Kunci Sukses bagi Generasi Muda | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kunci Sukses bagi Generasi Muda

Kunci Sukses bagi Generasi Muda
Foto Kunci Sukses bagi Generasi Muda

Oleh Hasan Basri M. Nur

MASA muda adalah masa-masa paling menentukan bagi masa depan seseorang. Biasanya pada masa muda seseorang memiliki waktu luang yang cukup, kebugaran dan kesehatan prima, daya ingat yang prima dan sejumlah keunggulan lainnya. Rasulullah saw memesankan kepada umatnya untuk menjaga masa muda sebelum datangnya penyesalan di waktu tua.

Terkadang masyarakat, termasuk orang tua, menganggap kepandaian sebagai satu-satunya kunci menuju sukses masa depan, sehingga cenderung menuntut kepada sang anak untuk terus belajar yang tiada henti. Setelah sang anak belajar di sekolah dilanjutkan lagi ke berbagai kursus hingga kelelahan pada malam hari.

Menurut penulis, kepandaian bukan penentu utama bagi kesuksesan seseorang. Terdapat banyak faktor dalam kesuksesan seseorang. Kesuksesan di sini kita batasi pada mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja yang ujungnya mandiri secara ekonomi.

Unsur terpenting
Menurut penulis, terdapat 3 plus 1 unsur terpenting dalam meraih kesuksesan, yaitu: Pertama, cerdas. Cerdas agak berbeda maknanya dari pandai atau pintar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “pandai” mempunyai makna cepat menangkap pelajaran dan mengerti. Sementara “cerdas” bermakna sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir, mengerti dan sebagainya. Orang cerdas sudah pasti pandai atau pintar. Pada orang cerdas terdapat kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi.

Cerdas dan pandai pada dasarnya adalah sifat bawaan sejak lahir, akan tetapi keduanya dapat dilatih secara sistematis sejak kecil. Oleh sebab itu, pendidikan yang mengedepankan kecerdasan melalui latihan-latihan penyelesaian masalah harus dikedepankan agar terbentuk generasi baru yang mampu menyelesaikan permasalahan pribadi, permasalahan keluarga hingga permasalahan umat.

Kedua, gigih. Gigih (bahasa Aceh: gigeh) adalah suatu sikap yang teguh pada pendirian, pantang menyerah, tidak goyang oleh berbagai cobaan sampai pelakunya berhasil menggapai suatu keinginan atau ambisi. Dalam agama Islam, istilah yang mendekati gigih adalah istiqamah. Orang gigih akan mencari dan mencoba berbagai cara (yang halal) dalam meraih suatu cita-cita. Kegagalan dipandang sebagai kesuksesan yang tertunda.

Generasi muda, terutama yang masih duduk di bangku kuliah, perlu memikirkan kegiatan sampingan (ekstra) di luar sambil kuliah dalam mempersiapkan diri menghadapi masa depan setelah selesai wisuda, sehingga nantinya tidak menjadi beban bagi orang tua, lingkungan dan pemerintah.

Kegiatan ekstra ini perlu disesuaikan dengan bakat masing-masing agar mudah dalam menjalaninya serta berpeluang menjadi profesi permanen setelah selesai kuliah. Misalnya, mahasiswa yang kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur perlu bekerja sampingan sebagai arsitek lepas dengan menawarkan jasa kepada developer atau pasangan muda yang hendak membangun rumah. Begitu juga mahasiswa yang belajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi perlu memantapkan diri dengan pekerjaan sampingan sebagai wartawan media online, menulis artikel opini, menulis cerpen hingga berceramah di masjid-masjid.

Kegiatan ekstra di luar kampus menjadi pendidikan skill disertai pengalaman yang sangat berharga dalam menunjang pendidikan formal. Selain itu, kegiatan ekstra juga pasti akan mendatangkan penghasilan tambahan atas penggunaan jasa. Hasil akhir yang diharapkan adalah terbentuknya generasi baru yang mandiri dan memiliki daya saing tinggi setelah selesai mengecap pendidikan. Biasanya mereka yang sudah terlatih akan banyak mendapat tawaran pekerjaan, bukan dia yang mencari pekerjaan. Orang-orang seperti ini akan menjadi kebanggaan keluarga, kampung, teman, dan almamater.

Ketiga, akhlak. Unsur lainnya yang menjadi penentu kesuksesan bagi generasi muda adalah akhlak (karakter, perangai, etika). Cerdas yang tidak disertai etika akan menjadi masalah. Dalam hidup ini manusia saling berhubungan dengan orang lain. Orang cerdas dan terampil tapi tidak beretika dipastikan tidak disenangi oleh orang lain. Ketika tidak disenangi, maka yang bersangkutan akan sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi kerja dalam sebuah tim.

Beberapa lembaga menyiapkan psikiater untuk menilai watak dan kepribadian calon karyawan. Tidak jarang dilaporkan adanya sarjana cerdas lulusan universitas ternama tapi tidak memenuhi syarat untuk untuk mengisi jabatan tertentu tersebab faktor etika. Oleh sebab itu, para pengajar di sekolah dan kampus perlu selalu mengingatkan anak didik tentang perlunya akhlaqul karimah (budi pekerti yang baik).

Keempat, relasi. Relasi bukanlah sebagai unsur utama yang menjadi penentu sukses. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa relasi kerap berpengaruh dalam kesuksesan seseorang. Relasi mempunyai peran penting dalam menyampaikan informasi dan terkadang menjadi pertimbangan khusus dalam penetuan kelulusan kerja.

Pada satu sisi, sungguh beruntung pemuda yang orangtuanya berasal dari pergaulan kelas tinggi. Meski demikian, sesungguhnya relasi dapat mulai dibangun oleh seorang anak sejak dia masih duduk di bangku sekolah. Sang anak dapat menjalin hubungan kemitraan dengan guru, petugas administrasi sekolah dan lain-lain.

Menjalin kemitraan
Para pemuda yang duduk bangku kuliah perlu menjalin kemitraan dengan dosen, ketua jurusan, dekan hingga rektor. Tidak hanya itu, jalan pertemanan juga terbuka lebar ke luar kampus melalui kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, magang, Kuliah Perkuliahan Masyarakat (KPM) dan sebagainya. Bagi kalangan yang bervisi jauh niscaya senantiasa menjalin komunikasi dan kemitraan dengan orang-orang penting yang sudah dikenalnya.

Generasi muda dan mahasiswa yang memiliki keempat unsur di atas diyakini akan mudah dalam merintis kehidupan setelah menyelesaikan studi di kampus. Sebelum hari wisuda datang mereka akan mendapatkan tawaran-tawaran pekerjaan sesuai keahlian. Jadi, tidak ada istilah sulitnya mendapat pekerjaan. Yang ada adalah fenomena tidak siapnya generasi muda dalam persaingan yang semakin ketat. Semoga!

* Hasan Basri M. Nur, Dosen Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id