Bayangan Terakhir | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bayangan Terakhir

  • Reporter:
  • Minggu, April 9, 2017
Bayangan Terakhir
Foto Bayangan Terakhir

Karya Dina Triani GA

HUJAN belum lagi reda, namun aku harus pulang sebelum matahari tenggelam. Melihat setumpuk pekerjaan di atas meja, rasanya tak mungkin bisa pergi tanpa meninggalkan beban. Beban pertama, esok pagi aku akan menghadapi wajah kecewa atasanku atas hasil kerja yang tidak maksimal. Beban kedua adalah cibiran dari teman-teman yang masih duduk berkutat dengan laptop mereka untuk menyelesaikan tugasnya masing-masing. Bisa saja aku beralasan bahwa tempat tinggalku lebih jauh daripada mereka. Bahwa aku harus berebut bus, yang jika semenit saja terlewat harus menunggu dua jam kemudian untuk mendapat bus jurusan serupa. Apakah mereka menerima alasan itu? Sebelum aku melontarkannya, aku sudah tahu jawabannya adalah: Tidak! Mengapa? Karena aku laki-laki. Menjadi laki-laki selalu punya beban lebih berat daripada wanita. Laki-laki harus tangguh, bertanggung jawab dan berani. Pulang larut malam, tidak ada orang yang mau perkosa. Jika ada yang mencoba menikam? Ya, tinggal bela diri saja. Mudah bukan?

Aku melirik kopi hitamku yang sudah dingin di dalam cangkir. Mataku kembali menyapu kesekeliling ruangan. Semua rekan-rekanku tampak khusyuk. Kegelisahan mulai meliputiku. Teringat kejadian kemarin malam di jalanan sepi menuju rumahku. Waktu itu bulan bersinar redup. Lampu-lampu di sepanjang jalan tidak mampu menerangi meski hanya seekor Tupai melompati selokan. Pepohonan rimbun di kiri kanan jalan kelihatan menyeramkan. Suara angin menderu-deru. Dan aku mengharapkan ada orang lain selain diriku saat itu.

Tak tampak cahaya lampu lagi dari musala. Tanda bahwa azan isya sudah berakhir tiga jam yang lalu. Kupercepat langkah, tidak perduli sol sepatuku akan hancur kena goresan batu. Namun jantungku tiba-tiba dikejutkan oleh sekelebat bayangan putih. Kulebarkan mataku, mengharap apa yang aku lihat tadi bukan khayalan di tengah keheningan. Dan, bayangan putih itu masih disana. Di ujung persimpangan menuju rumah kontrakanku. Kutelan ludah. Dan aku dapat mendengar suara jantungku yang semakin memburu. Siapakah itu? Tanyaku dalam hati. Manusiakah dia? Atau… Hantu?

Bayangan itu hilang secepat harapanku. Aku tidak ingin percaya bahwa masih ada hantu pada zaman secanggih ini. Seharusnya makhluk-makhlukgaib tidak perlu menakut-nakuti manusia lagi. Bukankah mereka sudah memiliki komunitas sendiri? Mereka tidak punya hak menganggu manusia. Apalagi laki-laki…Aku terus bercoloteh dalam hati untuk melawan sepi hingga kakiku akhirnya sampai juga ke teras rumahku.

“Kok, melamun?” suara Dara mengejutkanku.

Aku menoleh ke arahnya, “Bukan melamun, tapi berpikir.”

Alis Dara bertaut, “Apa bedanya?”

“Ya beda,”jawabku sekenanya.

“Riz,”seru Dara lagi. “Sudah baca koran hari ini belum?”

Aku membuang puntungan rokok dari dalam asbak ke dalam tong sampah di dekat kakiku, “Belum, memangnya ada berita apa?”

“Sekarang sedang heboh berita pembunuhan yang dilakukan oleh pria bertangan satu,” jawab Dara dengan wajah serius.

Aku menatapnya sesaat dan berkata, “Bertangan satu?”

“Iya,” jawab Dara. “Konon si pembunuh hanya memiliki satu lengan saja. Dia mengincar para lelaki. Sudah ada tiga korban yang di bunuh olehnya hanya untuk mengambil sebelah lengan si korban.”

Aku bergidik, “ Ya Tuhan…”

“Sampai sekarang polisi belum berhasil menangkap si pelaku,” sambung Dara.

Kata-kata Dara masih terngiang di telingaku. Selama di dalam bus, aku tak henti-henti memikirkan pria yang di sebut sebagai pembunuh berlengan satu. Semula aku mengira kisah-kisah pembunuhan semacam itu hanya ada di film-film atau novel misteri. Ternyata kisah ini ada juga di dunia nyata. Dan yang membuat aku gelisah adalah, bagaimana aku harus melalui jalan kecil yang di kiri-kanannya ditumbuhi pepohonan tebu untuk sampai ke rumah kontrakanku. Apa mungkin pembunuh berlengan satu itu bersembunyi di sana? Apa mungkin bayangan putih yang kulihat kemarin malam adalah dia?

Supir bus menekan pedal remnya. Sang kernek berteriak, “Kampung Kebun Tebu!” Aku dan beberapa penumpang lain berhamburan turun dari bus, lalu berpencar melanjutkan perjalanan. Ada yang menaiki becak, memilih ojeg, ada yang menyambung dengan angkot dan aku tinggal menyebrangi jalan raya untuk meneruskan dengan langkah-langkahku menuju jalan Kampung Kebun Tebu. Di samping tiang papan nama jalan, aku diam terpaku. Sama seperti kemarin, lampu-lampu jalan tak menyala. Rasa takut mulai menguasaiku. Tapi aku tidak mungkin berdiri disini hingga matahari terbit. Bagaimana pun, aku harus sampai di rumah.

