‘Robohnya Kakbah Kami’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Robohnya Kakbah Kami’

‘Robohnya Kakbah Kami’
Foto ‘Robohnya Kakbah Kami’

Oleh Usamah El-Madny

IBARAT manusia, Partai Persatuan Pembanguan (PPP) sedang “sakit”. Dualisme kepengurusan adalah satu penyakit yang sedang hinggap di tubuh PPP akhir-akhir ini. Sebernarnya penyakit ini bukanlah penyakit kronis yang mematikan, karena Partai Golkar juga pernah terjangkit penyakit serupa.

Yang membedakan PPP dengan Partai Golkar adalah kemampuan mendiagnosa dan tindakan medis yang cepat dan akurat. Partai Golkar kemudian berhasil sembuh dari penyakit yang dideritanya, sedangkan PPP terus dalam kondisi sakit yang mungkin disebabkan diagnosa medis keliru dan salah jeb ubat. Salah minum obat menyebabkan penyakit tidak sembuh bahkan tambah parah.

Sebenarnya ketika muncul dualisme kepengurusan PPP –kubu Romahurmuzy dan Djan Farid– masyarakat yang selama ini menggantung harapan politik pada PPP masih belum putus asa. Masyarakat masih yakin bahwa dualisme itu hanya bersifat temporer dan merupakan dinamika demokrasi internal PPP yang dalam waktu tidak terlalu lama akan ada jalan keluar. Lebih-lebih lagi sekalipun dualisme, kedua kubu tersebut memiliki ideologi yang sama dan selalu dalam bimbingan para alim ulama.

Bahkan, ketika PPP Kubu Djan Farid mendukung Ahok –pemimpin nonmuslim– sebagai Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta, di mana tindakan tersebut merupakan kejadian di luar mainstream sejarah, politik dan ideologi PPP, konstituen PPP justru belum terlalu kecewa. Saat itu konstituen PPP masih berpikir sederhana, “Biarlah PPP Djan Farid mendukung pemimpin kafir, kan masih ada PPP Romy yang setia bersama umat menolak pemimpin nonmuslim.”

Tetapi ketika di kemudian waktu, PPP Romy juga ikut-ikutan mendukung Ahok-Djarot, maka pupuslah sudah harapan dan segenap kebanggaan sebagian umat yang selama ini mereka tautkan pada PPP dari masa ke masa. Meminjam adagium orang Aceh, apa yang dilakukan PPP tersebut tidak lebih ibarat publoe kameng bloe eungkong.

Aceh adalah satu basis kultural dan sejarah PPP, sekalipun PPP di Aceh dari waktu ke waktu semakin kurang popular. Pun demikian, jika PPP tidak memilih aksi bunuh diri dengan mendukung Ahok-Djarot, maka PPP di Aceh –yang karena hubungan sejarah dan kultural– insya Allah tetap memiliki tempat istimewa di hati rakyat Aceh dan sangat terbuka peluang untuk move on.

Tetapi ketika PPP menganggap opsi mendukung pemimpin kafir lebih baik dan spesial, maka rakyat Aceh menjadi sangat terkejut bahkan lebih terkejut dari mendengar bunyi halilintar di siang bolong. Mereka seperti tiba-tiba menjadi sadar ternyata issu-issu keagamaan yang selama ini didengungkan PPP hanyalah trade mark alias merek dagang semata. Tidak berbeda dengan modus Perindo mendukung Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta.

Pilihan sulit?
Banyak yang menduga perubahan sikap mendadak PPP Romy mendukung pasangan Ahok-Djarot merupakan pilihan yang sulit. Sebagaimana diketahui legalitas formil PPP Romy-Djan Farid sangatlah ditentukan oleh pengakuan pemerintah melalui Kemenkumham. Selama ini pemerintah hanya mengakui keabsahan PPP Romy. Legalitas ini dapat saja berubah sesuai dinamika politik yang ada.

Sedangkan di saat bersamaan, PPP Djan Farid terus melakukan manuver “cantik”. Djan Farid merasa, melihat bahkan membaca ada semacam “kecenderungan” hati pemerintah kepada pasangan Ahok-Djarot yang didukung oleh sejumlah partai koalisi pemerintah, yang mana bila momentum ini dimanfaatkannya dengan baik, maka akan ada peluang pergeseran legalitas pemerintah dari PPP Romy ke PPP Djan Farid.

