Titik Nol Islam Nusantara; Mengapa bukan Aceh? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Titik Nol Islam Nusantara; Mengapa bukan Aceh?

Titik Nol Islam Nusantara; Mengapa bukan Aceh?
Foto Titik Nol Islam Nusantara; Mengapa bukan Aceh?

Oleh Ramli Cibro

BELUM lagi selesai dilema soal destinasi wisata syariah, kini kita kembali dikejutkan oleh penempatan Barus yang penduduknya sebagian besar non-muslim sebagai “Titik Nol Islam Nusantara”. Kali ini kita bertanya, bukankah sejarah Islam di Nusantara dimulai dari Aceh dengan kerajaan-kerajaan pertama Pasai, Perlak dan Lamuri? Mengapa justru tugu Islam Nusantara diletakkan di tempat lain?

Untuk menjawab persoalan tersebut tentu kita harus kembali kepada akar masalah apa itu Islam Nusantara? Karena sejatinya perkara “Islam Nusantara” bukanlah sekedar perkara sejarah dimana pertama sekali Islam menginjakkan kakinya di Nusantara? Islam Nusantara adalah perkara epistimologi-teologi tentang bagaimana dan dimana konstruksi keislaman dan kebudayaan dimulai secara utuh. Siapa yang dengan gamblang menjelaskan konsep dialog keislaman dan kebudayaan dalam bingkai ketasawufan berbasis wujud? (Mulyadi, 2016:81).

Sejarah kemudian mencatat nama besar Hamzah Fansuri sebagai konseptor pertama yang menjelaskan dialog keislaman dan kebudayaan. Namun sayangnya nama besar tersebut mengalami tragedi di Aceh ketika pemikiran dan karya-karyanya dimusuhi. Puncak dari semua itu adalah pembakaran karya-karya Hamzah Fansuri, di depan Masjid Raya Baiturrahaman (Hadi, 2005:13).

Peradaban Islam Nusantara berangkat dari spirit wujud dalam bentuk sistem nilai, sistem berpikir dan sistem berbudaya sebagai hasil dari perkawinan antara Islam dan kebudayaan. Ini terlihat dari warisan-warisan kearifan lokal yang berdimensi Islam, warisan-warisan intelektual dalam bentuk karya-karya teologi-sufisme, dan kebudayaan-kebudayaan yang sejalan dengan ruh keislaman dan ketauhidan (Al-Attas, 1990:39; KBA, 2017:11; dan Mulyadi, 2016: 81).

Konsep teo-sufi
Peradaban Islam Nusantara erat kaitannya dengan model keislaman yang dipakai oleh para mubaligh tempo doeloe dalam menyebarkan agama Islam. Dan lagi-lagi konsep teo-sufi berbasis wujud milik Hamzah Fansuri dipercayai menjadi basis penyebaran Islam di Nusantara. Konsep wujud yang konon diambil dari ajaran wahdatul wujud tersebut, kemudian berkembang di seantero Nusantara dibuktikan dengan menyebarnya karya-karya Hamzah Fansuri seperti di Buton-Sulawesi (M. Solihin, 2005:33).

Dan konon ajaran wujud Hamzah Fansuri memberi pengaruh bagi transformasi keislaman berbasis mistik di Pulau Jawa. Naskah Wirid Hidayat Jati, misalnya, dipengaruhi oleh Hamzah Fansuri melalui muridnya Syamsuddin Al-Sumatra’i (Simuh, 1988:286).

Jika kita melihat dari perspektif ini, penepatan tugu Islam Nusantara di Barus memiliki setitik argumentasi. Setidaknya, walaupun ajaran wujud yang menjadi epistimologi atau ruh Islam Nusantara pernah berkembang di Aceh, namun fakta terakhir menunjukkan bahwa ajaran ini telah terusir keluar dari wilayah Aceh.

