Jejak Gua Ashabul Kahfi di Yordan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Jejak Gua Ashabul Kahfi di Yordan

Jejak Gua Ashabul Kahfi di Yordan
Foto Jejak Gua Ashabul Kahfi di Yordan

OLEH AGRIDZIRA ASSIVA BASRI, putra Aceh, pengajar Asrama Sulaimaniyah di Palembang, melaporkan dari Yordania

TERUS terang, saya pantas bersyukur karena saya mewakili enam peserta seluruh asrama Sulaimaniyah Turki se-Indonesia mendapat kesempatan memperdalam bahasa Arab selama dua bulan di Amman, Yordania. Sebelumnya saya juga mendapat peluang belajar agama di Istanbul, Turki, selama tiga tahun (2012-2015) setelah menyelesaikan program Tahfiz Alquran di Asrama Sulaimaniyah Rawamangun Jakarta.

Begitu mendarat di Bandara Internasional Amman Queen Alia setelah terbang dari Jakarta-Kuala Lumpur-Qatar-Yordania selama 15 jam lebih, cuaca dingin sekitar 10 derajat Celcius yang menerpa tubuh terasa dingin sampai ke tulang.

Yordania merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang berbatasan dengan Suriah di sebelah utara, Arab Saudi di timur dan selatan, Irak di timur laut, serta Israel dan Tepi Barat di sebelah barat. Negara ini menerima arus pengungsi Palestina lebih dari tiga dasawarsa, sehingga menjadikannya salah satu negara penampung pengungsi terbesar di dunia.

Yordania juga memiliki tempat-tempat bersejarah seperti Wadi Rum, Laut Mati, Teluk Aqaba, Petra, Gereja Byzantium, Hercules Temple, Masjid Umayyad, Gua Ashabul Kahfi, dan lain-lain.

Selama dua bulan lebih di Yordania, di sela-sela hari libur kami sempatkan diri mengunjungi beberapa tempat bersejarah, salah satunya gua Ashabul Kahfi yang tersebut dalam Alquran.

Tempat ini bisa ditempuh dengan taksi sekitar 30 menit dari Kota Amman, tempat kami tinggal. Dulu saya mendengar cerita dari guru agama di sekolah dan ustaz pengajian bahwa ada tujuh pemuda beriman beserta seekor anjing yang lari dari raja yang zalim dan kejam bernama Dikyanus yang ingin membunuh mereka. Mereka lari dan bersembunyi di dalam gua tersebut hingga Allah menidurkan mereka lebih 309 tahun. Saat terbangun, salah seorang ke luar gua mencari makanan, ternyata uang dirham mereka tidak berlaku lagi saat itu.

Dalam kurun waktu puluhan tahun kemudian, ketujuh pemuda tersebut dan seekor anjingnya mati dalam gua tersebut.

Allah pernah berfirman yang artinya, “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS Al-Kahfi:10)

Sebenarnya banyak pendapat tentang keberadaan gua Ashabul Kahfi berada. Pendapat yang populer mengatakan lokasi gua tersebut berada di daerah Turki atau Yordania. Bahkan selain kedua negara itu, beberapa tempat lain juga diyakini sebagai lokasi gua Ashabul Kahfi, seperti di Syiria, Saudi Arabia, dan Spanyol. Sebenarnya paling tidak ada 33 lokasi di dunia diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi, namun yang banyak dilakukan pengkajian adalah gua yang berada di Kota Amman, Yordania. Di daerah Turki, misalnya, tepatnya di daerah Tarsus dan Ephesus, diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi, sedangkan di Yordania terdapat di Abu Alanda, Amman. Arkeolog ternama Dr Muhammad Wahib menyimpulkan bahwa gua yang berada di Raqim Yordania diyakini sebagai tempat Ashabul Kahfi bersembunyi.

Lokasi gua ini terdapat di perkampungan Al Rajib atau dalam Alquran disebut Al Raqim yang berjarak 1,5 km dari Kota Abu Alanda dekat Kota Amman. Raja Yordania (Abdullah II) telah meresmikan sebuah masjid Gua Ahlul Kahfi dan Ma’had Dakwah dan Da’i di muka gua Ahabul Kahfi. Saya tak pernah membayangkan bahwa cerita yang pernah saya dengar sewaktu kecil, sekarang bisa saya saksikan sendiri kebenarannya. Bentuk gua yang di sekitarnya terdapat bekas reruntuhan ini sesungguhnya tidak terlalu besar dan dalam, sedangkan pintunya setinggi orang dewasa.

Mungkin dulu gua tersebut terpencil dari permukiman dengan bukit-bukit dan padang pasir yang luas. Begitu besar perjuangan dan pengorbanan ketujuh pemuda tersebut mengasingkan diri dengan perbekalan makanan seadanya demi menyelamatkan akidah dan keimanan. Saya terbayang kondisinya seperti Gua Hira’ di Mekkah tempat Rasulullah saw berkhalwat dan menerima wahyu pertama, Gua Tsur tempat persembunyian Rasulullah dan Abubakar Shiddiq saat diburu kafir Quraisy. Atau gua-gua di Aceh yang terkenal dengan Guha Tujoh di Laweung Pidie, Gua Loyang Koro Aceh Tengah, dan lain-lain.

Gua-gua tersebut menyimpan sejarah dan misteri bagi generasi penerus, terutama kisah Ashabul Kahfi yang diabadikan Allah dalam Quran. Bagaimana ketujuh pemuda beriman tersebut tidak tunduk kepada raja penyembah berhala. Pengawalnya diperintahkan menangkap dan membunuh mereka. Mereka akhirnya dapat menyelamatkan jiwa dan iman dengan pengorbanan luar biasa.

Di zaman modern dan canggih sekarang ini, generasi muda kita sedang dikejar-kejar oleh kezaliman bentuk lain, yakni pendangkalan akidah dan erosi iman melalui sains dan teknologi bila kita tidak membekali mereka dengan “gua-gua” penyelamat sebagai benteng akidah dan nilai-nilai keimanan sejak dini. Sungguh mengerikan, bila generasi muda kita tidak sanggup lari dari kejaran “modernisasi” bahkan mereka sendiri yang justru larut dengan segala sesuatu yang semakin menjauh dari nilai-nilai ilahiah.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id