KAMMI dan IDeAS Bahas Penanganan Radikalisme | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

KAMMI dan IDeAS Bahas Penanganan Radikalisme

KAMMI dan IDeAS Bahas Penanganan Radikalisme
Foto KAMMI dan IDeAS Bahas Penanganan Radikalisme

BANDA ACEH – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh bersama Institute for Development of Acehnese (IDeAS) menggelar diskusi publik, membahas resolusi penanganan berkembangnya radikalisme di Aceh. Diskusi tersebut digelar di salah satu kafe di Banda Aceh, Kamis (30/3) siang.

Diskusi publik itu menghadirkan empat pemateri, yaitu Kepala Bidang Ekonomi, Hukum, Sosial, dan Budaya Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Kurniawan SH LLM, Pakar Resolusi Konflik dari Unsyiah, Dr Effendi Hasan MA, Kasubbid Penanganan Konflik Kesbangpolinmas, Dedi Ardian, dan Ketua KAMMI Aceh, Tuanku Muhammad SPdi.

Direktur IDeAS, Munzami HS dalam sambutannya menyebutkan, diskusi tersebut digelar untuk menggali akar persoalan terkait perkembangan berbagai paham radikalisme yang masih marak di Indonesia, termasuk di Aceh. “Aceh punya image yang tidak bagus soal gerakan radikalisme, setiap ada orang yang terduga teroris ditangkap selalu saja dikaitkan dengan Aceh, katanya alumni Jalin Jantho,” kata Munzami.

Oleh sebab itu, dalam diskusi tersebut tidak hanya membahas soal pencegahan, melainkan berbagai langkah untuk memutus mata rantai gerakan radikalisme yang pernah berkembang di Aceh. IDeAS dan KAMMI, sebut Munzami, mendorong optimalisasi peran dan tanggung jawab pemerintah dan pihak-pihak terkait, untuk mencegah berbagai potensi ancaman aksi radikalisme.

Salah satu pemateri, Dr Effensi Hasan menyebutkan, gerakan radikalisme di Indonesia tak akan mampu dibendung selama fungsi negara tidak berjalan dengan baik. Fungsi negara dimaksud Effendi Hasan adalah secara umum, yakni menyejahterakan rakyat. “Ada beberapa hal yang terus menyebabkan tumbuhnya gerakan radikalisme di Indonesia, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kebijakan negara yang tidak pro rakyat,” sebut Effendi Hasan.

Dalam diskusi itu, ia juga berharap, peran kampus di Aceh harus lebih aktif dalam menangkal tumbuh kembangnya gerakan atau paham radikalisme di Aceh. Menurutnya, kampus atau universitas harus lebih peka terhadap perkembangan sosial, politik, dan isu-isu lainnya. “Saya rasa perlu juga ada penyusunan kurikulum anti radikalisme. Meningkatkan kajian seperti ini di kampus, itu juga harus dilakukan untuk menangkal gerakan ini,” sebutnya.

Sementara Ketua KAMMI Aceh, Tuanku Muhammad menyebutkan, otak dari gerakan radikalisme selalu saja menyasar kalangan muda. Hal tersebut disebabkan, para pemuda di Indoensia mulai pragmatisme, tidak memiliki ideologi yang kuat, serta kurangnya rasa cinta kepada bangsa, agama, dan negara. “Menurut KAMMI, pemuda sangat mudah dipengaruhi. Maka oleh karena itu, peran pemuda harus ditingkatkan dalam setiap aspek, mari kita sebar kedamaian, menjunjung tinggi toleransi, dan berpartisipasi aktif dalam dialog dan diskusi seperti ini,” pungkas Tuanku.(dan) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id