20 Ton Padi Membusuk | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

20 Ton Padi Membusuk

20 Ton Padi Membusuk
Foto 20 Ton Padi Membusuk

* Ekses Listrik Padam

SIGLI – Usaha kilang padi modern di Pidie, menjadi salah satu dari sekian banyak sektor usaha yang paling dirugikan akibat padamnya listrik PLN dalam beberapa hari ini. Laporan diterima Serambi dari pengusaha kilang padi, Selasa (4/4), tak kurang dari 20 ton padi di Kecamatan Sakti dan Tiro, membusuk setiap harinya. Penyebabkan, listrik tak stabil membuat mesin pengering (dryer) padi rusak.

M Yusuf Syamaun (47), pemilik kilang padi di Kecamatan Sakti, mengatakan listrik yang hidup-mati telah merusak komponen mesin pengering, sehingga mesin miliknya pun berhenti beroperasi. Padahal mesin ini sangat penting untuk mengolah padi yang masih memiliki kadar air tinggi. Jika tak dikeringkan segera, padi pun membusuk.

“Kami sudah berupaya menggunakan genset dengan menghabiskan BBM 30 liter per jam. Namun genset ini tidak maksimal menjalankan mesin pengering padi, dan saat ini sudah 20 ton padi membusuk akibat listrik padam,” ungkapnya.

Biasanya, padi yang baru dipanen itu, langsung dimasukkan ke dalam alat pengering yang bekerja 23 jam. “Tapi, karena listrik mati tiga kali sehari, alat pengering tidak bisa bekerja 23 jam. Di Kecamatan Sakti, listrik PLN mati setiap pukul 11.00 WIB, pukul 14.00 WIB dan pukul 19.00 WIB,” rincinya.

Ia mengatakan, saat listrik normal, kilang padi miliknya mampu mengeringkan padi hingga 60 ton per hari yang bekerja siang dan malam. “Namun sejak listrik hidup-mati, sebanyak 20 ton padi tidak bisa dikeringkan dan akhirnya padi tersebut membusuk,” ungkapnya.

Ia mengaku sudah melaporkan hal ini kepada PLN, agar dicari solusi penyediaan listrik untuk usaha masyarakat. Karena menurutnya, saat ada perbaikan, PLN bertanggung jawab kepada pelanggan dalam menyediakan sumber energi alternatif, baik bersumber dari genset milik PLN atau cara lainnya.

“Anehnya, kalau kami terlambat membayar tagihan listrik, satu hari didenda Rp 1,2 juta. Giliran pelanggan butuh listrik, PLN malah diam. Padahal saya membayar iuran listrik Rp 45 juta per bulan. Karena itu saya menuntut PLN mengganti kerugian usaha saya,” ujar M Yusuf. Jadwal tak jelas

Pengusaha kilang padi lainnya di Kecamatan iro, Cut Ali Puteh (47), juga mengaku mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat listrik padam. Karena biaya operasional jika menggunaan genset untuk menghidupkan mesin, tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

Ia juga mempersoalkan jadwal pemadaman listrik yang tidak menentu dalam tiga minggu ini. Sehingga sangat mengganggu kinerja mesin bahkan membuat mesin tersebut rusak.

“Padahal saat ini kami sedang mengejar target mengolah padi karena saat ini sedang musim panen. Namun persoalan listrik ini menjadi masalah utama dan sangat bertentangan dengan program ketahanan pangan yang digembar-gemborkan pemerintah,” tegas Cut Ali.

Manager PT PLN Area Sigli, Haris Andika yang dihubungi Serambi, Selasa (4/4) mengatakan, seringnya pemadaman listrik terjadi di Pidie karena terhentinya suplai arus dari PLTU Nagan Raya, dan terganggunya sistem transmisi suplai listrik dari Medan (Sumatera Utara).

“Namun, untuk sistem transmisi dari Medan kini telah normal, seiring pergantian kabel tegangan tinggi telah selesai dilakukan. Kemarin, banyak dilakukan pemadaman karena pemasangan kabel tegangan tinggi sempat terpending,” katanya.

Pengantian kabel yang menerima suplai listrik sistem transmisi dari Medan ini diganti, karena beban listrik di Aceh semakin tinggi.

Dikatakan, meski sistem transmisi Medan telah normal, tapi pemadaman masih terjadi dalam durasi yang lebih singkat. Artinya pemadaman bisa terjadi 4 MW, dari pemadaman sebelumnya mencapai 25 MW. “Kalau beban tinggi terpaksa dilakukan pemadaman. Tapi, kalau beban rendah, pemadaman bisa dihindari,” jelasnya.(naz) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id