Terobosan Diaspora Aceh di Pulau Penang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Terobosan Diaspora Aceh di Pulau Penang

Terobosan Diaspora Aceh di Pulau Penang
Foto Terobosan Diaspora Aceh di Pulau Penang

OLEH SAID ACHMAD KABIRU RAFIIE MBA, Mahasiswa Program Doktoral Graduate School of Business University Sains Malaysia, melaporkan dari Penang, Malaysia

PENGARUH Kesultanan Aceh dalam menyebarkan Islam ternyata tidak hanya sebatas Nusantara, tapi juga memiliki pengaruh besar hingga mencakup Asia Tenggara. Hal ini saya temukan ketika sedang berada di Perpustakaan University Sains Malaysia membaca sebuah tesis karya sejarawan Aceh, Dr Bustami “Kajian Dispora Kebudayaan Aceh dan Indentiti Masyarakat Aceh di Yan Kedah” serta buku klasik sejarawan Prancis, Denys Lombard, berjudul “Kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda” (1607-1636).

Untuk membuktikan tentang dispora Aceh di Pulau Penang, saya bersama teman-teman dari Aceh lainnya berupaya mencari informasi mengenai situs Islam di pulau ini.

Timbul rasa penasaran akan tulisan tersebut tentang penyebaran Islam di Penang oleh lelulur orang Aceh. Penyebaran etnik Aceh di Pulau Penang yang saya baca dari buku sejarah membawa saya ke masjid tertua di Pulau Penang, yakni Masjid Jamek Lebuh Acheh Pulau Pinang. Ini merupakan bukti sejarah pengaruh Kesultanan Aceh dalam menyebarkan Islam di Asia Tenggara, sekaligus terobosan yang dilakukan diaspora Aceh generasi awal di Pulau Penang.

Masjid Acheh ini selesai dibangun tahun 1808 oleh kerabat Kerajaan Aceh sekaligus saudagar Aceh, Teungku Syed Hussain Al-Aidid. Masjid ini hadir di tengah-tengah perkampungan Aceh di kawasan wisata ternama Pulau Penang, George Town yang merupakan salah satu destinasi wisata kota tua yang ditabalkan oleh Unesco sebagai World Heritage Site.

Teungku Syed Hussain Al-Aidid, orang Aceh keturunan Yaman, datang ke Penang tahun 1792. Perkembangan komunitas Aceh di Penang sangatlah pesat pada abad ke 18-19, sehingga dibangun sebuah masjid yang mmeiliki ciri khas keacehan. Hal ini dilihat dari adanya kolam tempat berwudhuk, sekaligus mimbar yang memiliki corak kaligrafi Aceh. Mihrab masjid juga memiliki kemiripin dengan mihrab masjid-masjid di Aceh.

Saat berada di dalam masjid tersebut, saya merasakan getaran kebesaran Kesultanan Aceh dalam menyiarkan Islam di Pulau Penang. Dalam percakapan dengan pengurus masjid, saya peroleh cerita bahwa saudagar Aceh telah ada di Penang sejak abad ke 17-19 dan penang merupakan tempat transit kapal jamaah haji yang akan menuju Mekkah. Peran saudagar Aceh dalam pembangunan penang dan juga dalam menyebarkan ajaran Islam terlihat jelas dalam kawasan kota tua Lebuh Acheh.

Setelah selesai melaksanakan shalat Zuhur berjamaah dan shalat sunah, saya juga mendatangi makam Teungku Syed Hussain Al-Aidid yang berada di samping kompleks masjid. Kebetulan teman saya mahasiswa arkeologi dari Aceh yang sedang menempuh pendidikan di University Sains Malaysia dengan penelitian tentang batu nisan peningalan Kerajaan Aceh.

Setelah melihat makam tersebut, kawan saya itu menyatakan bahwa batu nisan tersebut khusus dibawa dari Aceh karena bahan batuannya hanya ada di Aceh, sedangkan batu nisan yang ada di sampingnya berbeda karena batu nisan itu dihasilkan di Penang.

Hal ini membuat hati saya takjub akan usaha para leluhur Aceh dalam menyiarkan Islam, tidak hanya di Nusantara, tapi juga di Asia Tenggara, sehingga sudah selanyaknyalah Aceh merupakan Titik Nol Islam untuk Asia Tenggara.

Semoga akan banyak kajian mengenai sejarah dan arkeologi Islam Aceh pada masa yang akan datang oleh generasi muda kita, karena tanpa mengenal sejarah bangsanya, maka kita tidak akan mengenal diri kita sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi syedara lon bandum yang na di Aceh.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected]URI.co.id (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id