Hentikan Semangat Main Hakim Sendiri | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hentikan Semangat Main Hakim Sendiri

Hentikan Semangat Main Hakim Sendiri
Foto Hentikan Semangat Main Hakim Sendiri

Isu penculikan anak kembali membuat orang tak bersalah jadi sasaran amuk massa di Kabupaten Bireuen dua hari lalu. Yang menjadi korban penganiayaan oleh orang ramai adalah M Isa (32), warga Pegasing, Aceh Tengah. Ia diamuk massa gara-gara diteriaki maling dan penculik anak.

Menurut kabar yang berkembang, awalnya M Isa bersama istri dan dua anaknya beserta kakak plus dua anak kakaknya (jumlah seluruhnya tujuh orang) datang dari Aceh Tengah untuk rekreasi ke Pantai Kuala Jeumpa, Bireuen. Mereka menumpangi minibus merah.

Dalam perjalanan ke pantai, keluarga ini membeli makanan ringan di satu kedai kelontong di Kecamatan Jeumpa. Namun, seorang dari anak kakaknya disebut-sebut mengambil uang dari dalam laci kedai kelontong itu, sehingga diteriaki maling.

Merasa anaknya tak mencuri uang –tapi tak punya kesempatan untuk membela diri– keluarga itu langsung tancap gas ke arah Kota Bireuen. Dalam pelariannya, mobil yang disopiri Isa bertabrakan dengan mobil lain. Saat itulah massa yang mengejarnya, apalagi sebagian ada berteriak “penculik anak!”, maka “diramaikanlah” Isa dan mobilnya.

Massa menggebuk Isa yang dicap sebagai penculik anak. Padahal, anak-anak yang di dalam mobil itu adalah dua anak kandung Isa dan dua lagi anak kakaknya. Sedangkan dua wanita dewasa dalam mobil itu adalah istri Isa dan satunya lagi kakak kandung Isa. “Jadi, tidak ada anak yang diculik di dalam mobil tersebut,” kata polisi. Tapi, Isa sudah telanjur babak belur hingga harus dirawat di rumah sakit. Setelah polisi berhasil meredam amarah orang ramai.

Massa juga merusak minibus yang ditumpangi keluarga tersebut, sehingga kaca mobil hampir seluruhnya pecah. Bagian depan mobil itu juga rusak berat. Mobil itu telah diamankan di Mapolres Bireuen.

Sedangkan mengenai tuduhan mencuri uang di dalam laci kedai kelontong tadi, kita harap polisi dapat mengusut hingga semuanya jelas. Isa dan keluarga yang sudah telanjur menjadi korban main hakim sendiri oleh massa tentu juga berhak mendapat keadilan.

Ya, begitulah. Isu penculik yang tak jelas asal-usulnya memang telanjur menjadi sesuatu yang sangat sensitif di tengah masyarakat belakangan ini. Dan, itu adalah buah dari “kekejaman” media sosial yang membuat masyarakat tak percaya lagi pada pernyataan-pernyataan polisi, umara, bahkan ulama terkait dengan isu penculikan itu. Masyarakat lebih gampang terpengaruh rumor atau kabar-kabar bohong yang berkembang di media sosial. Celakanya, dalam situasi demikian, masyarakat juga sangat gampang tersulut emosi. Masyarakat begitu cepat tegerak untuk kemudian main hakim sendiri. Inilah yang sangat mengkhawatirkan kita jika isu penculik itu belum benar-benar dipercaya sebagai berita bohong.

Namun, yang paling penting bagi kita semua, bukan hanya menyadari bahwa isu penculikan anak itu sebagai kabar bohong alias hoax, tapi lebih dari itu masyarakat harus pula menyadari kembali bahwa tindakan main hakim sendiri sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan hukum di manapun. Makanya, mari hentikan semangat main hakim sendiri. (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id