G20, Petani Kopi Gayo dan Patrocinio | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

G20, Petani Kopi Gayo dan Patrocinio

G20, Petani Kopi Gayo dan Patrocinio
Foto G20, Petani Kopi Gayo dan Patrocinio

Oleh Ahmad Humam Hamid

MENGAITKAN G20 dengan petani kopi Gayo tampak di permukaan seperti menyambung bumi dan langit, apalagi ketika ada kata Patrocinio, sebuah kawasan penghasil kopi Arabika terbaik di Brazil. Tetapi memang demikianlah adanya. Keputusan-keputusan penting yang diambil oleh aktor global, selalu saja memberi dampak tidak hanya kepada kawasan nasional, tetapi juga merambah sampai ke pelosok lokal sekalipun. Itulah yang terjadi pada awal minggu ketiga Maret ketika para petinggi keuangan 20 raksasa ekonomi dunia-G20 bertemu di Baden-Baden, Jerman. Tujuan pertemuan itu adalah mempersiapkan draft untuk pertemuan tingkat tinggi para kepala negara G20 di Hamburg, Jerman pada Juli tahun ini.

Ada beberapa draft kesepakatan awal yang disetujui, tetapi yang paling relevan untuk dunia dan kita adalah ketika Amerika Serikat “memaksa” para anggota G20 untuk serta-merta menghilangkan segala hal yang menyangkut dengan isu pemanasan global dalam draft komunike yang akan ditulis. Kecuali Arab Saudi, seluruh delegasi lain kecewa namun berupaya menahan diri, karena mereka berhadapan dengan pemerintahan baru AS di bawah Trump, yang sejak masa kempanye telah mengatakan bahwa isu pemanasan global adalah hoax, isu palsu yang dibuat oleh Cina untuk menghancurkan ekonomi AS.

Penunjukan Scott Pruit sebagai kepala Badan Pelindungan Lingkungan (EPA) adalah awal dari perang terhadap kepedulian untuk pemanasan global. Ia tidak percaya dan anti kampanye pemanasan global. Tidak hanya berhenti disitu, perhatian AS terhadap pengembangan energi terbarukan juga mulai ditinggalkan. Pada tingkatan global-G20, pemerintah AS di bawah presiden Trump kini sedang memelopori pelecehan terhadap fakta dan logika ilmiah tentang fenomena pemanasan global dan dampak yang paling menakutkan dalam sejarah umat manusia.

Kopi Arabika
Dua kawasan kecil di Asia dan Amerika Latin, Gayo dan Patrocinio sesungguhnya tidak punya hubungan apa-apa, kecuali keduanya terletak lintas khatulistiwa, agroklimat yang relatif sama, dan, mayoritas penduduknya juga bermata pencarian yang sama. Gayo terletak di pergunugan Bukit Barisan di Provinsi Aceh, Indonesia, sedangkan Patrocinio adalah sebuah keresidenan di negara bagian Minas Gerais, Brazil. Hanya satu kata yang dapat mengikat keduanya, kopi Arabika.

Sama halnya dengan banyak kawasan penghasil Arabika lain di dunia, masa depan Gayo dan Patriciano setelah pertemuan G20 Baden-Baden menjadi sangat tidak menentu. Skenario penjinakan pemanasan global pada beberapa pertemuan G20 sebelumnya, dan bahkan istilah “pemanasan global” kini telah dihapuskan. Ini artinya, sejumlah “kiamat kecil” yang pernah dibicarakan dan telah terjadi, kini semakin berpotensi untuk menjadi “kiamat besar” pada tingkat kawasan dan global sekalipun.

Dampak pemanasan global cukup panjang dan banyak untuk diuraikan. Dampak untuk kopi Arabika saja membutuhkan ribuan halaman untuk dituliskan. Namun dampak awal itu telah mulai dirasakan oleh petani kopi Arabika. Meminjam kearifan lokal petani kopi di kawasan pedalaman Gayo, kopi Arabika membutuhkan “tidak terlalu” untuk empat perkara; panas, dingin, kering, dan lembab.

Tahun-tahun terakhir ini keempat “tidak terlalu” itu mulai terganggu di hampir seluruh negara penghasil kopi Arabika. Sebabnya? Empat “tidak terlalu” itu sudah mulai terganggu. Pemanasan global telah menimbulkan cuaca dan iklim lokal ekstrem. Perubahan suhu yang tiba-tiba menjadi sangat panas dan dingin. Perubahan iklim dari sangat kering ke sangat lembab, sementara kemarau dan hujan yang dulunya bagian normal dari kehidupan, kini telah bergeser dan telah mengalami perobahan yang sangat besar. Hama, penyakit dan kecocokan produksi kini semakin mengancam.

Gangguan produksi kopi Arabika akibat pemanasan global telah mulai memakan korban. Pada 2014 misalnya, seperlima produksi kopi Arabika Brazil hilang akibat kekeringan yang parah. Kerugian petani Ethopia –tempat asal Arabika– kini semakin terasa, karena negara ini mengalami kekeringan terparah dalam 60 tahun terakhir. Akibat pemanasan suhu, tanaman kopi Arabika di negara-negara Amerika Tengah seperti Guatemala dan Costa Rica terkena penyakit karat daun dan menyebabkan kehilangan 1,7 juta pekerjaan yang berhubungan dengan kopi.

