Pesan untuk Pemenang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pesan untuk Pemenang

Pesan untuk Pemenang
Foto Pesan untuk Pemenang

Oleh Zarkasyi Yusuf

ISU terkini yang hangat dibicarakan di Aceh adalah misteri suku Mante, mutasi pejabat, dan hiruk pikuk pascaPilkada. Tulisan ini memang ada keterkaitanya dengan Pilkada, tetapi bukan pada sisi like or dislike hasilnya. Tulisan ini sebagai pesan untuk saling mengingatkan, sebab saling mengingatkan adalah anjuran dalam Islam. Pesan ini bagi para pemenang dalam Pilkada Aceh Serentak (PAS) untuk memilih Gubernur, Bupati dan Walikota. Semoga tersampaikan kepada mereka yang menang, satu harapan yang pasti. Semoga yang menang benar-benar menjadi pemenang sejati, bukan sebaliknya yaitu pecundang sejati.

Rabu, 15 Februari 2017 menjadi hari penting dalam penentuan nasib Aceh lima tahun mendatang, pertaruhan kehidupan lima juta penduduk untuk hidup lebih makmur atau makin melarat. Meskipun ada yang golput, tetapi hampir semua yang memiliki hak pilih telah memberikan haknya dalam memilih nakhoda kapal yang berjuluk Serambi Mekkah. Sebelum hari penentuan tiba, para calon telah melewati beberapa tahapan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Salah satu tahapan yang dilalui adalah penyampaian visi dan misi dalam kampanye.

Saya yakin, visi dan misi yang disampaikan sangat luar biasa, apalagi dikemas dengan retorika yang luar biasa pula, diperkuat dengan model dan pola komunikasi yang santun dan berwibawa, siapa pun yang mendengar pasti akan terpana. Paling tidak geleng geleng kepala. Satu kata yang pasti, ‘luar biasa’. Sebenarnya bukan janji luar biasa yang dibutuhkan rakyat. Rakyat biasa tidak pernah menuntut hal-hal yang luar biasa, mereka hanya mendambakan hal sederhana yang mampu meningkatkan taraf hidup mereka, mampu meningkatkan kesejahteraan, hidup aman, nyaman dan tentram. Mewujudkan dan melanjutkan cita cita pemenang sejati, ada beberapa hal yang perlu diingat.

Pertama; Jangan pernah melupakan janji. Al-Qur’an telah menjelaskan betapa pentingnya janji untuk ditepati, “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra, ayat 34). Menempati janji adalah salah satu indikator ketakwaan manusia yang mengucapkannya. Sebaliknya, mengingkari janji yang telah diucapkan mengindikasi orang tersebut berpribadi jelek. Bahkan Nabi menyebutnya dengan munafik. Ada tiga ciri orang munafik, satu diantaranya adalah mengingkari apabila ia berjanji. Tentu petakan besar, jika pemimpin sebuah negeri bertitelkan munafik. Sebab visi munafik adalah menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran. Akibatnya, semua program yang mendukung kesuksesan dan kelanggengan Islam tidak akan pernah terealisasikan.

Cinta dan janji adalah dua hal yang selalu jalan seiring, menempati janji adalah bukti cinta sejati. Melalui tulisan ini, ingin disampaikan bahwa rakyat butuh cinta sang pemimpinnya. Cinta pemimpin kepada rakyatnya diwujudkan dalam setiap aksi sebagai wujud realisasi janji, bukan hanya tersampaikan lewat cerita yang hanya menjadi kenangan menyeramkan saat kisah itu diceritakan kembali. Banyak yang bilang bahwa cinta mampu mengubah wajah dunia, mengubah kelam menjadi terang. Cinta pemimpin akan mampu mengubah kehidupan rakyat, melahirkan kesejahteraan serta menciptakan kemakmuran dan ketrentraman. Kita mungkin lupa dengan keluhan rakyat biasa, keluhan mereka setiap tahun tetap sama yaitu ketika musim tanam padi tiba, pupuk melonjak luar biasa, tiba musim panen harga gabah tidak sebanding. Saat Ramadhan tiba, semua harga kebutuhan pokok melonjak beberapa kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Semakin cerita sejahtera diulang-ulang, makin nampak bahwa rakyat melarat dan menderita.

