Rumitnya Meliput Gerhana Matahari di Tahun 1983 | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Rumitnya Meliput Gerhana Matahari di Tahun 1983

Foto Rumitnya Meliput Gerhana Matahari di Tahun 1983

aceh.Uri.co.id, JAKARTA – Dua hari lagi masyarakat Indonesia akan menyaksikan fenomena alam, Gerhana Matahari Total (GMT). Sejumlah daerah memanfaatkan momentum yang cukup langka untuk menyedot para wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam catatan sejarah, fenomena alam ini pernah terjadi 11 Juni 1983. Bagaimana suasananya ketika itu? Benarkah masyarakat dilarang menyaksikan GMT?

Mengapa anggota Koramil dan Hansip dikerahkan di sekitar Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat?  Yusran Pare, saat ini menjadi Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, satu diantara sekian wartawan yang meliput fenomena alam itu. Ia mengaku, betapa rumitnya meliput Gerhana Matahari Total bersama wartawan lain. Berikut penuturannya:

Heboh gerhana matahari total (GMT) 9 maret 2016 mengingatkan saya pada peristiwa 33 tahun silam.

Sebagai wartawan pemula, meliput peristiwa langka ini tentu menantang. Apalagi di tengah seruan bahkan instruksi perintah yang melarang rakyat melihat GMT. Lokasi di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.

Petak umpet dengan tentara dari koramil dan hansip yang menghalaui orang-orang dari tempat terbuka. Peralatan sangat sederhana, kamera Asahi Pentax, tripod dan tele 200mm pinjaman. Filter bikinan sendiri dari negatif film ortho.

Berangkat ke Pangandaran, nebeng Taft-nya Kepala Biro Tempo di Bandung, Bang Amran Nasution, bersama reporternya, Bambang Harrymurti. Banyak wartawan dan fotografer dari ibu kota datang meliput.

Tapi, itu tadi, aparat terus menerus menyisir dan mengusiri orang-orang. Kami menyusup ke hutan kecil di sisi barat pantai. Banyak juga peneliti dan mahasiswa ITB yang sudah siaga mengamati fenomena apa pun sesuai bidangnya.

Bambang sibuk sekali. Bahkan saat pulang pun, di dalam kabin taft yang berguncang-guncang sepanjang jalan, dia terus mengetik, sampai beberapa kali mesin ketik portabel terlompat atau tergeser kuat dari jok yang dijadikannya sebagai meja, karena mobil melaju kencang dan jelan berkelok-kelok.

Tadinya para jurnalis mau mengirim berita via kantor telepon. Tapi ternyata di Pangandaran saat itu telopon belum otomat. Masih telepon engkol. Selesai meliput ramai-ramailah para jurnalis balik kanan ke Tasikmlaya yang fasilitas sambungannya lebih “modern”. (*) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id