Bentuk-Bentuk yang Membedakan Gender | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bentuk-Bentuk yang Membedakan Gender

Bentuk-Bentuk yang Membedakan Gender
Foto Bentuk-Bentuk yang Membedakan Gender

Oleh Mohammad Rizqi – Balai Bahasa Jawa Barat

Dalam bahasa Indonesia sebenarnya tidak dibedakan bentuk-bentuk yang digunakan untuk menyebut laki-laki atau perempuan. Tetapi kita memungut bentuk-bentuk yang membedakan lakilaki dan perempuan dari bahasa Sansekerta “dewadewi”,” putera-puteri”, dan “betara-betari”, sehingga kemudian ada orang yang membentuk kata-kata yang membedakan lakilaki dan perempuan seperti “pemuda-pemudi”, “ s a u d a r a – s a u d a r i “ , “mahasiswa-mahasiswi”, dan lain-lain.

Membedakan laki-laki yang mempergunakan vokal “a” pada suku kata terakhir dengan mempergunakan vokal “i” untuk perempuan. Bentukbentuk demikian itu kemudian ditambah dengan bentuk-bentuk baru seperti “pramugara-pramugari”, “bendahara-bendahari”, dan lain-lain.

Di samping itu, ada juga yang membedakan perempuan denganmengubah akhiran “man” atau “wan” (yang kemudian dianggap hanya untuk laki-laki) dengan “wati” seperti “wartawan-wartawati”, “seniman-seniwati”, “sasterawan-sasterawati”, “ s u k a r e l a w a n – sukarelawati”, dan lainlain.

Bahkan ada juga yang menggunakan bentuk “wati” sebagai penunjuk perempuan, walaupununtuk yang laki-lakinya tidak disebut “wan” atau “man”, yaitu “PII-wati”, sedang para anggota PII (Pelajar Islam Indonesia)yang laki-laki tidak terdengar disebut “PIIwan” atawa “PII-man”.

Tidak semua pihak setuju untuk membedakan laki-laki dengan perempuandengan menggunakan akhiran seperti itu. Ada yang merasa keberatan terhadapnya. Gadis Rasid (1921-1988) yang seumur hidupnya menjadi wartawan, tidak suka kalau disebut “wartawati”.

Bagi dia wartawan hanya satu,tak peduli laki-laki atau perempuan. Dan yang bersikap seperti itu tidak hanya Gadis saja. Kaum feminis banyak yang keberatan digunakannya akhiran yang membedakan laki-laki dan perempuan. Buat mereka cukup hanya satu istilah saja yaitu seniman, wartawan, sasterawan atau yang lainnya, baik untuk lakilaki maupun untuk perempuan.

Tidak perlu dibuat istilah khususuntuk perempuan. Memang kalau kita perhatikan penggunaan akhiran “i” atau “wati” untuk kata yang menunjukkan perempuan boleh dikatakan hanya dibuat-buat saja. Pada dasarnya bahasa Indonesia tidak membedakan laki-laki dengan perempuan dengan menambah atau mengganti vokal di ujung.

Dalam bahasa Melayu yang menjadi sumber bahasa Indonesia, digunakan kata-kata yang berlainan untuk membedakan laki-laki dan perempuan, misalnya “bapak-ibu”, “kakek-nenek”, “paman-bibi”, “abang-kakak”, atau menambahkan kata “lakilaki” dan “perempuan” yang dimaksud, seperti “guru laki-laki” dan “guru perempuan”, “pemain laki-laki” dan “pemain perempuan”, “dokter laki-laki” dan “dokter perempuan”, dan lainlain.

Pada masa Orde Baru istilah “perempuan” dianggap kurang “sopan”, sehingga pernah tersisihkan oleh istilah “wanita”, sehingga dipakai istilah “guru wanita”, “dokter wanita”, “insinyur wanita”, dan sebagainya. Baru setelah reformasi istilah “perempuan” banyak digunakan lagi, karena dianggap lebih menjunjung derajat kaum Hawa daripada “wanita” yang cenderung menganggap kaum Hawa hanya sebagai objek syahwat laki-laki belaka. Istilah “perempuan” berasal dari kata “empu” yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat. Penggunaan suara “i” atau akhiran “wati” memang lebih hemat daripada pemakaian kata keterangan “perempuan”.

Tetapidalam berbahasa orang tidak selalu berhemat-hemat. Almarhum Anas Makruf(1923-1980) pernah mengemukakan saran agar dibedakan istilah untuk orang ketiga laki-lakidengan istilah orang ketiga perempuan seperti dalam bahasa Inggris digunakam “he” untuk laki-laki dengan “she” untukperempuan. Ia menyarankan agar kata “ia” digunakan untuk menyebut orang ketiga lakilaki dan “dia” untuk perempuan. Saran itu tidak ada yang menyambut.Sampai sekarang kita masih mempertukarkan kata “ia” dengan “dia” baik untuk menyebut orang ketiga lakilaki maupun perempuan.

Memang bagi orang yang terbiasa membacabahasa Inggris, bahasa Belanda atau bahasabahasa lain yang membedakan penyebutan untuk orang ketiga laki-laki dan perempuan tidak dibedakannya“ia” dan “dia” apakah untuk laki-laki atauperempuanbisamembingungkan. Tapi bagi pemakai bahasa Indonesia sendiri, begitu juga pemakai bahasa Melayu, hal itu tak pernah menimbulkan soal. Sama dengan H. Rosihan Anwar yang menyarankan pemakaiankata “anda” untuk kata ganti orang keduayang banyak sekali jumlahnya dalam bahasa Indonesia agar dapat digunakan kepada siapa saja, ternyata tidak berhasil karena walaupun kata “anda” jadi populer, tapi ternyata hanya menambah jumlah kata ganti orang kedua yangsudah banyak itu saja.

Saran Anas dan Rosihan itu timbul dari pengamatannya terhadap bahasa asing danmempunyai anggapan bahwa ada hal-hal yang baik dalam bahasa-bahasa tersebut akan bagus kalaudiberlakukan juga dalam bahasa Indonesia. Ternyata tidak mudah. Masing-masing bahasa mempunyai sifat yang khas, yang tidak bisa begitu sajadiganti dengan sifat khas yang berasal dari bahasa asing.

Memasukkan kosa kata asing memang tidak sukar, seperti selama initelah dibuktikan dengan serbuan bentuk-bentuk bahasa Inggris yang setiap hari masuk ke dalamperbendaharaan bahasa Indonesia melalui pers, tetapi memasukkan sifatsifat bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, ternyata memang tidaklah mudah. (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id