Petani Bandarbaru Tolak Program Sawit | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Petani Bandarbaru Tolak Program Sawit

  • Reporter:
  • Rabu, April 5, 2017
Petani Bandarbaru Tolak Program Sawit
Foto Petani Bandarbaru Tolak Program Sawit

MEUREUDU – Perwakilan petani sejumlah gampong di Kemukiman Jalan Rata dan Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya (Pijay) menolak rencana pengembangan kelapa sawit yang diprogramkan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Pijay tahun ini.

Alasan penolakan yakni komoditi dimaksud dinilai rawan serangan gajah liar, serta berdampak buruk terhadap lingkungan. Karena tanaman ini dinilai sangat rakus mengonsumsi air di sekitarnya, yang mampu menyedot air tanah hingga kedalaman belasan meter. Hal ini dikhawatirkan bisa mempengaruhi debit air di sungai yang menjadi andalan petani sawah.

“Kami menolak pengembangan kelapa sawit dan meminta komoditi lain untuk ditanam dan dikembangkan di wilayah ini,” kata H Ismail Usman, Imum Mukim Jalan Rata, dibenarkan Drs H Sulaiman Daud, Imum Mukim Cubo serta M Yusuf Mahmud, Keuchik Gampong Kayeue Jatoe Kemukiman Cubo, kemarin.

Ia mengungkapkan pengalaman petani di sejumlah daerah ini, tanaman sawit termasuk makanan favorit gajah. Buktinya, seluas kurang lebih 20 hektare tanaman sawit milik petani setempat yang baru berumur tiga bulan, belum lama ini punah disantap gajah. Selain kelapa sawit, komoditi lainnya yang juga sering menjadi sasaran utama gajah yakni tanaman pinang dan pisang.

“Kami berharap pemerintah mengembangkan tanaman selain tiga komoditi yang ini, untuk menghindari kerugian besar bagi petani,” sarannya. Apalagi, persoalan gangguan gajah liar selama ini juga tidak mampu diatasi oleh pemerintah.

Karena itu tanaman yang disarankan petani untuk dikembangkan di daerah ini, yaitu rambutan, coklat, duku, durian, atau kopi robusta. Sejumlah komoditi tersebut, menurut petani setempat tumbuh dengan baik dan kurang diminati gajah, serta harga komoditinya pun kini cukup menjanjikan.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Pijay, Burhanuddin SP yang dikonfirmasi terpisah, mengaku memiliki rencana pengembangan kelapa sawit seluas 200 hektare di kawasan Uteuen Gampong Abah Lueng, Bandarbaru, yang beranggotakan sekitar 200 orang petani. Pengembangan komoditi ini akan didukung anggaran Pemkab Pijay (APBK tahun 2017) sebesar Rp 5 miliar.

Tidak ada penjelasan darinya apakah pengusulan program ini sudah dikomunikasikan sebelumnya kepada petani atau hanya keinginan pihak pemerintah saja. Namum ia mengakui bahwa alasan petani yang mengatakan komoditi dimaksud rawan serangan gajah, memang ada benarnya. “Tapi jika disebut bahwa sungai bakal mengering akibat serapan air yang banyak oleh tanaman sawit, masih perlu penelitian lebih lanjut,” katanya.

Menurutnya, program pengembangan tanaman sawit ini akan tetap dilaksanakan. Artinya, saran dari perwakilan petani ini akan diabaikan dan Pemkab melalui Dishutbun Pijay akan tetap menjalankan program pengembangan kelapa sawit tersebut.

“Jika kelak terjadi persoalan seperti serangan gajah, akan ditempuh upaya pencegahan. Yang penting kita jalankan saja dulu. Jika ada kendala, tentu pemerintah tak tinggal diam,” kata Kadisbunnak Pijay itu.(ag) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id