Mewahnya Jalan Raya Thailand | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mewahnya Jalan Raya Thailand

Mewahnya Jalan Raya Thailand
Foto Mewahnya Jalan Raya Thailand

SAIFUL BAHRI, Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban (Tramtib) Sekretariat Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya,
melaporkan dari Hat Yai, Bangkok

SEMBARI menunggu hasil pemeriksaan dokter di Rumah Sakit Lam Wah Ee Pulau Penang, Malaysia, kami coba memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke Kota Hat Yai (Hatyai) di Thailand.

Hat Yai adalah salah satu kota terbesar di Thailand setelah Bangkok, Pattaya, dan Chiang Mai. Kota yang berpenduduk lebih kurang 1.500.000 jiwa ini dapat dicapai 5-6 jam perjalanan darat dari Pulau Penang atau 2-3 jam dari perbatasan Malaysia-Thailand.

Untuk menuju ke sana, kami menyewa mobil van dari sebuah travel di Penang. Ongkosnya 1.000 ringgit Malaysia. Kami melaju di atas jalan tol Lebuh Raya selatan Malaysia. Dimulai dari Jembatan Pulau Penang terus melewati Negeri Perlis dan Kedah. Setelah itu kami menuju border crossing perbatasan Malaysia-Thailand yang terletak di Sadao yang biasa juga disebut Danok, kota kecil di Thailand.

Arus lalu lintas dari dan ke dua negara ini terlihat sangat ramai. Banyak truk peti kemas dan city car milik penduduk kedua negara yang ke luar-masuk Thailand maupun Malaysia. Kami harus menunggu beberapa saat untuk menunggu antrean pemeriksaan imigrasi dan juga cap (stempel) paspor.

Memasuki Kota Danok, terkesan seperti memasuki kota/kabupaten yang ada di jalur Pantura Pulau Jawa. Kemiripannya mulai dari aktivitas pedagang kaki lima, gerobak jajanan, juga terdapat kendaraan khas angkot Thailand, yakni Tuk-tuk yang berseliweran di jalan. Yang membedakannya hanyalah bahwa di Danok sudah banyak bangunan tinggi dan lalu lintasnya lebih tertib.

Jalan raya (highway) dari Danok ke Hat Yai terdiri atas dua jalur. Di masing-masing jalur terdapat dua lajur plus bahu dan median jalan yang cukup lebar. Lebarnya kurang lebih dua kali lipat dari lebar jalan USAID di lintas Banda Aceh-Meulaboh, Aceh Barat.

Karena statusnya bukan jalan tol, maka kendaraan yang melintas di jalur ini tidak bisa dipacu di atas angka 100 km per jam, mengingat di sepanjang jalan tersebut banyak terdapat putaran haluan (U-turn) dan traffic light di persimpangan jalan. Oleh karena itu, meskipun jaraknya hanya 50 km dari border, tapi tak bisa dicapai dalam waktu normal.

Di beberapa persimpangan besar, seperti arah yang menuju ke Phuket, Krabi, dan ke Songkla bahkan terdapat flyover (jembatan layang) yang cukup lebar. Jika kendaraan ingin memutar ke arah sebelah kanan, maka harus putar haluan lebih dulu ke arah sebelah kiri yang sedikit lebih jauh, baru kemudian menuju ke arah yang sebenarnya. Di mata saya, ini sesuatu yang cukup mewah untuk ukuran jalan raya, karena hal seperti ini biasanya hanya terdapat pada jalan tol atau jalan berbayar.

Bukan hanya jalan ke Hat Yai yang lebar dan mulus, tetapi hampir semua jalan raya pun, khususnya yang menghubungkan antaribu kota provinsi di Thailand, kondisinya sama. Bahkan jalan yang menghubungkan dengan distrik atau antarkabupaten pun kondisinya sama walaupun sedikit lebih kecil, yakni seperti jalan di lintas timur Aceh.

Kondisi lalu lintas hampir di semua jalan raya Thailand Selatan tersebut sama ramainya, sehingga jika kita tidak pintar maka bisa dipastikan akan melewati jalan yang salah.

Sopir van yang kami tumpangi sepertinya juga belum begitu menguasai kondisi jalan ke Hat Yai, sehingga saat kami pulang ia tersesat karena mengira arah ke Sadao, padahal justru sudah sampai ke Kota Satun. Meskipun lalu lintasnya sangat ramai, namun terlihat sangat tertib dan lancar. Tak terlihat pengendara yang saling mendahului, sehingga tidak heran jika di sana jarang terdengar bunyi klakson.

Iseng-iseng saya coba memperhatikan jenis dan merek mobil yang lalu lalang di jalan-jalan raya Thailand. Sepintas terlihat sama dengan mobil di Indonesia, yakni ada Honda Jazz, Honda City, Honda BRV, Mitsubishi Mirage, APV, Mobilio, CRV, dan segala macam merek mobil jenis Double Cabin yang ada di Indonesia.

Usut punya usut, ternyata mobil dengan merek yang bersiliweran di Indonesia itu justru diimpor dari pabrikan yang ada di Thailand.

Tak bisa dibayangkan bagaimana sejahteranya rakyat Thailand. Selain setiap keluarga punya mobil, juga disediakan jalan raya yang lebar dan mulus oleh pemerintahnya. Gratis pula alias tak dipungut tol.

Kesaksian ini sengaja saya tuliskan agar menjadi pertimbangan bagi pemimpin Aceh ke depan. Paling tidak mau meniru cara Pemerintah Thailand dalam memanjakan dan membahagiakan rakyatnya, sehingga ke depan dapat sisa Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang sangat besar itu didapat dialokasikan untuk membangun infrastruktur jalan raya yang mewah. Terutama untuk menghubungkan berbagai kabupaten di Aceh. Upaya ini, jika terealisasi, saya yakin akan langsung dirasakan dampaknya oleh rakyat Aceh daripada membangun gedung yang tak berguna dan akhirnya terbengkalai dan tak pernah bisa dimanfaatkan.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id