Menempati janji sama halnya membalikkan dinamikan yang menjadi buah bibir masyarakat. Di sisi lain, rakyat akan bangga jika pemimpinnya selarah antara kata dan tindakan serta tidak melupakan janji yang pernah diucapkan. Gambaran di atas hanya sebahagian dari potret rakyat biasa, semoga para pemenang merasakan hal yang sama. Hal yang pernah rakyat alami dan derita di negeri yang katanya hasil alamnya melimpah, negeri yang selalu diceritakan sejahtera oleh para pemimpinya, tapi rakyat tetap melarat, dan merana.

Kedua, dengarlah nasehat ulama. Ulama dan umara (penguasa) adalah pasangan yang tak dapat dipisahkan, dua kekuatan besar ini merupakan peyangga kehidupan yang kokoh, jika salah satunya pincang maka rusaklah kehidupan ini. Ulama-Umara adalah mitra sejajar yang saling membutuhkan dan melengkapi guna menyelamatkan kehidupan ummat. Membuka sejarah masyarakat madani kota Madinatul Munawwarah, Rasulullah adalah pemimpin tertinggi dalam bidang Agama dan juga petinggi dalam urusan Negara, tidak ada persoalan yang tidak tuntas saat itu, tidak ada perselisihan yang tidak dapat dilerai kala itu. Kehidupan saat itu aman, tentram dan selalu dalam keridhaan Allah. Mengapa demikian, karena dua pilar ini berjalan sebagaimana mestinya, dua kekuatan ini disandang oleh Nabi Muhammad saw. Sekarang, tentu sulit menemuka figur yang memiliki dua pilar sekaligus yaitu ulama dan umara. Solusinya, saling melakukan sinergisitas satu sama lain, melakukan hubungan yang saling memperkuat dan menguntungkan, demi menjaga stabilitas ummat.

Umar bin Khattab, setelah melakukan pelantikan Gubernur selalu menyampaikan pesan :”Dengarlah nasehat orang orang shaleh, karena melalui mulut mereka akan terbuka semua rahasia.”

Ulama tampil menjadi penasehat dengan ilmu yang dimilikinya, umara pun tampil tegas dengan petunjuk dan nasihat ulama, sehingga setiap kebijakan dan program selalu dalam koridor yang telah ditentukan syara’. Memposisikan diri sesuai tugas dan fungsi tentu menjadi salah satu cara dalam mewujudkan sinergisitas, ulama selalu menjadi panutan dan pelita, umara pun adil dalam menjalankan kekuasaan, menghormati ulama dan mengayomi rakyat.

Ketiga, Berbuatlah kebaikan untuk semua kalangan. Dalam Pilkada pasti ada kawan (tim sukses) dan juga lawan. Ketika menang, yang kawan akan semakin merajai dan jumawa dengan kemenangan, bahkan timses beralih fungsi menjadi tim sa’h (pembisik). Akibatnya, kelompok lain akan terpinggirkan, apalagi penentang saat Pilkada. Jika terjadi, kondisi ini akan memperparah situasi sosial dalam masyarakat, serta menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang terdekat dan mendapat akses langsung dengan penguasa akan semakin kaya, sementara yang lain akan semakin merana. Kondisi ini tentu sangat tidak diharapkan, apalagi dengan belajar dari pengalaman pengalaman terdahulu.

Hadist maja Aceh mengingatkan bahwa “Meunyoe get niet dengan qasad, laot darat Allah peulara” (Jika benar niat dan tujuan, Allah pasti akan menyelamatkan). Jika pemimpin tidak pilih kasih, rakyat akan bahagia dan terpaut kasih dengan pemimpinya. Doa dari rakyat untuk pemimpinya adalah spirit luar biasa yang kedahsyatannya belum dapat dibuktikan dengan pendekatan empiris. Keberhasilan pemimpin sangat tergantung dari dukungan rakyat. Untuk itu, semua rakyat butuh perhatian dan kasih sayang.

Semoga pesan ini menjadi renungan dan nasib Aceh lima tahun ke depan akan lebih baik, lebih sejahtera, mudah dalam beribadah serta diberi keberkahan dalam mencari rezeki. Selamat untuk pemenang, jadilah pemenang sejati dengan memegang teguh janji. Jangan korbankan kehidupan rakyat demi kebahagiaan sesaat.

* Zarkasyi Yusuf, Penulis adalah Alumni Dayah Tgk Chik di Reung-Reung Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, sekarang bekerja sebagai ASN Pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id