Pasca Putusan MK, Ikhlaslah! | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pasca Putusan MK, Ikhlaslah!

Pasca Putusan MK, Ikhlaslah!
Foto Pasca Putusan MK, Ikhlaslah!

Delapan dari sembilan gugatan sengketa pemilihan kepala daerah (pilkada) dari Aceh ditolak Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam sidang pleno pengucapan putusan dismissal, Senin dan Selasa (3-4/4), di Gedung MK, Jakarta, majelis hakim menyatakan, para pemohon tidak memenuhi ketentuan pengajuan permohonan.

Menurut majelis hakim MK, persyaratan yang tak dipenuhi pemohon adalah sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 158 ayat (2) huruf b UU Nomor 8 Tahun 2015 sebagaimana telah diubah dengan UU 10 Tahun 2016 dan Pasal 7 ayat (2) huruf b PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1 Tahun 2017. Karenanya, pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan perkara a quo.

“Dengan demikian, eksepsi termohon dan eksepsi pihak terkait mengenai kedudukan hukum (legal standing) pemohon adalah beralasan menurut hukum,” demikian majelis.

Pasca Pilkada kali ini, dari Aceh tercatat sembilan pasangan kepala daerah yang mendaftarkan permohonan gugatan sengketa pilkada ke MK, yaitu dari Aceh Timur, Bireuen, Pidie, Kota Langsa, Aceh Utara, Aceh Singkil, Abdya, Nagan Raya, Gayo Lues, dan Pilkada Gubernur Aceh.

Dari jumlah itu, hanya gugatan dari Gayo Lues yang belum ada vonis dismissalnya. Menurut jadwal, gugatan dari Gayo Lues ini putusannya akan dibacakan pada 11 April 2017. Dilihat dari persyaratan formal, gugatan dari Gayo Lues yang diajukan pasangan calon Abdul Rasad-Rajab Marwan ini akan bisa diterima MK. Sebab, pasangan penggugat hanya berselisih tak sampai dua persen dari pasangan Muhammad Amru-Said Sani.

Penolakan gugatan dari Aceh itu bukan semata-mata karena tak memenuhi syarat formal tentang selisih suara, tapi ada juga sebab lain. Misalnya, pengajuan gugatan terlambat dan tidak lengkap.

Yang menjadi pertanyaan banyak masyarakat adalah apa yang terjadi pasca putusan MK itu. Di media sosial banyak yang persoalkan tentang adanya orang-orang yang berjanji potong tangan, atau mundur dari dewan jika jagoannya kalah. Kita tidak tahu apakah janji potong tangan dan mundur dari dewan itu serius atau tidak, yang pasti banyak netizen menyoal itu sejak sepekan terakhir.

Bagi kita, yang penting bukan mundur atau tidak, bukan juga potong tangan atau tidak, akan tetapi bagaimana semua orang memiliki jiwa besar untuk menerima hasil Pilkada dan putusan MK. Itulah sebabnya sejak awal para kontestan Pilkada di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi sudah diingatkan untuk menjadi petarung siap menerima kemenangan secara amanah, juga siap menerima kekalahan dengan jiwa besar. Makanya, pasca putusan MK ini harusnya kita meninggalkan perbedaan pada masa Pilkada dan mengenakan “seragam” serta semangat yang sama untuk kemajuan Aceh ke depan.

Harapan itu bisa tercapai bukan cuma kesiapan mental untuk menerima kekalahan dengan jiwa besar, tapi juga paslon yang menang bersama pendukungnya jangan tinggi hati. Sebab, kemenangan sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah dilihat pada keberhasilannya membangun daerah dan menyejahterakan rakyat kelak. (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id