‘Islamic Worldview’ Melahirkan Peradaban | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Islamic Worldview’ Melahirkan Peradaban

‘Islamic Worldview’ Melahirkan Peradaban
Foto ‘Islamic Worldview’ Melahirkan Peradaban

Oleh Fakhrurrazi

MENGAPA negara Islam sekarang bagitu mundur dan pudar eksistensinya dalam skala Ilmu Pengetahuan dunia? Padahal Islam adalah suatu ajaran yang sangat konsen dan menyeru umatnya untuk mencari ilmu, megangkat derajat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah: 11). Dengan ilmu pula manusia (Nabi Adam as) lebih mulia dan tinggi derajatnya dari pada makhluk lain, tak terkecuali malaikat sekalipun. Lalu dimanakah letak kemuliaan itu sekarang? Ironisnya, dewasa ini yang terjadi pada umat Islam di seantero bumi sana adalah penyerangan, pembantaian umat, pertikaian antarideologi notabennya juga dalam tubuh umat Islam sendiri dan pada akhirnya melahirkan peperangan dalam satu aqidah. Sekali lagi, di manakah letak kewibaan umat Islam?

Kondisi ini menggiring kita yang satu aqidah turut berduka dan ikut mencari solusi, apa yang salah dengan Islam sekarang hingga bisa terjadi hal-hal yang disebutkan di atas. Menurut Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, kondisi ini terjadi antara lain, karena ketegangan sosial atau kekacauan politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan lain sebagainya. Artinya Pembangunan Ilmu Pengetahuan Islam dalam melahirkan masyarakat yang sehat dan beradab sedang dalam masalah. Terus sebenarnya siapa yang salah, apakah konsep Islam, ataukah orang Islam yang mungkin sudah jauh dan keliru dalam memahami Islam yang sebenarnya.

Dalam Hal ini penulis ingin mengulas kembali pemikiran Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, seorang cendikiawan muslim Indonesia yang menaruh perhatian terhadap belantika pemikiran dan peradaban Islam. Sebelumnya, penulis ingin memulai dengan ungkapan seorang Ilmuwan besar dunia Albert Einstein bahwa “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Artinya, agama dan ilmu seperti satu dari dua sisi mata uang yang saling mengikat dan memberi makna, tak saling terpisahkan, ia tereduksi dalam “konsep Islam”. Dalam Islam tidak dikenal pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Karena agama dalam Islam bersumber dari wahyu (Alquran) yang berbicara tentang ilmu dan kebermanfaatannya bagi manusia.

Petunjuk hidup
Agama Islam memberi label kepada manusia sebagai khalifah fil ardh (perwakilan Tuhan di bumi). Bumi harus dikelola dengan baik dan dapat memberikan kesejahteraan kepada alam sendiri dan kepada sesama manusia. Meskipun petunjuk hidup (Alquran) telah diwahyukan, namun dewasa ini kemauan untuk mempelajari kandungan Alquran secara mendalam dan kritis sangat kurang, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Akibatnya kekacauan negara-negara Islam sekarang adalah karena telah meninggalkan Alquran (agama Islam).

Padahal, jika kita lihat secara historis, perkembangan ilmu pengetahuan yang berperadaban di jazirah Arab (Kekhalifahan Bani Umayyah I 661-750 M dan Abbasiyah 750-1258 M) dan Eropa (Umayyah II 929-1031 M dan Kekhalifahan Turki Ustmani 1453-1924 M) adalah dengan menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam setiap aktivitas kehidupan, sehingga peradaban Islam muncul ke pentas dunia. Sebab agama dalam Islam bisa melahirkan ilmu dan ilmu bisa melahirkan peradaban. Maksudnya penerapan dari nilai-nilai agama dikejawantahkan dalam kehidupan (ilmu) atau komunitas masyarakat hingga melahirkan tradisi keilmuan.

Agama di sini jangan dipahami secara sempit yang hanya berkutat pada ibadah-ibadah pribadi tapi pahamilah agama Islam secara betul dan universal yang pernah dibawa dan disampaikan oleh baginda Nabi. Hakikat dari disiplin ilmu, menurut Imam Ghazali terklasifikasi dalam dua bagian yaitu ilmu ‘ainiyah (fikih, tauhid, tasawuf; baca penjelasan ulama) dan kifayah (kedokteran, ekonomi, sains dan teknologi dan sebagainya). Pembagian ini jangan dilihat secara dikotomis, namun lihatlah sebagai kesatuan ilmu yang berasal dari Ilahi. Agama Islam masuk dalam segala sektor kehidupan, mulai dari masalah teologi, politik, sains, militer, ekonomi dan seterusnya hingga menjadi matarantai ilmu pengetahuan, sehingga terbentuklah peradaban dalam suatu komunitas, wilayah atau negara.

