Budaya Tolong-menolong Masyarakat Amerika | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Budaya Tolong-menolong Masyarakat Amerika

Budaya Tolong-menolong Masyarakat Amerika
Foto Budaya Tolong-menolong Masyarakat Amerika

OLEH INTAN QANITA, Siswi Pertukaran Pelajar Youth Exchange Student (YES) 2016-2017 asal Banda Aceh, melaporkan dari Zillah, Washington

TANPA terasa sudah delapan bulan saya berada di Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu siswa pertukaran pelajar. Tentu saja banyak hal yang telah dirancang dalam program ini selama kami di AS yang harus kami lakukan. Minggu ini, misalnya, saya diberi tugas mengunjungi dan melihat aktivitas masyarakat di Zillah, Washington.

Saya berkesempatan untuk mampir dan membantu di sebuah rumah seorang nenek yang tinggalnya kurang lebih 15 menit perjalanan menggunakan mobil dari rumah host family saya. Sebagai siswa pertukaran pelajar, kami disarankan untuk memberikan social service dan volunteerism kepada masyarakat sekitar di kota tempat kami menetap selama setahun ini. Host mom saya yang bernama Rebecca kemudian menunjukkan tempat di mana saya bisa membantu dan melakukan kerja sosial di kota ini. Host mom mengajak saya ke suatu tempat. Saya bersama host mom dan host siblings kemudian pergi mengunjungi tempat yang dituju, yaitu rumah seorang nenek.

Setelah melewati beberapa menit perjalanan, kami pun sampai di rumah nenek dimaksud. Rumah itu tak terlalu besar, tetapi lumayan untuk hanya dua orang yang tinggal di sana. Kami kemudian melangkah masuk ke dalam pagar. Saya melihat seekor anjing yang tengah bermain di sekitar rumah. Setelah saya jelaskan baha saya seorang muslim dan tidak boleh menyentuh anjing, nenek itu pun dengan sigap merantai dan memindahkan anjingnya ke tempat lain agar tidak menyentuh saya. “Orang yang baik,” pikir saya.

Saya pun dibolehkan untuk tidak melepas sepatu di dalam rumahnya. Kami kemudian masuk ke dalam rumah. Terlihat seorang kakek terbaring lemas tak berdaya di sebuah ranjang. Di sampingnya tergantung sebuah kantung. Saya perhatikan dengan rasa penasaran, ternyata kantung itu isinya darah. Setelah saya tanyakan rupanya orang yang terbaring itu suami sang nenek. Kakek itu harus melakukan hemodialisis (cuci darah) setiap tiga hari sekali karena penyakit yang dideritanya. Kakinya pun sudah diamputasi karena penyakit diabetes mellitus sudah semakin parah. Saya sangat sedih mendengar hal itu.

Kami kemudian diajak pergi ke salah satu ruangan. Si Nenek menunjukkan kepada kami di mana ia dapat bekerja membantu orang lain. Saya melihat banyak sekali tumpukan kain dan serat (sejenis kapas). Setelah saya tanya kenapa banyak sekali kain dan kapas di sana, nenek itu menjawab kain itu akan digunakan untuk membuat selimut bagi orang yang membutuhkan di “nurse home” atau sebutan rumah bagi orang yang tidak mampu dan orang yang sudah tua renta. Ternyata kapas-kapas tersebut untuk dimasukkan ke dalam kain yang akan dijahit dan dijadikan selembar selimut.

Beberapa saat kemudian nenek menjelaskan kepada saya bagaimana proses pembuatan selimut tersebut. Mulai dari memotong kainnya, kemudian menjahit pola, lalu memotong serat agar selimutnya menjadi tetap hangat, kemudian melapisinya dengan kain lain. Tak lupa, nenek itu pun memberikan contoh kepada saya. Cukup sederhana, tetapi selimut yang dihasilkan lumayan hangat dan cantik. Kemudian, saya pun bertanya apa yang bisa kami bantu? Nenek itu berkata bahwa jika saya ingin membantu, saya bisa menancapkan jarum pentul ke kain yang ingin dijahit agar mudah saat proses penjahitannya.

Nenek itu berkata bahwa agar lebih mudah saat bekerja, saya diizinkan untuk membawa pulang kain tersebut. Kami pun pulang ke rumah dengan kain-kain yang siap dipentul. Setelah sampai di rumah saya pun mulai bekerja.

Seminggu kemudian saya datang kembali ke rumah nenek tersebut mengembalikan selimut-selimut yang sudah saya beri jarum pentul. Nenek sangat bahagia sekali menerima hasil kerja saya dengan mata berbinar seraya berkata, “Thank you so much. You very helpful. You know, I am alone. Nobody`s helping. And you come to help me.” Saya sangat terharu sekaligus bahagia dan bangga dengan hasil kerja yang saya buat. Tapi yang paling penting yang membuat saya bahagia adalah telah berpartisipasi berbuat sesuatu untuk menolong sesama meskipun porsinya sangat kecil.

Keseluruhan selimut pada saya ada 40 lembar. Jadi, seminggu sekali saya akan mengembalikan ke tempat nenek tersebut. Saya perkirakan butuh waktu empat bulan untuk mengerjakannya.

Dari pengalaman yang saya alami ketika kami pergi ke rumah nenek tersebut dapat kita simpulkan bahwa masyarakat di sini sangat baik dan saling tolong-menolong satu sama lain. Biarpun nenek tersebut punya suami yang sedang sakit parah, dia tetap ingin membantu orang lain selama hidupnya.

Apa yang saya reportase ini menjadi suatu renungan buat kita semua teima kasih kepada kedua orang tua saya Drs Imran Lahore dan Dra Bintang Zaura MPd yang telah membimbing saya sedari kecil untuk bersikap baik dan selalu tolong-menolong.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id