Isu Mante di Tanah Aulia | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Isu Mante di Tanah Aulia

Isu Mante di Tanah Aulia
Foto Isu Mante di Tanah Aulia

RATUSAN tahun silam, suku Mante diduga hidup di pedalaman Aceh. Namun, jejaknya tak pernah terlacak. Sepanjang sejarah, belum ada riset yang meneliti suku ini. Yang ada cerita dari mulut ke mulut, secara turun temurun.

Dalam pekan-pekan terakhir ini, soal Mante kembali mencuat setelah sebuah video yang diunggah ke YouTube oleh akun Fredograpy itu menjadi viral. Ada yang menduga sosok yang terekam kamera tersebut adalah suku Mante. Namun, sang pengunggah video tak bersedia menyebut di mana sosok itu terekam.

Berangkat dari fakta-fakta yang terlihat di video tersebut, Serambi melakukan pelacakan ke lapangan sekaligus menghimpun berbagai informasi tambahan menyangkut sosok misterius yang menghebohkan itu. Tim Liputan Khusus Serambi Indonesia mendapat dukungan dari Ketua Indonesia Off-road Federation (IOF) Aceh, Fouzi Muhammad dengan mengerahkan dua unit mobil khusus (Hilux Off-road) guna menghadapi medan berat.

Ekspedisi ke kawasan pedalaman Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar pada 3 April 2017 tersebut melibatkan delapan personel, yaitu tiga dari Serambi Indonesia yaitu Nasir Nurdin yang juga Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Aceh, Masrizal, dan M Anshar (fotografer). Lima lainnya adalah off-roader dari IOF Aceh yaitu Jalwinch, Lodi, Malik, Ali, dan seorang pemandu.

Tim bergerak dari Banda Aceh menuju lokasi sekitar pukul 10.30 WIB.

Tim menelusuri medan dengan melewati Waduk Keuliling di Kecamatan Cot Glie, Aceh Besar. Setelah bergerak sekitar dua kilometer, tim memasuki jalan bebatuan dan berlumpur dengan hamparan sawah dan perkebunan di sisi kiri-kanan jalan.

Sepanjang perjalanan, tim tidak menemukan hambatan yang berarti. Sejumlah medan yang berlumpur dan tanjakan berhasil dilalui. Tim juga berhasil melewati padang ilalang dan empat sungai dengan alirannya yang tidak begitu deras. Sungai-sungai ini berada di antara pegunungan kawasan Kuta Cot Glie.

Lintasan yang dilalui tim merupakan jalan tembusan Jantho-Lamno dan jalan yang digunakan pekebun. Meskipun tidak semua kebun ada tumbuhan, tapi gubuk, jejak kendaraan, dan bekas bungkusan makanan ringan dengan mudah ditemukan. Artinya, lokasi ini memang sering dilintasi manusia. Lokasi ini berada sekitar 10 km dari Desa Siron Blang. Meski berjarak dekat, butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk menempuh perjalanan sepanjang 2,5 km itu, karena harus melalui jalan menanjak, berbatu, dan berlumpur.

Menurut Jalwinch, lokasi ini merupakan wilayah yang disebut Pentagon, yaitu markas besar GAM Aceh Besar saat konflik dahulu. Pegunungan yang puncaknya tidak ditumbuhi pohon itu masuk dalam zona merah TNI saat itu. Namun, kini banyak warga yang membuka kebun di kawasan tersebut. Sepanjang perjalanan, tim tidak menjumpai hal-hal aneh, apalagi sosok misterius.

Setelah membelah hutan belantara, akhirnya tim memutuskan untuk kembali melalui rute awal. Tim kembali melewati padang ilalang yang membentang hijau.

Mirip lokasi di video
Ada hal menarik yang terlihat dalam perjalanan pulang. Tim menemukan lokasi yang diyakini sebagai tempat terekamnya ‘manusia hutan’ yang ditemukan oleh sekelompok pengendara motor trail. Lokasi ini berada di Babah Krueng atau sekitar 10 meter dari tepi sungai kedua yang dilintasi. Lokasi alam di sana sama persis seperti yang ada dalam video yang diabadikan oleh pengendara trail tersebut.

Setidaknya, ada tiga objek yang mirip. Pertama, terdapat kayu miring dan tegak di lokasi ditemukannya manusia hutan itu saat pertama kali ke luar dari hutan yang menjadi background pengendara trail jatuh. Kedua, terdapat jalan yang di sisi kiri-kanan ditumbuhi ilalang dan mengarah ke satu gunung yang berdiri sendiri. Ketiga, ditemukannya kayu sepanjang lebih kurang 2,5 meter yang diduga pernah diambil pengendara motor trail saat mengejar manusia hutan itu yang kemudian menghilang dalam ilalang.

Seorang warga Desa Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Usman Uma (64), saat dijumpai tim liputan khusus Serambi mengaku tidak pernah mendengar nama suku tersebut, apalagi bertemu dengannya. Dia mengetahui adanya suku itu juga baru-baru ini, saat ramai dibincangkan.

Usman yang mengenakan baju, celana, dan topi loreng saat dijumpai di kebunnya mengatakan, yang dia tahu tempat itu sebagai tanah aulia, sementara suku Mante tidak pernah diketahuinya.

Disebut tanah aulia, karena beberapa kuburan yang dikeramatkan berada di kawasan itu. “Mungkin dulu-dulu ada orang yang menyebutkan suku itu, tapi saya sendiri belum pernah mendengarkannya. Di kalangan orang Aceh juga ada sebutan Aneuk Co untuk menggambarkan orang-orang kecil, tapi saya juga tak pernah tahu wujudnya,” kata Usman yang terlihat masih energik dalam usia tuanya.

Pria lima anak ini mengungkapkan, saat ia terlibat dalam aktivitas GAM sebelum Aceh damai, sebagian besar pegunungan dan hutan Aceh Besar sudah dijamahnya. Namun, katanya, ia tidak menemukan suku pedalaman apa pun di hutan Aceh Besar, termasuk di kawasan mirip lokasi yang terekam keberadaan makhluk misterius itu. Nah. (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id