Di Tanzania, produksi kopi Arabika turun 50% dalam tahun-tahun terakhir ini, dan bahkan di satu kawasan sentra produksi lereng gunung Kilimanjaro, akibat kenaikan suhu, sebagian petani kopi telah mengganti kopi Arabika dengan tanaman lain. Untuk kawasan ini diperhitungkan, setiap kenaikan suhu satu derajat Celcius akan terjadi pengurangan produksi antara 14-17% per hektare.

Kopi adalah komoditi kedua terbesar nilainya yang diperdagangkan secara global setelah minyak bumi. Tahun lalu nilai perdagangannya 19 miliar dolar yang dihasilkan oleh 26 juta keluarga petani di seluruh dunia. 70% Kopi dunia adalah Arabika dan 30% lainnya Robusta. Saat ini, lebih dari dua miliar gelas kopi diminum setiap hari di berbagai belahan bumi, dan jenis Arabika adalah yang paling diminati.

Ancaman terhadap kelanjutan lebih dari dua miliar gelas kopi Arabika sehari kini sudah di depan mata, apalagi bila pertemuan G20 pada Juli mendatang di Hamburg, tidak ada anggota G20 yang punya nyali melawan Presiden Trump. Kalau itu yang terjadi, artinya segala hal yang menyangkut dengan upaya menjinakkan fenomena pemanasan global akan akan berbalik ke belakang. Semua orang boleh berbuat semaunya, karena para raksasa ekonomi dunia telah patuh kepada seorang manusia yang mengedepankan “kepentingan Amerika” di atas segalanya, paling kurang menurut pandangan Trump.

Akan hilang
Kalau pemanasan global terus terjadi tanpa ada pelambatan, maka pada 2050 diperkirakan seperdua produksi kopi dunia –utamanya Arabika– akan hilang. Seluruh kawasan kopi Arabika akan berkurang jumlah areal yang dapat ditanami, karena ketidakcocokan iklim. Sebuah kajian dari kelompok ahli Eropa dan Brazilia (Rivera et al 2015) memperkirakan pengurangan areal kopi Arabika akibat pemanasan gobal sampai 2050, meliputi Amerika Tengah 30%, Amerika Selatan antara 16-20%, di mana Brazil akan kehilangan 25%, dan Asia Pasific, yakni India, Cina, Vietnam, dan Laos, terutama Indonesia antara 21-37%. Hanya sedikit sekali kawasan kopi Arabika di Afrika yang mendapat sedikit manfaat dari perubahan iklim. Nyaris kawasan yang cocok tidak berubah dan bahkan dapat bertambah, terutama di Ethiopia, Burundi, Kenya, dan Rwanda.

Kita belum tahu pasti apakah nantinya Gayo dan Patrocinio masih ada dalam peta kawasan kopi Arabika dunia. Harga kopi Arabika akan sangat mahal tidak hanya nanti, juga segera di tahun-tahun mendatang. Sekalipun saat ini jumlah konsumen Robusta meningkat 7%, dan Arabika hanya 1%, yang pasti konsumen kopi akan terus bertambah. Generasi muda di dua negara besar yang ekonominya sedang naik daun, India dan Cina, kini sudah mulai minum kopi, mulai meninggalkan teh yang merupakan minuman Nasional mereka.

Pengalaman mencatat perpindahan konsumen dari Robusta ke Arabika terjadi seiiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan kemajuan. Kita bisa membayangkan berapa miliar gelas lagi kopi yang akan diminum di masa mendatang dan berapa harganya seandainya tingkat pertumbuhan ekonomi Cina dan India terus berlanjut seperti hari-hari ini? Sayangnya ketika itu terjadi produksi kopi Arabika dunia justru menurun drastis.

Angka resmi luas tanam kopi arabika di Insonesia sekitar 220.000 hektare, dan sekitar setengahnya ada di gayo. Yang paling penting dari, luas tersebut 40.000 hektare kopi Gayo masuk dalam kategori spesialti, julukan bangsawan untuk jenis kopi yang enak dan mahal.

Itu adalah kekayaaan Gayo, kekayaan Aceh, kekayaan Indonesia, dan bahkan kekayaan dunia yang luar biasa yang harus dipertahankan.

Kalau kekayaan itu ingin dipertahankan, apalagi dikaitkan dengan ancaman perubahan iklim ke depan, seharusnya masalah itu bukan saja masalah Gayo, tetapi menjadi masalah daerah, bahkan menjadi masalah nasional dan global. Segala penelitian yang mencakup dengan proses adaptasi agronomi kopi arabika terhadap perobahan iklim global harus dilakukan dengan segera dan terus menerus. Kalau hanya diserahkan kepada petani, mereka hanya punya dua pilihan. Mengganti kopi Arabika dengan tanaman lain, seperti lada, yang telah terjadi dengan sebagian petani di kecamatan Rime Pinto Gayo, Timang Gajah, dan Syiah Utama, atau membuka lahan baru ke kawasan yang lebih tinggi yang berpeluang besar untuk berhadapan dengan kawasan konservasi yang juga akan membuat kontroversi baru di daerah, nasional, dan internasional.

Interaksi global dan lokal saat ini sangat gampang dimengerti oleh siapapun, tanpa harus bersekolah. Kehidupan keluarga Aman Seman di kecamatan Bukit atau keluarga António Borges Santos di salah satu pojok keresidenan Patrocinio, Brazil, akan terkena dampak dari keputusan politik Trump, dan bahkan pemerintah Indonesia pun tak berdaya menghalanginya. Demikian juga sebaliknya. Siapa bilang petani kopi Gayo tidak ada urusan dengan Gedung Putih atau G20?

* Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, M.A., staf pengajar Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id