Mengharap Kebesaran Jiwa Gubernur Zaini | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mengharap Kebesaran Jiwa Gubernur Zaini

Mengharap Kebesaran Jiwa Gubernur Zaini
Foto Mengharap Kebesaran Jiwa Gubernur Zaini

POLEMIK dan kegaduhan birokrasi di lingkup pemerintahan Aceh, belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Bahkan, polemik dan kegaduhan yang dipicu akibat mutasi kontroversial yang dilakukan oleh Gubernur Zaini Abdullah, kini tampak semakin runyam. Berbagai masukan yang diberikan oleh para ahli dan pengamat, sepertinya belum mampu juga mengakhiri polemik dan kegaduhan itu.

Kita merasa prihatin dengan kondisi birokrasi yang tidak sehat di beberapa SKPA, di jajaran Pemerintah Aceh itu. Tadinya, kita berpikir dengan turunnya surat Mendagri yang meminta Gubernur Zaini untuk tidak mengaktifkan pejabat baru, akan mampu meredam dan memberikan jalan keluar terhadap polemik yang telah berlangsung selama hampir satu bulan ini. Tapi, ternyata tidak.

Gubernur Zaini tampak tetap keukeuh dengan semua keputusan dan kebijakan yang telah diambilnya itu. Ini, setidaknya terlihat dari penyataan Kepala Biro Hukum Setda Aceh, Edrian SH MHum, yang menyebutkan bahwa surat Mendagri melalui Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri, yang meminta gubernur meninjau kembali pelantikan dan mengaktifkan pejabat yang dilantik itu, tak berpengaruh.

Sampai di sini, kita kembali mengingatkan dengan mengetuk pintu hati nurani Gubernur Zaini Abdullah, agar mempertimbangkan kembali semua keputusan kebijakannya yang telah menimbulkan kontroversi dan polemik berkepanjangan itu. Kita mengharapkan Gubernur Zaini untuk melihat kembali birokrasi pemerintahan Aceh dari berbagai sisi, termasuk coba menoleh kembali nilai-nilai perjuangan yang pernah dilakukannya.

Semua masyarakat Aceh, tentunya, menjadi saksi bagaimana gigihnya seorang Zaini Abdullah menghabiskan lebih dari separuh dari usianya yang sekarang hampir 77 tahun, berjuang bersama rekan-rekannya yang lain dengan semangat yang sama, ingin membebaskan Aceh dari ketidakadilan.

Hidupnya yang mapan sebagai seorang dokter, ia tinggalkan demi cita-cita mulianya itu. Ia berjuang dengan keluar-masuk hutan. Bersembunyi dari kejaran aparat keamanan yang murka, yang ingin menangkapnya, hidup atau mati. Sampai akhirnya ia terpaksa mengasingkan diri ke luar negeri.

Setelah 30 tahun kemudian, perjuangan Zaini dan teman-temannya membuahkan hasil, dengan dicapainya kesepakatan damai MoU Helsinki. Ia pun pulang. Swedia, satu negara di daratan Eropa sana yang telah memberikan kehidupan baru baginya, ia tinggalkan. Ia kembali ke tanah kelahirannya. Aceh, tanoh endatu.

Tak pelak masyarakat Aceh menyambut kepulangannya dengan sukacita. Terlebih ketika ia yang berpasangan dengan Muzakir Manaf terpilih menjadi Gubernur Aceh pada Pilkada 2012 lalu. Ia bukan saja disegani, tapi juga sangat dihormati oleh berbagai kalangan masyarakat Aceh, termasuk ulama dan umara.

Lalu, haruskah posisi terhormat sebagai orang yang dituakan harus berakhir “tak bermakna” hanya karena ingin mempertahan keputusan dan kebijakan kontroversial yang menimbulkan polemik di akhir masa jabatannya ini. Duh, sayang sekali. Jangan Pak!

Kita berharap ada secercah harapan dari kebesaran jiwa Gubernur Zaini, agar berkenan meninjau kembali keputusannya itu. Mengakhiri mutasi kontoversial yang menimbulkan polemik panjang ini. Semoga! (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id