Pemuda Aceh Wakili Brunei di Qatar Debate | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pemuda Aceh Wakili Brunei di Qatar Debate

Pemuda Aceh Wakili Brunei di Qatar Debate
Foto Pemuda Aceh Wakili Brunei di Qatar Debate

BANDA ACEH – Jufriadi bin Ramli (22), pemuda kelahiran Aceh Besar 1 Desember 1994 mewakili Brunei Darussalam pada International Universities Arabic Debating Championship (IUADC) Ke-4 di Qatar National Convention Center, Doha, Qatar selama 8-12 April 2017.

IUADC merupakan ajang debat berbahasa Arab yang diikuti 90 tim dari 47 negara di dunia. Jufri, panggilan akrabnya, merupakan mahasiswa semester 6 pada Jurusan Tafsir Hadis, Fakulti Ushuluddin, Islamic University Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam. Dia bersama tiga rekannya asal Brunei mewakili negara kaya minyak itu di ajang prestisius tersebut.

Kepada Serambi melalui layanan pesan WhatsApp, Minggu (9/4), Jufri menceritakan pengalamannya bertanding di negeri supermewah, Qatar.

“Alhamdulillah, saya dipercaya Pemerintah Brunei untuk ikut dalam ajang ini. IUADC merupakan debat internasional yang membahas isu ekonomi, politik, dan budaya di dunia,” ujar alumnus leting 13 di Madrasah Aliyah Swasta Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Aceh Besar

Di tim Brunei, Jufri dibantu rekan sekampusnya, Bahauddin bin Abu Bakar, Gita Afriyani, dan Siti Norafina.

Dikatakan, setiap tim yang tampil terdiri atas tiga peserta, sedangkan satu lagi cadangan. Untuk mencapai final, kata Jufri, setiap tim harus memenangi sebelas laga mulai dari lima pertandingan di penyisihan, tiga kali di babak 16 besar, dua kali di semifinal, dan pertandingan terakhir di final. Namun, perjuangan Jufri dan tiga rekannya harus terhenti di babak penyisihan, tepatnya di pertandingan kedua melawan Australia.

“Saya memang tidak yakin menang dalam kompetisi ini, sebab lawan kami merupakan penutur asli Arab. Kami pun harus kalah dari Australia dengan skor 1-2, sebab mereka memakai mahasiswa asli Palestina dan Syria,” ujar Jufri.

Namun, ia tetap bersyukur bisa mengikuti ajang tingkat dunia itu. Apalagi sebelumnya tim Brunei berhasil mengalahkan Maladewa.

Dia juga mengatakan, meskipun debat berlangsung dalam bahasa Arab, namun setiap peserta dilarang membawa dalil Alquran maupun hadis untuk memperkuat argumennya. “Sebab, ini debat internasional yang membahas persoalan dunia. Pesertanya dari Amerika, Kanada, bahkan Korea,” ujar Jufri.

Ia tambahkan, sebagaimana debat pada umumnya, ada tim pro dan kontra terhadap suatu isu. Setiap pembicara diberikan waktu tujuh menit untuk mempertahankan argumennya seputar isu yang telah ditentukan panitia. “Meskipun kalah di laga kedua, saya terpilih sebagai pembicara terbaik di tim Brunei Darussalam,” jelas dia.

Menurut Jufri, debat bahasa Arab di Qatar merupakan pengalaman yang patut disyukurinya. Selain menambah wawasan dan peningkatan bahasa Arabnya, debat melatih seseorang untuk bertanggung jawab atas masalah yang dihadapinya. “Debat melatih daya pikir bebas secara cepat dan meyakinkan banyak orang dengan bukti-bukti rasional,” kata dia.

Kepada Serambi, Jufri juga mengutarakan keinginannya ke depan untuk membentuk klub khusus debat di Aceh seperti di negara-negara lain. “Pemuda Aceh harus kuat dalam menghadapi permasalahan yang timbul, baik sifatnya agama maupun sosial budaya,” harapnya.

Putra Ramli bin Amin dan Irmawati ini juga menceritakan kesannya pertama kali menginjakkan kaki di Qatar.

Menurutnya, Qatar adalah negara kaya raya yang memperlakukan tamu layaknya raja. “Semua peserta tinggal di hotel termewah di Qatar. Memang sifatnya orang Arab menjamu tamu dengan kemewahan,” kata Jufri.

Perjalanan hidup Jufriadi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Sebelum kuliah di UNISSA Brunei Darussalam, dia dua kali putus kuliah karena beragam masalah yang membelitnya. Pada tahun 2012, Jufri pernah berkuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Sambil kuliah, dia juga berjualan mi aceh di Kota Medan untuk membiayai kehidupannya di sana. Namun, karena sering menunggak uang kuliah, pemuda berprestasi ini pun ke luar dari kampusnya.

“Padahal saat itu saya juara I Fahmil Quran tingkat Mahasiswa se-Indonesia. Tapi semua itu ada hikmahnya,” ujar Jufri.

Berkat tekadnya yang kuat, akhirnya dia lulus di Brunei Darussalam, Universitas Tripoli Lebanon, dan International Islamic Call College Tripoli, Libya. Meski lulus di tiga negara, pilihannya jatuh ke Libya.

Jufri belajar literatur Arab di International Islamic Call College Tripoli sejak tahun 2013 hingga 2015. Dia pun harus mengakhiri kuliahnya di sana dan pindah ke UNISSA Brunei akibat perang berkecamuk di Libya. “Libya bergejolak saat itu dan mengharuskan saya untuk pindah. Padahal, saya suka Libya, karena tokoh Aceh Hasan Tiro pernah menetap di sana,” kenangnya. (fit) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id