‘Kandang’ Lembu Sepanjang Jalan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Kandang’ Lembu Sepanjang Jalan

‘Kandang’ Lembu Sepanjang Jalan
Foto ‘Kandang’ Lembu Sepanjang Jalan

SUDAH tak terhitung lagi jumlah korban cedera bahkan meninggal dunia akibat menabrak kawanan ternak (lembu dan kerbau) di jalan yang seharusnya bebas hambatan di berbagai wilayah Aceh. Kasus terbanyak dilaporkan terjadi di lintasan utama barat selatan dan timur utara Aceh.

Di Jalan Nasional Banda Aceh-Meulaboh, kecelakaan antara pengguna jalan yang mengendarai mobil maupun sepeda motor tak pernah sepi. Ruas jalan antara Banda Aceh-Calang yang dibangun USAID (bertaraf internasional) ternyata tak kunjung bebas dari ternak berkeliaran. Di sepanjang jalur tersebut banyak rambu-rambu yang mengingatkan agar berhati-hati karena ada ternak. Begitu juga ruas jalan antara Calang-Meulaboh yang dibangun Jepang/JICA, tak kalah rawan dari ternak yang ‘berkandang’ di badan jalan.

Selain di lintasan barat selatan Aceh, kawanan ternak yang bergorombolan di jalan raya juga sangat mengganggu pengguna jalan di jalur timur utara, dengan titik-titik rawan tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke Aceh Timur. Kasus terbaru yang begitu tragis, merenggut dua nyawa ibu dan anak di Jalan Nasional Banda Aceh-Medan, kawasan Lamtamot, Aceh Besar juga berawal karena tabrakan dengan kawanan lembu.

Ketika berita kecelakaan yang merenggut nyawa Islami (19) dan ibundanya, Salamah (46) di kawasan Lembah Seulawah, Kamis (13/4) sore, berbagai tanggapan bernada pilu disampaikan melalui media sosial. Umumnya sangat menyesalkan kenapa hingga saat ini pemerintah kabupaten/kota belum mampu membebaskan jalan umum dari ‘kandang’ ternak.

Para netizen mempertanyakan siapa yang bertanggungjawab ketika terjadi musibah kecelakaan–bahkan merenggut nyawa–akibat menabrak kawanan ternak yang berkeliaran di jalan raya. “Negeri ini seperti tak punya pemimpin dan aparatur yang mampu menertibkan ganguan-gangguan seperti ini. Ketika terjadi musibah, semua bungkam. Nyawa orang tak dianggap sama sekali,” kata seorang warga Banda Aceh menanggapi berita kecelakaan yang merenggut dua nyawa di Lembah Seulawah.

Sejumlah warga lainnya menantang para ‘penguasa’ di sejumlah kawasan rawan gangguan ternak agar berani mengeluarkan peraturan yang berpihak kepada korban, misalnya menjatuhkan sanksi berat kepada pemilik ternak untuk mempertanggungjawabkan kelalaian mereka dalam mengurus hewan piaraan. “Kepala daerah harus mengeluarkan peraturan yang tegas, jangan diam saja padahal jalan di wilayah mereka sudah menjadi kandang ternak,” timpal Rizaldi Yusuf, warga Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh yang mengaku pernah menjadi korban tabrakan dengan kawanan lembu di kawasan Lhoong, Aceh Besar sekitar dua tahun lalu.(nas) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id