Muhasabah Politik Pasca-Kekalahan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Muhasabah Politik Pasca-Kekalahan

Muhasabah Politik Pasca-Kekalahan
Foto Muhasabah Politik Pasca-Kekalahan

Oleh Muktasim Jailani

MUHASABAH atau instrospeksi diri adalah perbuatan mulia. Sebelum orang lain yang lakukan muhasabah ke kita, sebaiknya kita sendiri yang melakukan muhasabah terhadap diri kita sendiri, sehingga muhasabah juga dikatakan evaluasi diri. Pepatah menyatakan hasibu qabla an tuhasabu muhasahlah (terhadap dirimu) sebelum pihak lain yang melakukan muhasabah (terhadapmu). Bicara politik, konteksnya pascapilkada serentak 2017 tentu ada yang kalah dan ada yang menang. Tidak mungkin semuanya kalah atau semuanya menang. Plus kemenangan di putusan sidang Mahkamah Konstitusi (MK).

Bagi yang menang dalam pilkada serentak ini tentu tidak boleh euforia berlebihan. Tidak berarti kemenangan itu semata-mata karena sosok dan figur kandidat itu sendiri, banyak sekali elemen-elemen yang lain yang ikut mendukung dan mempengaruhi kemenangan itu. Suara rakyat yang menentukan pilihannya adalah satu yang menentukan; dituangkan dalam bentuk suara saat pencoblosan, dihitung dengan angka-angka dari skala yang paling rendah, yakni TPS hingga skala yang paling tinggi (KIP).

Tidak berarti yang menang itu adalah segala-gala, dan luput dari kesalahan. Pasti sedikitnya banyaknya ada item-item kesalahan yang pernah dilakukan baik sengaja atau tidak. Nah, dalam hal ini diperlukan muhasabah terhadap semuanya itu. Jika ada kesalahan yang diperoleh tentu langkah perbaikan yang diperlukan. Begitu juga, jika ada kebaikan, supaya mempertahankan kebaikan itu dan meningkatkan lagi ke depannya.

Bagi yang kalah tentu lebih banyak faktor yang menyebabnya kekalahan itu. Untuk itu langkah bijak adalah muhabasah optimal terhadap apa yang telah dilakukan pra pilkada. Kenapa masyarakat tidak memberikan pilihannya atau pilihan rakyat dalam rekapitalasi suara relatif sedikit, sehingga jumlah akhir kandidit itu tidak sanggup mengungguli lawan politinya, dan menyebabnya ia kalah. Jawaban yang paling mungkin adalah faktor dosa politik. Itulah alas an tulisan ini diungkapakan sebagai catatan kecil pasca pilkada yang melahirkan kalah dan menang dalam rangka muhasabah untuk “kebaikan” politik ke depan.

Dosa politik
Kandidat yang ikut dalam pesta demokrasi, baik yang kalah atau menang secara umum berasal dari dua latar belakang, yaitu dari latar belakang partai politik dan non partai politik. Latar belakang non politik yang terjun ke dunia politik sebagai kandidat tentu belum pernah merasakan asam garam politik praktis dan belum pernah merasakan “kekenyangan” keberhasilan politik yang diperolehnya.

Mereka terjun ke dunia politik baik melalui partai politik atau perseorangan (independen) hanya mencoba peruntungan di dunia politik atau punya niat mulia ingin memperbaiki keadaan dari selama ini hanya menjadi penonton politik semata. Secara personal, kalangan ini relatif tidak punya dosa politik yang menjadikan ia kalah dalam pilkada. Mungkin “dosa lain” yang membebaninya, sehingga berimbas pada kekalahan. Dosa lain ini lebih banyak disebabkan faktor pribadi atau institusi; juga korporasi yang selama ini mengelilinya. Atau boleh saja faktor keberuntungan yang belum berpihak kepadanya, sehingga masyarakat tidak banyak yang menentukan pilihan, sehingga ia kalah.

Sementara kandidat yang berasal dari partai politik sudah kenyang dengan dunia politik yang dikesankan kejam. Bagi mereka dunia politik sudah menjadi makanan harian; makan asam garam politik, kompetisi; dinamika kalah dan menang bukan hal langka. Bukankah kekalahan kali ini adalah kemenanag sebelumnya dengan menyingkirkan kandidat lain yang dicalonkan oleh barisannya, sehingga muncul namanya sebagai representasi barisan itu.

Di sisi lain, bukankah dunia politik penuh dengan trik dan dinamika, yang kadang cair dan di saat yang lain membeku. Apalagi kalah dan menang menjadi warna dalam setiap dinamika pergerakan politik, baik internal atau eksternaknya. Tidak mungkin sejak awal terjun dan membawanya ke sosok yang dikandidatkan, dilalui dengan jalan tol dan mulus; selalu menang. Jadi, tetap perjalannya dalam dunia politik penuh dengan lika-liku dan perjuangan.