Dari beberapa sumber media, disebutkan bahwa sejumlah partai besar pendukung Ahok-Djarot yang juga partai koalisi pemerintahan Jokowi-JK, bahkan telah beberapa kali melakukan pertemuan dalam rangka mencari solusi untuk mengalihkan stempel legalitas pemerintah dari PPP Romy ke PPP Djan Farid. Dan sepertinya Pemerintah Jokowi-JK juga telah menyampaikan pesan verbal akan ada dinamika politik semacam ini kepada PPP Romy.

Bila benar demikian maka posisi PPP Romy sangat dilematis. Di satu sisi PPP Romy ingin tetap menjaga suasana batiniah konstituennya yang sangat sensitif dengan issu pemimpin nonmuslim. Sedangkan di sisi lain di saat bersamaan PPP Romy sangat membutuhkan pengakuan dan legalitas formil dari pemerintahan Jokowi-JK untuk dapat eksis. Memang PPP menghadapi pilihan sulit, seperti sama sulitnya umat untuk memahami keputusan politik PPP itu.

Tapi terlepas dari situasi dilematis yang demikian, tindakan PPP mendukung Ahok-Jarot adalah tindakan menggali kubur sendiri. PPP telah melakukan tindakan bunuh diri yang patut disesalkan.

Sejarah parpol Islam di Indonesia juga akan mencatat dengan baik bahwa salah satu prestasi luar bisa PPP –baik kubu Romy maupun Djan Farid– adalah menghancurkan PPP setelah dengan susah payah dibangun oleh para alim ulama dan pemimpin umat tempo doeloe.

Kehilangan kendali
Dengan keputusan politik mendukung Ahok-Djarot, maka dengan kesadaran penuh PPP dengan tangannya sendiri telah melakukan pemutusan mata rantai sejarah, ideologi juga tradisi dengan masa lalu PPP. Dengan tindakan tersebut, di mata umat PPP telah kehilangan argumentasi sejarah yang selama ini menjadi pertimbangan umat mendukung PPP. PPP juga telah kehilangan kendali untuk mengelola emosi ideologis dan batiniah umat agar tetap mendukung PPP sebagai rumah besar umat Islam yang berlambangkan Kakbah.

Dengan kondisi seperti ini PPP dapat saja segera menjadi fosil sejarah. Ke depan tokoh-tokoh PPP akan kehilangan kata-kata untuk meyakinkan umat bahwa PPP adalah partai yang layak dipercaya untuk memperjuangkan aspirasi mereka. Bukan tidak mungkin juga setelah keputusan politik seperti ini, aka ada pihak-pihak dari kalangan umat yang akan meminta agar PPP perlu segera mempertimbangkan kembali layak tidaknya partai ini memakai gambar Kakbah sebagai lambang partai. Mungkin sangat banyak lambang lainnya yang cocok untuk kondisi PPP hari ini, tanpa harus membawa-bawa Kakbah sebagai kiblat beribadah umat Islam.

Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai empati saya kepada PPP. Dalam perjalanan hidup saya, saya punya hubungan emosional dan romantisme dengan PPP. Dulu ketika saya kecil di pedalaman Aceh Utara, ayah saya yang sehari-hari sebagai petani, guru ngaji dan tokoh agama di sana adalah pendukung utama dan “provokator” yang selalu bekerja tanpa pamrih memenangkan PPP dalam setiap pemilu. Ketika itu, menjadi pendukung PPP di era Orba bukanlah perkara mudah, bahkan ayah saya pernah beberapa kali nginap di kantor Koramil karena mendukung PPP. Maka ketika 26 tahun lalu saya meninggalkan kampung halaman, saya tetap menghormati dan mengenang orang tua saya dengan cara terus dan konsisten berempati kepada PPP.

Di masa SMA dulu saya begitu suka membaca novel karya AA Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami. Hari ini, di usia saya yang semakin menua, saya sedih membaca magnum opus Romy-Djan Farid dengan judul yang bombastis dan spektakuler, Robohnya Kakbah Kami.

* Usamah El-Madny, S.Ag, MM., peminat issu sospol tinggal dipinggiran Aceh Besar. Email: [email protected] (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id