12 Desa Terendam Banjir | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

12 Desa Terendam Banjir

12 Desa Terendam Banjir
Foto 12 Desa Terendam Banjir

* Di Matangkuli, Tanah Luas, dan Lhoksukon

LHOKSUKON – Banjir kiriman yang merendam sejumlah desa di Kecamatan Matangkuli dan Tanah Luas pada Selasa (28/3), meluas sampai ke Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, pada Rabu (29/3). Empat desa di Lhoksukon terendam akibat meluapnya air Krueng (sungai) Peutoe yang mengelilingi dua kecamatan tersebut.

Air Krueng Peutoe meluap melalui tanggul sungai yang jebol beberapa waktu lalu. Sedangkan banjir di Kecamatan Matangkuli dan Kecamatan Tanah Luas disebabkan meluapnya air dari Krueng Keureutoe, karena belum ada tanggul sungai.

Informasi diperoleh Serambi, di Lhoksukon ada tiga desa yang terendam banjir, yaitu Desa Krueng, Desa Dayah, dan Meunasah Kumbang. Di Matangkuli, desa yang masih terendam hingga kemarin, Hagu, Lawang, Siren, Alue Tho dan Tumpok Barat. Sementara desa yang masih terendam banjir di Tanah Luas adalah Desa Blang, Tanjong Mesjid, dan Rayeuk Kuta.

Ibnu Sabil (27), warga Lhoksukon kepada Serambi mengatakan, selain merendam rumah warga, di beberapa titik, air juga menggenangi jalan dari Lhoksukon ke Cot Girek. “Dalam rumah warga airnya sampai 30 centimeter. Tapi kalau di badan jalan sekitar 10 centimeter lebih,” ujarnya.

Karena jalan tergenang, kata Ibnu, banyak pengguna jalan terperosok ke lubang di badan jalan, karena lubang tak terlihat. “Jalan Lhoksukon sampai Cot Girek sudah rusak parah, dan banyak lubang. Karena lubang tertutup air dan tak terlihat lagi, banyak yang terperosok di jalan,” katanya.

Sementara itu, Abdullah (42) warga Alue Tho, Matangkuli, mengatakan kawasan tersebut masih terendam banjir. Kemarin, sebut Abdullah, di lokasi tertentu ketinggian air sampai 60 centimeter. Sedangkan di dalam rumah warga bervariasi antara 40 sampai 50 centimeter. “Biasanya di kawasan kami air baru surut beberapa hari,” kata Abdullah.

Keuchik Meunasah Hagu, Matangkuli, M Nasir menambahkan, pada Selasa malam warga sudah mulai membersihkan rumah dari lumpur yang dibawa banjir. Namun pada Rabu pukul 01.00 WIB tengah malam, air kembali naik lagi. “Jika air terus naik warga akan mengungsi,” kata Nasir.

Sementara itu, warga Desa Paya Beurandang, Kecamatna Tanah Luas, Aceh Utara, kini dihinggapi rasa cemas dan takut jika sewaktu-waktu tanggul Krueng Keureutoe yang dekat dengan desa mereka jebol. Sebab, tanggul selebar 3 meter itu ambruk dan hanya tersisa satu meter lagi.

“Kalau tanggul itu jebol, pasti rumah warga akan rusak bahkan bisa dibawa arus sungai. Sekarang warga sangat khawatir dan takut,” kata Keuchik Paya Beurandang, Muhammad Munir kepada Serambi, Rabu (29/3).

Menurut Munir, tanggul itu ambruk pertama kali 15 Februari 2017. Karena saat itu tidak langsung ditangani, kerusakan tanggul sepanjang 46 meter itu makin bertambah. “Kami sudah laporkan kondisi ini ke BPBD dan Dinas PU Aceh Utara beberapa hari lalu,” katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Utara, Edi Anwar ST melalui Kabid Pengairan, Asnawi, mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan bantuan Rp 2 juta agar aparat desa mengatasi persoalan tersebut secara darurat agar tidak bertambah parah. “Memang iya, hanya satu meter lagi yang belum ambruk,” kata Asnawi.

Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Munawar mengatakan, kerusakan tanggul itu akan segera ditangani secara darurat. “Saya akan lapor ke Sekda bahwa kondisi tanggul itu sudah emergency,” demikian Munawar.(jaf) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id