekolah sampai kan nanti// Ibu dan ayah/ Selamat belajar nak penuh semangat// Rajinlah selalu tentu kau dapat// Hormati gurumu sayangi teman// Itulah tandanya kau murid budiman.

Lirik lagu Pergi Belajar karya Ibu Sud itu, kini tinggal kenangan. Lagu anak-anak penuh kesan dan pesan tak lagi bisa ditemui zaman sekarang. Lagu ini pun hanya dinyanyikan pada even tertentu untuk mengenang guru dan menyemangati siswa. Selebihnya tinggal kenangan seiring meninggalkan sang pencipta.
Takzim keu guree meuteume ijazah. Takzim keu Allah meurumok syuruga (Hormat/berbakti kepada guru mendapat ijazah. Berbakti kepada Allah mendapat surga).

Dalam terminologi Aceh juga dikenal ungkapan lokal. Dua ungkapan di atas menjadi kunci bagi masyarakat Aceh dulu dalam mendidik anak-anaknya di rumah, lingkungan, dan sekolah. Begitu pentingnya seseorang menghormati guru (guree) karena jasa tanpa pamrihnya. Takzim atau patuh kepada guru ditempatkan pada bagian tak terpisahkan dari takzim atau patuh kepada Tuhan.

Kearifan lokal yang dikenal dalam hadih maja ini bisa menjadi strategi sosial dan kultural dalam menggembleng anak-anaknya. Kata-kata nasihat berlatar belakang agama menjadi kunci kesuksesan para orangtua menanamkan sikap hormat dan patuh kepada mereka. Upaya menanamkan kesadaran melalui kearifan lokal dan pendekatan religius melahirkan penghormatan yang tulus dan ikhlas terhadap para guru dan guree di Aceh.

Pola asuhan yang diterapkan masyarakat dalam bingkai agama Islam akan melahirkan generasi tenggang rasa, saling menghargai dan hormat kepada para orangtua, guru, dan sayang kepada sesama. Pendekatan agama memang teruji mampu menjauhkan generasi ini dari egois, apatis, dan putus asa. Pendekatan ini juga yang mulai ditinggalkan masyarakat karena pengaruh globalisasi.

Menularkan keteladanan
Peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” adalah sebuah renungan bagi sang pendidik. Jika gurunya saja tidak bisa menunjukkan perilaku terpuji, bagaimana pula dengan anak didiknya? Maka, siapa saja mungkin bisa jadi guru, tapi tidak semua orang siap jadi guru. Karena menjadi guru bukan hanya bisa menggurui, tapi juga bisa menularkan keteladanan.

Tak ada salahnya meniru pola yang dijalankan para guru zaman dulu. Karena memahami karakter anak didik masing-masing, maka upaya mendidiknya pun beragam. Sering kita mendengar para anak didiknya diminta berdiri di depan kelas, karena melakukan kesalahan –misalnya datang terlambat atau tidak menyelesaikan tugas. Tapi, tidak ada yang mempersoalkan peraturan ini.

Pola pendidikan yang menjurus keras memang bukan masanya lagi. Karena perubahan zaman tanpa kekerasan adalah bagian yang ideal HAM. Yang diharapkan saat ini bagaimana melahirkan generasi cerdas dan bertanngungjawab serta jujur.

Jika “UNBK” versi sosial sudah bisa dijalankan, maka tak perlu lagi ada polisi yang mengawal, atau pengawas yang menghantui, karena nilai kejujuran sudah teruji. Maka, filosofi UNBK tak hanya pada teori, karena semua warga Indonesia harus menjalani UNBK yang sesungguhnya. Ujian Nasional Berbasis Kejujuran atau ujian pada semua sendi kehidupan. Jika ini terwujud tak serangan terhadap Novel Baswedan atau KPK –lembaga yang dianggap pihak tertentu sebagai ancaman.

Mukhtaruddin Yacob, jurnalis TV dan pengasuh Tabloid Kiprah Pendidikan Aceh. Email: [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id