Kemandirian Haikal, Pelajaran Bagi Kita | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kemandirian Haikal, Pelajaran Bagi Kita

Kemandirian Haikal, Pelajaran Bagi Kita
Foto Kemandirian Haikal, Pelajaran Bagi Kita

Cerita dan video aktivitas Muhaikal yang masih berusia kurang dari empat tahun, sejak dua hari lalu menjadi viral di media sosial. Anak pertama dari pasangan Indra Purnama (31) dan Nur Aida (27), warga Gampong Keude Blang, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur, itu menarik perhatian karena ia memfungsikan kedua kakinya sebagai tangan.

Ya, Muhaikal yang sehat, putih, dan menggemaskan itu merupakan balita yang terlahir tanpa kedua tangan. “Saya ingin sekolah di SD. Cita-cita ingin jadi tentara atau dosen,” ungkap Haikal sambil tersenyum manis.

Selain pintar bicara, Haikal juga pintar menghitung dari satu sampai sepuluh. Ia juga pintar menghafal beberapa doa. Akan tetapi, yang menarik dan membuat kita terenyuh, ternyata Haikal sudah bisa makan, minum, dan mandi sendiri dengan memfungsikan kedua kakinya sebagai tangan. Termasuk belajar menulis dengan mengapit ballpoint di jari induk kaki kirinya. Hal ini dipraktekkan Haikal secara perlahan dan lincah. Luar biasa, Mahabesar Allah Swt atas setiap ciptaan-Nya.

Haikal, keluarganya, serta pemerintah Kabupaten Aceh Timur telah memberi banyak pelajaran kepada kita semua, terutama bagi siapapun yang memiliki anggota keluarga mengalami cacat fisik atau mental.

Ya, terutama keluarganya telah mengajarkan kemandirian bagi Haikal. Dan, pemerintah Aceh Timur juga telah memberikan hak bagi Haikal sebagai penyandang disabilitas atau cacat. Pemkab Aceh Timur membantu biaya hidup Haikal Rp 250.000 tiap bulan. Bagi, pemerintah, bantuan itu adalah “investasi” untuk masa depan Haikal. Sebagai penyandang disabilitas, Haikal diharapkan menjadi warga yang mandiri kelak. Insya Allah!

Dengan semangat yang dimiliki, ditambah lagi dorongan dari keluarga, pemerintah, dan masyarakat, Haikal tentu bisa “memilih” apapun profesinya kelak. Tentu saja sesuai dengan keterbatasan yang ia miliki. Misalnya, ia bisa menjadi dosen, pelukis, ahli teknologi dan informasi, dan lain-lain.

Pelajaran penting bagi kita semua adalah keterbukaan keluarga dengan sikap tak minder. Sejak dini mereka telah mengajarkan Haikal untuk hidup tanpa harus tergantung pada bantuan orang lain. Sesungguhnya penyandang disabilitas itu memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh orang normal. Potensi inilah yang kurang digali oleh banyak keluarga yang memiliki anak penyandang disabilitas.

Padahal, kita tahu saat ini ada begitu banyak penyandang cacat fisik yang telah mengguncang dunia. Ada yang menjadi programer komputer atau ahli IT dan lain-lain. Telenta itu ada karena ada usaha dari kita semua menggalinya. Ya, seperti yang kini dilakukan oleh ayah dan ibu Muhaikal.

Bagi pemerintah, penyandang disabilitas yang telentanya tak tergali, tentu akan menjadi masalah di kemudian hari. Lihat saja di seluruh dunia begitu banyak penyandang disabilitas yang menjadi peminta-minta yang hidup sangat memprihatinkan. Oleh sebab itu, galilah bakat-bakat “ajaib” jika memiliki anggota keluarga yang menyandang disabilitas atau cacat. Tidak perlu minder, apalagi sampai disembunyikan. Selamat berjuang Muhaikal! (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id