Uniknya Shalat Jumat di Tarim | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Uniknya Shalat Jumat di Tarim

Uniknya Shalat Jumat di Tarim
Foto Uniknya Shalat Jumat di Tarim

OLEH AIDIL RIDHWAN, putra Aceh asal Pante Garot, Pidie, alumnus Ummul Ayman Samalanga, melaporkan dari Tarim, Yaman

HARI Jumat merupakan hari libur nasional di Tarim, sehingga aktivitas persekolahan dan perkantoran terlihat sepi. Warung-warung dan pasar-pasar pun tutup. Denyut kehidupan perpasaran justru kembali meriah seusai shalat Jumat.

Sejak malam Jumat sebagian masjid menggelar pembacaan maulid. Esoknya, tepatnya setelah shalat Subuh, aktivitas warga Tarim adalah berziarah ke makam-makam. Di Tarim terdapat tiga pemakaman umum; Zanbal, Furaith, dan Akdar yang dipimpin langsung oleh Mufti Tarim.

Pelaksanaan shalat Jumat, selain di masjid Jamik, juga digelar di masjid-masjid lainnya. Namun, kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang shalat Jumat unik di Masjid Jamik. Masjid ini berada tepat di jantung kota yang didirikan pada tahun 581 Hijriah.

Jamaah Jumat mulai berduyun-duyun ke masjid sejak pukul 9 pagi dengan mengenakan baju takwa putih, peci, dan sebagiannya memakai serban. Di masjid, aktivitas mereka adalah membaca Quran, terutama Surah Alkahfi. Mereka juga berselawat atas Rasulullah saw dan berzikir.

Di sela-sela itu, beberapa anak muda mulai berkeliling sambil membawa gelas berisi air untuk dibagikan kepada jamaah yang membutuhkannya. Tak hanya itu, anak-anak muda tersebut juga membantu mengambilkan Alquran untuk orang-orang yang lanjut usia.

Sambil berkeliling, mereka mengajak jamaah berselawat atas Rasulullah saw dengan lafaz, “Shallu `ala Muhammad” (berselawatlah kalian atas Nabi Muhammad) seiring dengan sahutan jamaah,

“Allahumma shalli wa sallim `ala sayyidina Muhammad wa alihi wa shahbihi”, yang berarti semoga cucuran rahmat Allah selalu menyertai

Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya sekalian. Saat berlanjut ke sesi khotbah, maka khatib, yaitu seorang syeikh menganjurkan jamaah mengingat Allah Swt, berselawat atas Rasulullah saw, mengingat kematian, dan menganjurkan berbuat baik kepada sesama.

Yang lebih uniknya adalah reaksi interaktif antarjamaah. Pada saat sang khatib menyampaikan isi khotbahnya dan menyeru jamaah bertakwa kepada Allah, lalu ia diam sejenak. Spontan jamaah menyahut dengan bacaan, “Lailaha illallah.”

Ketika khatib menyebut nama Nabi Muhammad saw, maka jamaah dengan kompaknya berselawat atas Rasululullah.

Tidaklah hiperbola kalau saya katakan bahwa salah satu kerja harian masyarakat Tarim adalah berselawat atas Baginda Rasulullah. Hanya dengan mendengar nama beliau, mereka sontak mengucapkan selawat atasnya. Karena, menurut mereka, orang kikir adalah yang tidak mau berselawat atas Rasulullah di saat namanya disebutkan.

Hal itu senada dengan hadis Rasulullah saw yang artinya, “Orang kikir adalah orang-orang yang tak mau berselawat atasku di saat namaku disebutkan.”

Begitu juga ketika khatib menyebut nama salah satu dari Khulafaur Rasyidin, jamaah pun menyahut “radhiyallahu `anhu”, yang berarti semoga Allah meridainya.

Selesai shalat Jumat di Masjid Jamik ini, dilanjutkan dengan shalat gaib untuk yang meninggal dunia dan mendoakan kebaikan untuk umat Islam. Akhirnya, prosesi shalat Jumat di masjid tersebut diakhiri dengan salam-salaman.

Semoga reportase dari Masjid Jamik Tarim ini bermanfaat bagi syedara-syedara lon di Tanoh Rincong!

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id