Dalam satu karya Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, “Tamaddun Sebagai Konsep Peradaban Islam”, beliau berkomentar bahwa peradaban Islam akan muncul kembali dengan menghadirkan agama Islam sebagai konsep Islam rahmatan lil’alamin dalam jiwa umat Islam. Mengapa karena interpretasi agama dalam Islam (ad-Dinul Islam) adalah agama yang di dalamnya kaya dengan strategi, cara, aturan-aturan, pedoman, undang-undang, kenyamanan, kejayaan dan peradaban. Pengakuan Gutas bahwa peradaban Islam “disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan kepada Muhammad”, Islam adalah bukti bahwa peradaban Islam disusun berdasarkan din Islam, dan karena itu sangat sesuai disebut sebagai peradaban. Dalam peradaban itu terdapat kedamaian (Demitris Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, 1988).

Ketika menjalankan agama Islam dengan benar dan universal maka akan menciptakan peradaban yang dapat mensejahterakan penghuni pada tempat tersebut. Agama Islam adalah agama yang bersumber dari wahyu tuhan berisi anjuran, larangan dan pedoman kehidupan diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dan pada akhirnya dikodifikasikan dalam bentuk kitab suci Alquran. Jadi Alquran itu adalah wahyu dari Tuhan sebagai bentuk petunjuk dalam menjalankan kehidupan ini.

Secara Epistimologi isi dari Alquran itu sendiri sangat kompleks dalam menginterpretasikan dunia dan akhirat, maka dari itu beragama Islam dalam arti yang benar adalah suatu keniscayaan dalam membina hidup dan bisa mengelola bumi ini dengan baik. Apabila umat Islam sudah jauh meninggalkan agama, maka kehidupan akan kacau tak berarah, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh manusia. Hal ini pernah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya Muqaddimah, “Jika umat telah jauh dan meninggalkan agama maka akan timbul ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan akibatnya terjadilah pembunuhan, korupsi, perjudian, keserakahan dan perbuatan amoral lainya.”

Islam ‘worldview’
Guna menjawab tindakan amoral dan re-peradaban Islam, konsep yang ditawarkan oleh Dr Hamid Fahmy Zarkasyi dan sama pula seperti gurunya Prof Naquib Al Attas, yaitu dengan kembali kepada Islam worldview (pandangan hidup Islam). Menurut Ilmuwan Muslim Syekh Atif al-Zayn, pandangan hidup Islam ada tiga macam: 1) ia berasal dari wahyu Allah; 2) berdasarkan konsep din yang tidak terpisah dari negara; 3) kesatuan antara spiritual dan material (sosial, budaya, ekonomi) (Syekh Atif al-Zayn, al-Islam wa Idulujiyyat al-Insan, 1989). Pandangan hidup Islam ini melibatkan aktivitas epistimologi manusia kepada Tuhan, yang merupakan faktor penting dalam aktivitas penalaran manusia.

Maka hal yang paling utama yang harus diperhatikan dalam membangun peradaban umat adalah cara pandang terhadap Islam. Artinya pandangan umat Islam harus menggunakan pandangan atau cara berpikir yang berasas Islam, menghadirkan Islam dalam semua lini kehidupan baik politik, ekonomi, pendidikan, sains dan sektor-sektor lainnya. Sebab Islam yang bersumber dari Alquran membahas secara universal tentang politik. Tatanan pemerintahan yang sesuai agar bisa menjalankan syariat, bagaimana menata kehidupan yang baik dan wilayahnya bisa berdaulat dan bermartabat juga rakyatnya bisa sejahtera. Begitu juga pendidikan, ekonomi, budaya dan sebagainya.

Mengubah worldview/framework atau cara pandang umat kepada cara pandang Islam (prinsip Islam) adalah kunci bangkitnya peradaban Islam. Hal ini sama ketika Nabi saw berdakwah di Mekkah, Hal pertama yang diperkenalkan Nabi kepada umatnya ialah dengan memantapkan cara pandang kepada Allah, bertauhid yang benar, bagaimana beriman kepada hari kiamat, malaikat dan sebagainya. Singkatnya di awal periode Mekkah yang diajarkan Nabi saw kepada umat adalah memosisikan cara pandang/berpikir yang benar tentang nilai-nilai teologi dan ketuhanan. Setelah mantap dengan worldview Islam kepada Tuhan dengan menghadirkan nilai-nilai Ilahiyah dalam segala sektor kehidupan maka inilah awal dari kebangkitan keilmuan Islam dan peradaban.

Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari pandangan hidup Islam. Menurut Dr Hamid, pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini bukan sekedar teori tapi fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam. Di Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan mengubah pemikiran masyarakat.

Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafii, Hanbali, Imam al-Ghazzali, Ibn Khaldun, Ibn Rusy mempengaruhi cara berpikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain. Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan Islam yang berasas dari cara pandang Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam. Dengan adanya Islam worldview dalam sanubari umat Islam, mudah-mudahan akan melahirkan semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam. Berbuah kedamaian, kesejahteraan, dan peradaban Islam yang kita cita-citakan. Amin. Wallahu ‘alam bishawab.

* Fakhrurrazi, alumnus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Program Magister Pendidikan Biologi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah. Email: [email protected] (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id