Abusyik dan Kopiah Merah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Abusyik dan Kopiah Merah

Abusyik dan Kopiah Merah
Foto Abusyik dan Kopiah Merah

RONI Ahmad sebetulnya belum punya cucu. Umurnya baru 40-an tahun. Namun, ayah 5 anak ini sudah dipanggil Abusyik (kakek), bahkan sejak belasan tahun yang lalu.

Julukan untuk pria yang pernah mengecap pendidikan militer di Libya ala GAM ini bukan kebetulan belaka. Sudah melewati pertimbangan yang matang hingga kenduri buleukat kuneng.

“Saat nama saya dipanggil Abusyik ketika konflik, ternyata lebih aman, tidak dikejar lagi aparat keamanan. Abusyik menggambarkan orang baik, orang bijak, karena sudah banyak makan asam-garam. Sebelumnya saya pernah dipanggil Si Greh, Ampon, Garnison, Muhammad Sufi, Botakcin, Tue-et, dan terakhir ya Abusyik,” kata Roni Ahmad kepada Serambi sambil tertawa, dalam sebuah wawancara khusus, Minggu pekan lalu di Posko Abusyik, Sigli.

Siang itu, Abusyik tampak bersahaja. Tampil dengan kemeja putih dan celana panjang serta kopiah merah. Sambil duduk bersila dan sesekali menyulut rokok dari daun nipah, pria bertubuh gempal ini menjelaskan panjang lebar ‘rahasia’ raihan suara terbanyak dalam Pilkada 2017. Dia ditemani wakilnya, Fadhlullah TM Daud.

Seperti diketahui, pasangan Abusyik yang maju melalui jalur independen meraih 96.184 suara atau 48 persen dari 199.580 suara sah. Sementara paslon nomor urut 3, H Sarjani Abdullah-M Iriawan meraih 91.511 atau 46 persen. Adapun paslon nomor urut 1, T Tarmiyus-Khalidin Daud memperoleh 11.885 suara atau 6 persen suara.

Dalam Pilkada 2017, Abusyik berpasangan dengan Fadhlullah TM Daud. Mereka menjadi satu-satunya pasangan calon di Aceh yang kini terpilih sebagai kepala daerah dari jalur independen.

Abusyik mengaku pada awalnya tidak ada sedikit pun keinginan maju sebagai calon Bupati Pidie. Namun, berbagai kalangan terus meminta dirinya mencalonkan diri. Padahal, Abusyik merasa belum siap. “Kalau saya lihat masyarakat selalu datang kepada Abusyik. Saya anak masyarakat biasa, petani. Hari-hari kerja Abusyik ke sawah, ke kebun. Saya memang tidak siap. Sampai hari ini saya tidak siap. Masyarakat yang meminta Abusyik maju,” katanya.

Hingga akhirnya, ia memutuskan maju dengan mempromosikan dirinya secara unik, yakni membuat kupiah mirah, sesuatu yang membedakan dirinya dengan kompetitor sekaligus menjadikan dirinya tampil beda. “Ada ratusan ribu kopiah merah yang saya produksi. Untuk pelantikan, rencananya saya cetak 4.000 lagi,” katanya.

Dipilihnya kopiah merah, kata Abusyik, lantaran warna ini juga merupakan simbol negara. “Kopiah merah dan baju putih, jangankan Abusyik, bapak presiden pun angkat tangan terhadap merah putih, kan? Hahaha,” kata Abusyik, tertawa lepas.

Abusyik mengaku tidaklah mudah mengalahkan incumbent. Dia pernah diadukan ke DKPP terkait SK KIP Pidie yang meloloskan pencalonan dirinya, dugaan ijazah palsu, hingga tuduhan penggunaan nomor induk kependudukan (NIK) ganda KTP miliknya.

Setelah bersidang, DKPP yang diketuai Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH akhirnya memutuskan ijazah Roni Ahmad sah secara hukum. Menurut DKPP, soal NIK ganda pun tidak terbukti. Pascaputusan dari lembaga yang dikhususkan untuk mengimbangi dan mengawasi (check and balance) kinerja dari KPU/KIP, Bawaslu, dan jajarannya ini, semakin menaikkan elektabilitas Abusyik. “Saya percaya itu semua atas kehendak Allah SWT. Kemenangan ini milik rakyat Pidie,” katanya.

Dia juga tidak ambil pusing memikirkan seperti apa nantinya pengesahan anggaran tanpa dukungan yang memadai di legislatif. Abusyik sadar bahwa politik itu dinamis. Semua hal bisa dibicarakan untuk kepentingan masyarakat. “Dewan itu wakil siapa. Wakil rakyat atau wakilnya parpol? Nah, anggaran itu milik siapa, untuk siapa. Ya, saya serahkan pada rakyat saja,” ujarnya, kembali tertawa lepas.

Disinggung program apa saja 100 hari pemerintahannya, Abusyik mengaku belum 100 hari pun ia sudah bekerja. “Kami panggil keuchik semua, orang tua gampong saya ajak bertukar pikiran,” katanya.

Masyarakat Pidie, kata Abusyik, ingin berubah. Yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan saja bisa membangun, melainkan adanya nilai-nilai kejujuran dan keikhlasan. Dia mengaku masih merahasiakan programnya. “Saya inginkan Pidie nantinya menjadi contoh bagi daerah lain. Ide ini jangan digembor-gembor dulu,” ujar Abusyik.(aya/sak) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id