Kelingking | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kelingking

Kelingking
Foto Kelingking

Cerpen Firdaus Yusuf

PULUHAN tahun telah berlalu, tetapi tinta ungu pada jari kelingking Samsul
bin Ridwan tak juga bisa hilang. Ia sudah mencoba untuk menghapusnya
dengan pelbagai cara: menggunakan abu gosok, pasir dari gurun di Arab
yang ia pesan pada sanak saudaranya yang menunaikan ibadah haji, hingga
memasukkan jari tersebut ke dalam anusnya selama dua menit (sebagaimana
yang dianjurkan oleh orang pintar yang didatanginya bertahun-tahun
silam). Namun, tinta ungu itu tak bisa juga lenyap.

Samsul bin Ridwan, pria yang memiliki tubuh tembun dan pendek,
menatap jari itu dengan hati tersayat. Pada jari itu, seperti yang kerap terjadi
pada waktu-waktu tertentu selama puluhan tahun terakhir, ia melihat bilik
suara yang kosong dan ia juga mendengar getaran kotak suara.

“Uang,” kata Samsul bin Ridwan. “Bisa membuat seekor keledai bisa
bicara dan memiliki suara yang sama seperti suara manusia! Dan semua
orang akan mengiyakan” Ia menatap jari itu dengan tatapan
nanar. Kawanan lembu melintas di jalan setapak yang membujur di depan
rumahnya. “Uang juga bisa buat orang percaya, bahwa manusia diciptakan
bukan dari tanah melainkan dari tai
lembu,” kata dia.

Kemudian dia terkekeh sendiri. Tak tahan dengan kecamuk di dalam pikirannya, Samsul bin Ridwan bangkit dari tempat duduknya di balai bambu yang berhadapan dengan pohon jambu. Seraya membenarkan letak kain sarungnya, ia melangkah ke
dalam rumah. Begitu sampai di dapur, selama beberapa saat ia menatap meja
makan dengan gambar burung merak di tengahnya,.

Meja makan yang ia beli dengan jari ungunya. Ia menoleh ke arah lemari yang juga ia beli dengan jari ungunya. Sejurus kemudian, ia menghela napas panjang. Dibuangnya
pandangan keluar jendela. Di depan jendela, ada pohon nangka yang tumbuh sejengkal dari pagar rumahnya.

Agak jauh ke depan, ada sepetak ladang yang juga ia beli dengan jari ungunya. Tak lama kemudian, ia mengambil pisau dari dalam laci lemari di dapur. Ia genggam gagang pisau itu erat-erat. Lalu, ia memejamkan matanya yang cekung itu, dan ia
letakkan sisi mata pisau pada bagian tengah jari kelingkingnya. Saat itu, ia membayangkan dirinya sedang mengiris cabai kering.

Darah mengucur dari jari kelingkingnya. Sedikit terciprat pada singlet putih yang membungkus tubuh pria berkulit sawo matang, yang mulai
tampak keriput. Potongan jari kelingking Samsul bin Ridwan serupa ekor cicak yang lepas dari raga. Bergerak ke sana-sini selama beberapa detik. Lalu diam di
lantai.

Ia menarik kursi rotan di meja makan, duduk di sana sambil menengadahkan
kepala. Ia memicingkan mata dan mendesis. Sebentar kemudian ia bangkit, mengambil ember hitam di kamar mandi, mengambil rokok di
kamar tidurnya, lalu duduk kembali di tempat semula. Ia letakkan ember di depannya
dan ia julurkan tangannya tepat di atas ember itu setelah terlebih dahulu menyulut rokok.

Dengan napas terengah-engah, dalam hatinya ia terus menghitung tiap tetesan
darah yang jatuh ke dalam ember tersebut. Seekor kucing mengendus potongan
jari kelingking Samsul bin Ridwan yang tergeletak di lantai. Kucing itu menggigit potongan jari Samsul bin Ridwan. Kala ia menghampiri letak ember di atas kursi, kucing itu menyenggol asbak rokok yang penuh puntung rokok. Kucing kurus, dengan
bulu yang nyaris terkelupas pada semua bagian tubuhnya itu, melepaskan
gigitannya. Seisi ember menjadi ungu.

* Firdaus Yusuf, cerpenis ini
menetap di kota Sigli. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id