Bertaruh Nyawa Demi Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bertaruh Nyawa Demi Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga

Bertaruh Nyawa Demi Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga
Foto Bertaruh Nyawa Demi Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga

* Melihat Perempuan Pemotong Pucuk Nipah di Sarang Buaya

Sebagai pengepul, Mira serta warga lain harus bertaruh nyawa mengambil daun nipah muda dari daerah Singkil Lama yang dikenal sebagai sarang buaya. Namun ancaman dimangsa buaya tersebut tidak ada artinya dengan dorongan Mira bersama rekan-rekannya memenuhi kebutuhan hidup.

SECEPAT kilat tangan kanan Meli mengayunkan golok sepanjang 30 centimeter memotong pucuk daun nipah. Tangan kirinya tak kalah gesit. Ia melempar potongan daun ke tumpukan sebelah kiri tempat duduknya. Sesekali ia berteriak mengingatkan putranya yang masih balita menjauh dari pinggir sungai Rintis, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, tempat perempuan setengah baya itu bekerja memotong daun nipah muda.

Di lain waktu Meli tetap awas, matanya memantau keberadan sang anak. “Membantu suami, daripada tidur di rumah itu jauh lebih baik agar asap dapur bisa mengepul di rumah,” kata Meli, penduduk Siti Ambia sambil menyeka keringat kepada Serambi kemarin. Sambil berlindung di bawah tenda biru, ibu dua anak ini harus memeras peluh lebih kuat agar tumpukan daun nipah yang dipotongnya lekas selesai. Minimal 300 kilogram.

Setiap 1 kilogram potongan daun nipah ia mendapat upah Rp 100. Bila berhasil memotong 300 kilogram, artinya ia pulang ke rumah dengan membawa uang Rp 30.000. Cukup membantu meringankan beban suaminya yang sehari-hari berkerja sebagai tukang becak. Ibu rumah tangga lainnya Habibah, tak kalah gesit. Di dekatnya sudah ada seikat daun nipah hasil potongan serta tumpukan lainnya yang masih disusun. Baginya cuaca panas tak menjadi penghalang dalam mencari penghasilan tambah bagi suaminya sebagai nelayan.

Di sepanjang pinggir sungai Rintis, terdapat belasan perempuan usia 30-an lainnya yang berprofesi sebagai pemotong pucuk nipah. Mereka bekerja berkelompok. Tiap kelompok tiga orang perempuan, satu di antarnya merupakan bos atau pengepul. Meli dan Habibah bekerja satu kelompok dengan bosnya, Mira sebagai pengepul. Statusnya sebagai bos, Mira tetap ikut bekerja memotong.

Walau salah satu jarinya sudah dibungkus kain akibat luka sayatan parang. Tugasnya pun terbilang berat. Selain memotong, ia juga harus membatu suaminya mengambil bahan baku daun nipah.

Sebagai pengepul, Mira menjual nipah kepada bos besar Rp 600 per kilogram. Ia mengaku ingin menaikan upah Meli dan Habibah. Namun tidak memungkinkan jika penampung besar tidak menaikan harga beli pucuk nipah darinya. “Kalau harganya naik, pasti naik juga untuk ongkos memotong,” ujar Mira sambil tersenyum.

Sarang buaya
Pekerjaan memotong daun nipah muda yang dilakoni Meli, Habibah dan Mira cukup membantu penghasilan masyarakat daerah aliran sungai yang selama ini bergantung dengan mencari lokan (kerang sungai). Sebagai pengepul, Mira serta warga lain harus bertaruh nyawa mengambil bahan baku daun nipah muda dari daerah Singkil Lama yang dikenal sebagai sarang buaya.

Namun ancaman dimangsa buaya tersebut tidak ada artinya dengan dorongan Mira bersama rekan-rekannya memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Para pekerja pemotong nipah sering tak bisa membawa banyak daun nipah sebab perahu yang mereka tumpangi berukuran kecil. Sehingga dalam seminggu perempuan seperti Meli dan Habibah hanya sehari dapat memotong daun nipah yang dikumpulkan bosnya, Mira. “Seminggu cuman sehari bisa memotong, karena perahu pengangkutnya kecil. Nunggu banyak baru dipotong,” kata Mira.

Potensi Lokal
Pelaksana Harian Sekda Aceh Singkil Mohd Ichsan mengatakan, pengrajin pucuk nipah merupakan potensi yang harus mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Ia berjanji akan meminta Disperindag mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi pengrajin serta potensi yang dapat dikembangkan. Menurutnya selama ini warga masih menjual bahan mentah daun nipah muda. Ke depan diupayakan bahan yang dijual ke Medan, Sumatera Utara, tersebut dalam bentuk jadi. Sehingga nilai tambah penghasilan yang diperoleh lebih tinggi.

“Ini potensi lokal, menjadi kewajiban pemerintah membantu mengembangkanya,” kata Asisten I Setdakab Aceh Singkil tersebut. Pucuk nipah biasanya digunakan sebagai penggulung tembakau. Awalnya warga mengupas lalu mengeringkannya dengan cara dijemur kemudian baru dijual. Belakangan masyarakat hanya memotongnya saja setelah itu langsung dijual ke Medan seperti yang dilakukan Meli, Habibah dan Mira.(dede rosadi) (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id