Persoalan lain mengapa bukan Aceh adalah gejala keagamaan di Aceh akhir-akhir ini tidak mencerminkan semangat Islam Nusantara yang toleran terhadap perbedaan dan harmonis terhadap persamaan (KBA, 2016: 120-138). Akhir-akhir ini kita mendengar kekerasan dan pemaksaan atas nama agama merebak dan banyak. Dan hal ini “bagi orang-orang Jakarta” sangat mencederai nilai-nilai Islam Nusantara.

Persoalan selanjutnya adalah mengenai kepantasan Barus untuk dijadikan titik nol bagi konsepsi peradaban Islam Nusantara. Perlu diketahui bahwa Barus bukanlah kota tanpa Sejarah. Barus pernah besar dan bahkan konon telah menjadi kota perdagangan sebelum kedatangan Islam. Berita-berita dari Prapanca (Majapahit), Tome Pires (Portugis), Sulaiman Al-Muhri (Arab), dan Sidi Ali Syalabi (Turki) mencatat bahwa Barus adalah kerajaan kecil yang merdeka dan makmur, yang diramaikan oleh perdagangan (Hadi, 1995:11).

Hingga saat ini, di Barus masih ditemukan artefak-artefak sejarah kejayaan Islam sama lalu dan makam-makam besar para ulama dan wali (seperti Makam Syekh Mahligai dan Makam Tangga Seribu). Penemuan makam-makan besar tersebut mengindikasikan bahwa Barus memiliki banyak ulama-ulama besar. Hawash misalnya mengajukan nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Abdul Murad dan Burhanpuri sebagai Ulama yang lahir dari Barus (Hawash, 1930:35).

Menyelamatkan sejarah
Selain itu, penepatan Barus sebagai titik Nol Peradaban Islam Nusantara akan menyelamatkan sejarah kota tua, sekaligus mengembalikan ruh Islam yang telah mati di kota tersebut. Karena seperti kita ketahui, bekas-bekas keislaman telah telah tergerus karena penduduk mayoritas di wilayah Barus yang nonmuslim. Jika melihat dari argumentasi ini, penepatan Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara akan menyelamatkan sejarah, identitas dan khazanah keislaman di wilayah tersebut. Dan boleh jadi, penepatan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam Nusantara akan menyemarakkan kembali penyebaran Islam di wilayah itu.

Jika merujuk kepada beberapa argumentasi tersebut, penepatan Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara seyogyanya masih dapat diterima. Sejatinya sejarah tidak akan menafikan peran Aceh bagi perkembangan peradaban Islam di Nusantara. Akan tetapi narasi Nusantara bukanlah semata-mata narasi historis tentang di mana pertama kali Islam menginjakkan kaki dan berkembang. Namun, Islam Nusantara adalah narasi intelektualitas dan peradaban, dari mana dan dari siapa konsep-konsep Islam berbasis kebudayaan Nusantara ini mulai bermula. Tidak dapat kita pungkiri bahwa basis tersebut pernah ada di Aceh, namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa ajaran wahdatul wujud yang menjadi basis Islam di Nusantara juga pernah diusir keluar dari Aceh.

Lagi pula, kebijakan apapun yang dibuat oleh pemerintah pasti menimbulkan pro dan kontra. Namun sebaik-baik respons adalah yang dilakukan setelah melalui proses tabayyun (uji data) dan tafakkur (uji argumentasi). Tabayyun artinya mencari kejelasan sejelas-jelasnya, data dan validitas sejarah. Adapun tafakkur artinya merenung dan menimbang bagaimana harus bersikap terhadap data-data yang telah diperoleh. Karena tabbayyun tanpa tafakkur akan menghasilkan keputusan yang akurat namun “tidak bijak” dan tafakkur tanpa tabayyun akan menghasilkan keputusan yang “terlihat bijak”, namun tidak akurat. Sekian!

* Ramli Cibro, mantan Santri Dayah Darul Hasanah Syekh Abdurauf Singkil, sekarang sebagai mahasiswa pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id