Cara Vietnam Merawat ‘Perang’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Cara Vietnam Merawat ‘Perang’

Cara Vietnam Merawat ‘Perang’
Foto Cara Vietnam Merawat ‘Perang’

OLEH EDWAR M NUR, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Abulyatama, Aceh Besar, melaporkan dari Ho Chi Minh, Vietnam

KESEMPATAN mengunjungi Ho Chi Minh, kota terbesar di Vietnam yang dulunya dikenal dengan Saigon, mengingatkan saya pada sekuel film perang Vietnam.

Perang menyisakan bekas yang mendarah daging dalam kehidupan bangsa Vietnam. Itulah perang yang dipicu oleh Amerika untuk melawan pengaruh komunis di Asia selama hampir 20 tahun.

Perang ini menjadi pertaruhan pengaruh politik Amerika di kawasan Asia. Perang panjang yang menyita pengorbanan besar Amerika. Diperkirakan, 59.000 tentara Amerika tewas dan 2 juta lebih rakyat sipil Vietnam menjadi korban.

Amerika dikalahkan tentara Vietkong yang didukung Tiongkok dan Uni Soviet akhirnya mundur dari Vietnam Selatan. Wajib militer sampai diberlakukan di Amerika saat itu. Bahkan petinju legendaris Muhammad Ali dicabut gelar tinjunya karena menolak ikut wajib militer.

Perang menjadi catatan utama sejarah perjalanan bangsa Vietnam. Namun, mereka tidak mengubur sejarah tentang perang besar ini, melainkan tetap menghidupkannya dalam memori generasi mereka, bahkan masyarakat dunia. Itu karena mereka mempertahankan setiap bagian sejarah yang berkaitan dengan perang dalam bentuk, misalnya, Museum Perang Remnants yang memotret detail setiap tapak sejarah dan peninggalan perang Vietnam.

Vietnam merawat perang untuk menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya di samping menjadi sumber income, karena situs-situs perang tersebut kini disulap jadi daya tarik wisata bagi warga dunia.

Delta Sungai Mekong menjadi saksi bisu rentetan perang tak berkesudahan itu. Termasuk Chu Chi Tunnel, terowongan bawah tanah yang di masa perang dijadikan rakyat tempat berlindung dan berperang.

Demikian pula Remnants War Museum yang dulunya gedung administrasi Pemerintah Amerika, kini disulap jadi Museum Perang Vietnam. Di bagian dalamnya ditampilkan perjalanan perang, pajangan foto, ilustrasi tempat tahanan dan penyiksaan, serta ruang dan proses eksekusi. Tak lupa ditampilkan akhir perjalanan perang hingga Amerika mundur dari Vietnam.

Terinspirasi film Rambo, Platoon yang pernah mendapat Oscar serta Missing in Action yang diperankan Chuck Norris tahun 80-an menginspirasi kami melihat beberapa lokasi yang menjadi medan laga tentara Amerika dan Vietkong. Dimulai dari Delta Sungai Mekong, sungai yang berarti mama/ibu besar. Sungai terbesar ketiga di Asia ini menjadi sumber penghidupan, sungai yang membentang dari Cina melewati Kamboja sampai Vietnam di mana jutaan orang hidup di sepanjang deltanya, menghidupi pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Sungai yang menjadi jalur utama transportasi masa itu kini menyajikan pemandangan yang masih sama dengan di sekuel film. Teman seperjalanan kami menjelaskan bahwa delta Sungai Mekong memiliki makna mendalam bagi rakyat Vietnam dari sejak masa dinasti sampai masa perang, karena sungai itu menjadi jalur transportasi utama dan perang di sungai sangat melegenda.

Kini banyak pelaku wisata yang menjual paket wisata delta Sungai Mekong sebagai bagian penting destinasi wisata alam dan sejarah perang yang kini menggeliatkan ekonomi Vietnam.

Belum lagi Chu Chi Tunnel, terowongan labirin bawah tanah tentara Vietkong. Berjarak sekitar 70 km dari pusat Kota Ho Chi Minh. Tempat ini salah satu lokasi pertempuran serbaguna militer dan orang-orang Cu Chi selama puluhan tahun perjuangan mendapatkan kemerdekaan untuk tanah air mereka. Tempat ini merupakan lorong bawah tanah berarsitektur khusus dengan ribuan jebakan dan ribuan pintu rahasia. Banyak lorong dan celah serumit sarang laba-laba di sini. Juga digunakan sebagai tempat menyimpan logistik dan amunisi untuk bekal perang dalam waktu lama. Panjangnya lebih dari 200 km.

Kami coba jalan merayap ke dalam terowongan ini, tapi melelahkan, karena di banyak tempat kita tak bisa berjalan tegak, kecuali harus membungkuk dan merayap. Sempit dan banyak sekali lorongnya. Ini imajinasi strategi perang luar biasa.

Begitu merayap ke dalam terowongan kita dapat mengetahui alasan mengapa Vietnam–sebuah negara kecil yang miski–bisa mengalahkan musuh dari negara besar dan superpower Amerika yang memiliki persenjataan lengkap dan modern.

Terowongan dengan ketebalan tanah di atasnya antara 3-5 meter itu dapat menahan beban 60 ton (bisa menahan beban tank), serangan meriam ringan dan bom. Di dalam jaringan bawah tanahnya tersedia ruang pertemuan, ruang tidur, dapur, rumah sakit, dan kamar sosial lainnya yang semuanya tidak terlihat dari atas tanah. Terowongan ini memberikan pemahaman yang baik dari perang berkepanjangan orang-orang Vietnam yang memiliki karakter gigih dan cerdas.

Kehidupan sosial berjalan normal di dalam terowongan, bahkan pada masa itu banyak pasangan menikah dan melahirkan di dalam terowongan. Tentara Amerika pada saat pertama melangkah ke kawasan terowongan Chu Chi harus menghadapi perlawanan sengit yang tak terduga dengan berbagai jebakan maut dan akhirnya terowongan Chu Chi menjadi ladang pembantaian tentara Amerika.

Aceh yang punya sejarah perang dan konflik yang panjang, tak ada salahnya mengikuti cara Vietnam dalam merawat kenangan terhadap perang. Kita pertahankan tempat seperti ini agar sejarah buruk tidak terulang. Dari masa lalulah kita belajar bahwa perang selalu membawa kehancuran. Menang jadi arang, kalah jadi debu.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id