Yang sangat berpengaruh terhadap kekalahan itu –khususnya yang dari latar belakang politik– adalah faktor dosa politik. Relatif sangat banyak dosa politik yang mengelilingi setiap kandidat. Ini, disebakan bukan hanya oleh satu dua orang kandidat saja sebagai calon. Tapi ribuan orang yang menjadi bagian dari bariasan politiknya. Jika berbicara dosa politik calon yang berimbas kepada dosa partai politik, artinya adalah dosa politik yang dilakukan oleh orang-orang yang berafiliasi dengan partai politik itu. Tentu yang paling utama pengurus, simpatisan, relawan, dan pihak-pihak yang menyakatan dirinya bagian dari partai politik itu. Nah, dosa inilah yang membawa pengaruh besar terhadap kekalahan yang dialami oleh kandidat itu, dengan tidak menutup mata pada sosok kandidat itu sendiri, yang tidak ada yang “tanpa cela” maju sebagai kandidat.

Jika dikalkulasi dosa politik yang pernah muncul baik hasil observasi maya atau observasi partisan, relatif sangat banyak muncul di tengah masyarakat, yang secara umum berkaitan dengan janji-jani politik. Detailnya, lihat saja berapa kandidat setelah memperoleh kemenangan dan duduk sebagai gubernur/wagub bupati/wabup, wakil-wakil partai di DPR, DPRA, dan DPRK sebelumnya, menyingkirkan “orang-orang baik” di jabatan pemerintahan, menempatkan orang-orangnya di jabatan itu sebagai balas budi dalam bentuk balas dendam; terlibat korupsi dana rakyat, mempermainkan perempuan yang tak layak dipermainkan, terlibat narkoba, kriminal. Belum lagi, pembangunan dan kemakmuran masyarakat yang belum menjadi fakta, hanya dalam bentuk retorika dan kata saja.

Secara lokal, masih banyak “kutipan-kutipan liar” bergentayangan dalam proyek-proyek desa. Pasif dan tidak pro-aktif memperjuangakan kepentingan rakyat, di saat sidang hanya menjadi penonton setia tanpa reaktif mencari solusi terhadap persoaalan rakyat, dana aspirasi yang disalahgunakan, dan masih banyak lagi. Banyak sekali yang lainnya, yang merupakan dosa politik yang menjauhkan orang dan partai politik dari pilihan rakyat. Akhirnya kekalahan yang diperolehnya. Jadi, dosa politiklah yang menyebabkannya kalah dalam pilkada ini. Kondisi ini harus disadari, salah satunya dengan muhasabah dan evaluasi ke belakang dan melangkah ke depan dengan langkah politik kebaikan.

Langkah-langkah muhasabah
Muhasabah dari kekalahan yang salah satunya dipengaruhi oleh dosa politik ada beberapa langkah yang harus ditempuh antara lain: Pertama, idealnya harus me-review kembali apa yang telah dilakukan sebelumnya, ketika kemenangan dan jabatan ada di tangan. Apakah langkah-langkah itu menyakiti rakyat, mengingkari janji yang telah diucapkan. Dunia digital di masa kini punya rekaman semua itu, baik yang diekspos media atau terekam melalui video. Nah, buka kembali file-file itu. Dengan demikian tentu akan dapat menilai dan melihat sejauhmana pekerjaan yang dilakukan di dunia politik, lebih banyak dosa politik atau lebih banyak kebaikan politik yang lahir. Jika ditemukan dosa-dosa politik, perbaiki secara personal atau institusional.

Kedua, manfaatkan waktu yang ada baik untuk melangkah kepada suksesi lima tahun ke depan dan dalam jangka pendekan menghadapi pesta politik dalam bentuk yang lain, yakni pemilu pelihan anggota legislatif. Dengan waktu yang relatif ada ini, jika maksimal digunakan banyak hal memungkin dilakukan, tidak hanya meratapi dan menyalahkan pihak-pihak lain yang menyebabkan kekalahan itu. Apalagi menjadikan pihak yang menang sebagai “musuh”, tentu hal ini akan menciptakan atmosfir politik yang tidak sehat.

Ketiga, setiap orang yang terlibat langsung secara langsung atau tidak langsung dengan partai politik baik pengurus, partisan, simpatisan, relawan dan orang yang katanya bagian dari partai politik itu, secara personal memperbaiki dan tobat terhadap dosa politik yang pernah dilakukan. Dengan tobat dan insaf dari dosa politik akan memunculkan sosok-sosok politisi yang suci secara personal yang pada akhirnya akan berimbas pada kebersihaan dan kesucian partai palitik yang dibelanya.

Keempat, punya cita-cita kebaikan politik yang berorientasi pada perjuangan kebaikan, kemaslahatan, dan kemakmuran masyarakat. Cita-cita akan berhasil jika diberengi dengan langkah pasti menuju cita-cita itu. Tidak cukup sebuah cita-cita hanya dalam bentuk kata dan retorika saja, namun cita harus ditampilkan melalu perbuatan nyata. Dengan demikian apabila dosa politik diinsafi dan diperbaiki, tentu secara perlahan akan membawa perubahan pada sikap masyarakat secara umum, yang pada akhirnya jika sampai saatnya pesta demokrasi selanjutnya akan tiba tentu pilihanya tidak akan menjauh dari kebaikan itu.

Semakin banyak seseorang dan institusi menebar kebaikan semakin banyak suara yang akan diperoleh dalam pemilihan pada pesta demokrasi dan kemenangan akan dicapai kembali. Jika tidak, mau melakukan perubahan dari kondisi yang ada saat ini, bukan mustahil kekalahan akan terulang kembali. Kebaikan selalu menang atas kebatilan. Pasti!

* Muktasim Jailani, MA., pemerhati social, tinggal di Tangse, Pidie. Email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id