Tabu Sumpah Serapah dalam Masyarakat Pidie | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tabu Sumpah Serapah dalam Masyarakat Pidie

Tabu Sumpah Serapah dalam Masyarakat Pidie
Foto Tabu Sumpah Serapah dalam Masyarakat Pidie

Oleh Junaidi – Pengajar di Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh

Masyarakat Pidie adalah masyarakat yang menetap di Kabupaten Pidie. Secara umum masyarakat Pidie menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu. Dalam bertutur, masyarakat Pidie sama halnya dengan masyarakat Aceh lainnya; memiliki prinsip kesantunan berbahasa dengan mitra tutur.

Salah satu hal yang sangat diperhatikan adalah menghindari setiap larangan/pantangan dalam bertutur. Adanya larangan dan pantangan dalam bertutur disebabkan oleh kebudayaan dan kepercayaan yang sudah turun-temurun. Ucapan-ucapan yang dapat menyinggung perasaan lawan tutur sedari mungkin harus mereka hindari dan istilah tersebut disebut tabu.

Salah satu larangan dalam bertutur tersebut adalah menghindari segala bentuk penggunaan sumpah serapah yang bertujuan menyerang orang lain. Laksana (2009:122) menyatakan, sumpah serapah merupakan kata-kata atau ungkapanungkapan tertentu, yang pada prinsipnya karena frustrasi. Sumpah serapah merupakan sesuatu yang dilarang karena dianggap kasar dan dapat menyakiti perasaan orang lain.

Adapun sumpah serapah yang ditabukan penggunaannya dalam tuturan masyarakat Pidie adalah sebagai berikut. (1) Makian Makian dalam bahasa Aceh disebut paké atau teumeunak adalah sumpah serapah yang dicirikan oleh kata-kata keji (kotor, kasar) yang diucapkan karena marah atau rasa jengkel. Contoh makian yang dilarang dalam masyarakat Pidie di antaranya adalah aneuk bajeung ‘anak haram’, arakatè paléh‘arakatè celaka’, dan binatang paléh ‘binatang celaka’.

(2) Hujatan Hujatan (seup/seumeuseup) ialah bentuk sumpah serapah yang berupa ungkapan yang bermakna ketidaksopanan yang mencolok terhadap kekudusan. Contoh hujatan yang dilarang dalam masyarakat Pidie di antaranya adalah bak kujih kon ka paléh ‘semenjak ayahnya sudah celaka’, lampruet ma kön kapaléh ‘dalam ibunya sudah celaka’, dan biek hana get ‘keturunan tidak baik’.

(3) Kutukan Kutukan (keutôk/meungeutôk) adalah bentuk sumpah serapah dengan menggunakan doa disertai kata-kata yang dapat mengakibatkan kesusahan atau bencana pada seseorang. Contoh kutukan yang dilarang dalam masyarakat Pidie di antaranya adalah beubagah maté keuh ‘semoga cepat mati kamu’, beugeureuda sampôh ‘biar disapu geureuda, dan beukeuh phang-phoe ‘semoga papa dia’.

(4) Sumpahan Sumpahan (sumpah/meusumpah) ialah pernyataan serta itikad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Perlu dicatat bahwa sumpahan di sini ditujukan kepada diri penyumpah. Jika sumpahan ditujukan kepada orang lain, bentuknya tidak berbeda dengan kutukan atau makian. Contoh sumpahan yang dilarang dalam masyarakat Pidie di antaranya adalah beu budôk kèe ‘biar terkena kusta aku’, beucong kuh ‘biar celaka saya’, dan beuhareum kuh ‘biar haram saya’.

(5) (Ke)carutan Segala bentuk sumpah serapah yang dicirikan oleh pemakaian kata atau ungkapan yang mengacu ke hal-hal yang menjorok; pada seks dan fungsinya digolongkan ke dalam (ke)carutan (carôt/ceumarôt). Sebagian pendengar mungkin bersikap biasa saja terhadap carut yang dilontarkan seseorang kepadanya.

Namun, pada sebagian orang (ke)carutan dapat membuat mereka sakit hati yang terkena carut. Contoh (ke)carutan yang dilarang dalam masyarakat Pidie di antaranya adalah boh krèh keuh ‘buah zakar kamu’, bulèe boh kah ‘bulu kemaluanmu’, dan bulèe punggông kah ‘bulu pantatmu’.

(6) Lontaran atau seruan Lontaran atau seruan (uk/ông) ialah bentuk sumpah serapah yang dicirikan oleh pemakaian kata atau ungkapan yang hanya berfungsi sebagai “pengisi”. Memang, pada daerah-daerah tertentu penggunaan sumpah serapah itu tidak bermakna apa-apa; atau tidak bertujuan menyakiti hati orang.

Namun, pada sebagian masyarakat Pidie, satu sisi lontaran atau seruan dilarang karena dapat menyakiti hati dan perasaan orang yang mendengarnya. Contoh seruan yang dilarang dalam masyarakat Pidie di antaranya adalah alah hai geuleudè Arab ‘dasar keledai Arab’, lagèe apam ‘seperti serabi’, dan lagèe lempap ‘seperti lempap’.

(7) Sindiran Sindiran(sindé/meusindé) ialah perkataan yang bermaksud menyindir, mencela, atau mengejek orang lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Orang yang terkena sindiran oleh orang menyindirnya biasanya akan sakit hati. Oleh sebab itu, sindiran-sindiran yang dapat orang lain sakit hati sangat dilarang dalam masyarakat.

Contoh sindiran yang dilarang dalam masyarakat Pidie di antaranya adalah ngen punggông kadeungö ‘dengan pantat kamu dengar’, gadôh kochok boh ‘asik beronani/masturbasi’, dan teumon bui kap ‘sisa gigitan babi’.

(8) Ancaman Ancaman (ancam/meuancam) adalah sesuatu yang bersifat mengancam dan mengingatkan pihak lain. Ancaman selain dapat membahayakan orang lain juga dapat membahayakan diri sendiri. Contoh ancaman yang dilarang penggunaannya dalam masyarakat Pidie adalah kaingat beh ‘kamu ingat ya’,kupeumaté keuh ‘kuhabisi kau’, dan kupeusép ma keuh ‘kuhabisi semuanya’.

Masyarakat Pidie percaya setiap ucapan sumpah serapah yang mereka ucapkan dapat menampakkan citra jelek pada pribadinya.

Selain itu, masyarakat Pidie juga meyakini bahwa mengucapkan sumpah serapah dengan sembarangan akan dikucilkan dalam masyarakat sebagai “hukuman” terhadap atas apa yang telah diucapkannya. Oleh sebab itu, masyarakat Pidie dalam kesehariannya sangat menghindari segala bentuk sumpah serapah dalam tuturannya.

Perlu diketahui juga bahwa semua bentuk sumpah serapah akan menjadi sesuatu yang tabu jika sumpah serapah diucapkan dalam konteks enyerang orang lain.

Namun, menjadi tidak tabu lagi jika diucapkan dalam konteks bukan untuk menyerang orang atau sekadar main-main. Artinya, orang yang terkena ujaran sumpah serapah itu dapat memahami dan mengenal siapa yang mengucapkan sumpah serapah itu dan apa maksudnya. (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id