Kutarik nafasku dalam-dalam sebelum aku ayunkan langkahku. Suara anjing terdengar melolong dari perkampungan. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Awan hitam berarak mulai menutupi sinar bulan. Gesekan ranting pepohonan bagaikan suara pedang. Dan aku mulai merasakan takut yang memuncak saat bayangan putih itu kembali berkelebat tak jauh dariku. Kakiku terasa kaku. Seolah tak mampu menopang tubuhku yang mulai bergetar. Disaat seperti ini, baru aku menyesal mengapa memilih tinggal di perkampungan Kebun Tebu!

“Siapa disana?”teriaku ketika sosok putih itu kembali muncul dari balik pohon pinang.

Aku menunggu beberapa saat. Tidak aku dengar jawaban. Kucoba bertanya lagi dengan suara yang lebih keras. Namun tetap hening. Kuawasi sekelilingku, untuk berjaga-jaga jika ancaman tiba-tiba datang. Meski aku pernah ikut olah raga bela diri, tampaknya segala jurus yang pernah kupelajari itu sirna seketika. Dan aku terperanjat kaget ketika sebuah suara berkata dengan suara yang parau, “ Cari siapa Nak? “

Aku membalikkan tubuh, mencari sumber suara. Dan aku tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat siapa yang berdiri di hadapanku. Seorang pria paruh baya mengenakan kaos oblong putih dan sarung lusuh sambil memikul ember berisi air menatapku. Dua lengannya utuh. Bukan pria berlengan satu seperti yang diceritakan Dara.

“Bapak siapa?” tanyaku terbata-bata. “Mengapa malam-malam bapak berada disini sendirian? “

“Saya Kasim,”jawabnya. “Setiap hari saya mengambil air di sungai kampung sebelah karena tak punya air bersih.”

“Mengapa bapak tidak mengambil pada pagi atau siang hari saja?” tanyaku iba. “Bukankah malam-malam seperti ini cukup berbahaya? Banyak batu dan licin. Bapak bisa jatuh dengan beban air seberat itu.”

Laki-laki itu hanya tersenyum, “Ah, sudah biasa. Lagian kalau pagi dan siang saya sibuk di ladang.”

Aku menghela nafas. Hatiku begitu iba melihatnya. “Baiklah, pak, “ kataku akhirnya. “Saya pamitan dulu.”

Kasim mengangguk dan membalas senyumku. Aku pun berlalu dengan hati yang luar biasa lega. Rasanya malu sendiri karena keberanianku tak sebanding dengan keberanian Kasim. Padahal beliau sudah tua. Kebutuhannya untuk mendapat air bersih, mengalahkan rasa takut terhadap gelapnya malam. Seharusnya aku bisa ambil pelajaran dari peristiwa ini. Selama perjalanan, aku senyum-senyum sendiri. Sejak itu aku pun tak pernah takut lagi pulang jalan kaki melaui kebun tebu.

Sebulan telah berlalu. Aku sudah pindah ke rumah kontrakkan baru di pusat kota. Aku memilih pindah karena selain gajiku sudah bertambah sehingga aku bisa menyewa rumah yang lebih besar, juga agar aku tak terlalu lelah berjalan seperti di Kampung Kebun Tebu, sehingga istirahatku cukup untuk persiapan kerja esok paginya. Tanpa sengaja suatu hari aku bertemu dengan Pak RT semasa aku tinggal di Kampung Kebun Tebu. Aku bercakap-cakap sampai akhirnyabertanya tentang keadaan Kasim.

Lama Pak RT tak memberi jawaban, kemudian dia bertanya, “Bagaimana Rizky bisa mengenal beliau?”

Aku tersenyum, “Sebenarnya saya tak sengaja bertemu Pak Kasim pas di belokan dekat pohon pinang. Waktu itu saya baru pulang dari kantor dan bertemu beliau yang baru saja mengambil air.”

Pak RT memandangku dengan pandangan bingung, “Kalau boleh bapak tahu, kejadiannya pukul berapa Nak?”

Aku mengingat-ingat, “Ya, sekitar pukul 10 malam kurang lebih begitu.”

Pak RT terdiam. Ia mengeleng-gelengkan kepala. Aku yang tak mengerti melihat raut bingung pada wajahnya pun bertanya, “Maaf, Pak. Memangnya ada apa ya?”

Pak RT menatap bola mataku lekat-lekat, “Boleh bapak utarakan sesuatu? “

“Tentu,” jawabku cepat.

“Nak…,” suara Pak RT bergetar. “Sebenarnya Pak Kasim sudah meninggal enam tahun yang lalu. Beliau meninggal akibat terbawa arus sungai ketika mengambil air.”

Alisku naik sebelah, seolah apa yang kudengar itu cuma lelucon, “Meninggal? Enam tahun lalu?”

Pak RT mengangguk pelan, “Beliau sudah meninggal jauh sebelum nak Rizky menjadi warga Kampung Kebun Tebu. Jasadnya ditemukandi sungai kampung sebelah dalam kondisi yang sangat menyedihkan pada pukul 10 malam…”

Tidak mudah mempercayai apa yang dikatakan Pak RT. Bagaimana bisa orang yang sudah meninggal berkomunikasi dengan manusia hidup seperti diriku? Enam tahun lalu? Bukankah itu masa lampau? Mengapa ia hanya menemuiku? Atau ada orang lain selain diriku yang pernah ia temui? Otakku berputar-putar. Aku terjatuh dari bangku. Aku harap ini hanyalah mimpi di siang hari bolong!

* Dina Triani GA, cerpenis, tinggal di Banda Aceh (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id