VIDEO Tanpa Kedua Tangan, Haikal Belajar Mandiri | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

VIDEO Tanpa Kedua Tangan, Haikal Belajar Mandiri

VIDEO Tanpa Kedua Tangan, Haikal Belajar Mandiri
Foto VIDEO Tanpa Kedua Tangan, Haikal Belajar Mandiri

NAMANYA Muhaikal, umur 3,8 tahun, anak pertama dari pasangan Indra Purnama (31) dan Nur Aida (27), warga Gampong Keude Blang, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Muhaikal merupakan bocah yang memiliki keterbatasan fisik alias cacat tubuh (tunadaksa). Ia tak memiliki kedua tangan. Cacatnya itu merupakan cacat bawaan sejak dalam kandungan.

Didampingi petugas TKSK Idi Rayeuk, Rahmat Hidayat, Serambi menyambangi rumah Muhaikal, Minggu (2/4). Rasa haru muncul ketika melihat Haikal bercelana pendek dan berbaju kaos dengan lengan pendek, namun tanpa kedua tangan. Sempat terpikir bagaimanakah Haikal menjalani hari-harinya tanpa kedua tangan?

Ternyata tak sesulit yang kita bayangkan. Di hadapan Serambi Haikal dengan cekatan menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Ia tampak sangat menikmati hidupnya meski dalam keterbatasan.

“Nama saya Haikal, umur 3 tahun,” ungkap Haikal menjawab pertanyaan Serambi. “Saya ingin sekolah di SD. Cita-cita ingin jadi tentara atau dosen,” ungkap Haikal sambil tersenyum manis.

Selain pintar bicara, Haikal juga pintar menghitung dari nomor satu sampai sepuluh. Ia juga pintar menghafal doa sebelum tidur, “Bismillahirrahmanirrahim. Bismika allahuma ahya wa bismika amut,” ujar Haikal.

Tak hanya itu, meski baru berumur 3,8 tahun, ia juga sudah mandiri. Bisa makan, minum, dan mandi sendiri menggunakan kedua kakinya. Termasuk belajar menulis dengan mengapit ballpoint di jari induk kaki kirinya. Hal ini dipraktekan Haikal secara berlahan dan lincah. Luar biasa, Mahabesar Allah Swt atas setiap ciptaan-Nya.

“Hanya saat memakai baju yang ia harus dibantu. Tapi ia terus belajar memakainya sendiri,” ungkap Nur Aida, ibunda Haikal.

Semua kebiasaan Haikal ini, jelas Nur Aida, tidak ia ajarkan, melainkan muncul dari kemampuannya sendiri. Bahkan, ia mengaku terharu dengan kemampuan anaknya yang serbabisa saat berusia dua tahun.

Jika Haikal sudah berumur 4 tahun nanti, ungkap Nur Aida, ia berniat menyekolahkan Haikal di TK gampongnya. Jika sudah layak bersekolah ia pun berencana memasukkan Haikal sekolah di SD gampong tempat ia berdomisili.

“Semoga Haikal tidak minder dengan teman-temannya,” ujar Nur Aida lirih.

Kedua orang tua Haikal mengaku bangga dengan anaknya. “Saya ingin Haikal sukses dan berguna bagi nusa dan bangsa,” ungkap Nur Aida.

Sejak mengetahui Haikal lahir dengan kondisi keterbatasan fisik ia ikhlas menerima takdir Ilahi. Ia yakin, Haikal merupakan amanah dari Allah yang harus disyukuri dan diasuh dengan baik.

“Allah Mahaadil, Maha Pengasih, dan Penyayang. Dalam kekurangannya Haikal punya banyak kelebihan. Ia jarang sakit, jarang nangis, bahkan rezekinya dan rezeki kami selalu ada,” ungkap Nur Aida.

Petugas TKSK Idi Rayeuk, Rahmat Hidayat, mengatakan Haikal tergolong anak dengan kedisabilitasan (ADK) yang mendapat bantuan biaya hidup Rp 250 ribu/bulan dari APBK Aceh Timur, disalurkan oleh Dinsos Aceh Timur sejak tahun 2015.

Terkait bantuan ini, Nur Aida mengaku sangat bersyukur, sehingga sejumlah kebutuhan Haikal dapat terpenuhi. Namun saat ini, katanya, Haikal, minta dibelikan Ipad untuk belajar.

Untuk itu, ayahnya, Indra, yang berprofesi sebagai buruh kasar masih berusaha mencari biaya untuk membelikan permintaan si buah hatinya.

Jika ada pihak yang berniat berbagi kebahagiaan dengan Haikal, ungkap Indra, pihaknya bersedia menerima dengan senang hati dan dapat menghubunginya di nomor 085275474437. (seni hendri) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id