Mogok Berlanjut, Guru Tutup Sekolah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mogok Berlanjut, Guru Tutup Sekolah

Mogok Berlanjut, Guru Tutup Sekolah
Foto Mogok Berlanjut, Guru Tutup Sekolah

* Juga Boikot UN

SINGKIL – Mogok mengajar ratusan guru daerah terpencil di tiga kecamatan dalam Kabupaten Aceh Singkil, Rabu (5/4), berlanjut pada hari kedua, Kamis kemarin. Bedanya, jika pada hari pertama mogok guru ditandai dengan aksi tak masuk mengajar di ruang kelas, pada hari kedua justru mereka lakukan dengan menutup sekolah, sehingga sama sekali tak ada kegiatan belajar-mengajar.

Selain mengunci pintu gerbang sekolah, dewan guru yang mogok mengajar juga menempelkan poster berisi tuntutan di pintu yang mereka palang.

Aksi itu dilakukan serentak oleh guru di Kecamatan Pulau Banyak, Pulau Banyak Barat, dan Kecamatan Kuala Baru. Pemicunya adalah karena guru di tengah kepulauan itu tidak mendapat tunjangan guru daerah terpencil. Padahal, mereka mengabdi di daerah terpencil dengan biaya hidup dan risiko mobilitas sehari-hari yang tinggi.

Dalam aksi di Pulau Banyak Barat kemarin, selain menutup sekolah, para guru juga berkumpul di halaman sekolah sambil membawa poster berisi berbagai tuntutan. Antara lain, meminta Persiden Jokowi agar menetapkan sekolah mereka sebagai sekolah daerah terpencil, sehingga gurunya layak mendapat tunjangan daerah terpencil.

Mereka juga menyatakan mogok mengajar serta memboikot pelaksanaan ujian nasional (UN). Selesai berorasi di depan sekolah, para guru berkeliling permukiman penduduk sambil teriak bahwa mereka tidak akan mengajar sebelum tuntutannya dikabulkan.

Hal serupa dilakukan guru di Kecamatan Pulau Banyak. Sedikit berbeda dengan guru di Kuala Baru, mereka mogok mengajar dengan hanya meliburkan sekolah. “Kami hentikan aktivitas mengajar sampai tuntutan kami dikabulkan,” teriak seorang guru.

Taufik, Anggota DPRK Aceh Singkil, asal Kepulauan Banyak, mengatakan bahwa semua siswa di daerahnya diliburkan sepihak oleh guru yang mogok massal. Akibatnya, anak-anak yang seharusnya belajar hanya menghabiskan waktu untuk bermain sepanjang hari.

“Para guru menutup sekolah. Saya minta semua pihak segera turun tangan mengatasi persoalan serius ini,” kata Taufik.

Ketua Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB) Aceh, Sayuthi Aulia mendukung aksi mogok mengajar guru di Pulau Banyak, Pulau Banyak Barat, dan Kuala Baru dalam dua hari terakhir. “Soalnya mereka sangat layak mendapat tunjangan guru terpencil melihat jaraknya yang jauh dari daratan,” ujarnya.

Menurut Sayuti, jarak tempuh ke Pulau Banyak Barat dari Singkil mencapai 5-7 jam dengan boat nelayan. Jadi, tidaklah logis jika mereka tak masuk list penerima tunjangan guru daerah terpencil. “Pulo Aceh saja yang jaraknya hanya sejam perjalanan dari daratan Banda Aceh, para gurunya mendapat tunjangan daerah terpencil. Masa guru di Pulau Banyak Barat dan Pulau Banyak tidak dapat? Jadi, kalau mereka mogok, sangat bisa dipahami sebagai akumulasi kekecewaan,” ulas Sayuthi.

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Aceh Singkil, Dulmusrid, bersama Kapolres Aceh Singkil, AKBP Ian Rizkian, Sekda Drs Azmi, Anggota DPRK Frida Siska Sihombing dan Juliadi, serta pejabat lain lewat tengah hari kemarin menemui guru yang mogok mengajar di Kuala Baru, sekitar satu jam perjalanan sungai dari Singkil.

Saat bertemu guru yang berkumpul di kantor camat, Dulmusrid membujuk agar mereka kembali mengajar. Menurut Wabup Aceh Singkil itu, jika mogok mengajar diteruskan, maka yang rugi adalah anak-anak generasi penerus Aceh Singkil.

Permintaan itu, menurutnya, berlaku bagi guru yang mogok mengajar di Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat. Hanya saja pihaknya tak mungkin menemui mereka pada hari yang sama, mengingat letak geografisnya lumayan jauh dari Singkil daratan. “Dengan segala hormat saya mohon bapak ibu guru kembali mengajar untuk mencerdaskan anak bangsa,” kata Dulmusrid.

Terkait permasalahan tidak mendapat tunjangan guru daerah terpencil, pemerintah daerah sedang berusaha mencari solusi. Hanya saja butuh proses, tidak serta merta terkabul. “Kami akan berupaya supaya pemerintah pusat, dapat kembali memberikan tunjangan guru terpencil. Jika tidak berhasil kita cari solusi lain di daerah,” ujarnya.

Permintaan wakil bupati itu disanggupi para guru dengan catatan tuntutan mereka segera dikabulkan. Guru juga menyatakan mogok mengajar merupakan pilihan terakhir setelah upaya diplomatis tak membuahkan hasil.

“Guru jangan hanya jadi korban. Kami melakukan ini supaya ada perhatian dari pemerintah pusat,” kata Agus Salim, mewakili para guru yang mogok mengajar. (de) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id