Bijak Menyikapi Isu Penculikan Anak | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bijak Menyikapi Isu Penculikan Anak

Bijak Menyikapi Isu Penculikan Anak
Foto Bijak Menyikapi Isu Penculikan Anak

Oleh Adnan

SELAMA beberapa pekan terakhir, masyarakat Indonesia tanpa kecuali Aceh sedang dihebohkan dengan isu penculikan anak. Penulis menyebut “isu” karena beberapa oknum yang ditangkap warga tidak terbukti kebenarannya. Semisal oknum yang ditangkap di Aceh Barat Daya (Abdya) yang diduga penculik anak rupanya mengidap penyakit gangguan jiwa. Meskipun demikian isu penculikan anak harus terus diwaspadai setiap saat. Sebab, menyediakan lingkungan yang nyaman dan aman kepada anak-anak merupakan tanggung jawab semua pihak, baik keluarga, masyarakat, aparat keamanan, maupun pemerintah.

Media sosial harus menjadi saluran bersama dalam melawan kasus-kasus penculikan anak. Sebab saat ini, isu penculikan anak marak berkembang melalui media sosial, semisal Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp (WA). Isu ini semakin menghebohkan sebab anak yang diculik akan dijual (trafficking) untuk diambil organ tubuhnya baik hati, mata, ginjal, maupun organ tubuh lainnya. Meskipun isu ini telah mencemaskan dan meresahkan masyarakat, tapi hingga saat ini aparat keamanan belum dapat mengungkapkan kebenarannya. Sebab itu, kecemasan dan keresahan masyarakat hendaknya tidak berlebihan hingga mengganggu ketenangan dan kenyamanan sosial.

Mirisnya, beberapa oknum yang telah ditangkap warga yang diduga sebagai pelaku penculikan anak hingga saat ini belum terbukti. Bahkan sangat menyedihkan, beberapa oknum yang ditangkap warga termasuk dalam golongan gangguan jiwa. Peristiwa salah tangkap semacam ini hendaknya tidak terulang kembali, sebab akan merugikan orang-orang yang tertuduh dan merusak nama baik keluarga. Apalagi oknum tersebut baru diduga melakukan penculikan, tapi masyarakat sudah menyebarkan melalui media sosial bahwa oknum tersebut penculik anak. Tentu ini tidak patut untuk dilakukan dalam bermedia sosial yang bijak nan arif.

Masyarakat diharapkan ketika mencurigai seseorang sebagai pelaku penculikan anak, hendaknya jangan menyebarkan terlebih dahulu sebelum dibuktikan kebenarannya. Ini penting dilakukan agar tidak mencemaskan dan meresahkan masyarakat yang lain. Jika tidak, maka informasi yang telah kita sebarkan akan mengganggu ketenangan orang lain. Selain itu, pengguna media sosial hendaknya lebih bijak nan arif dalam menyebarkan suatu peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang belum dapat dipastikan kebenarannya hendaknya tidak dijadikan sebagai konsumsi publik lebih dulu.

Selain itu, di era media saat ini, masyarakat dituntut untuk untuk selalu melakukan cek dan ricek (tabayyun) terhadap berbagai informasi yang diterima. Apalagi seiring dengan perkembangan media sosial yang begitu mewabah terus memberikan dampak positif dan negatif bagi pengguna media sosial. Satu sisi media sosial dapat menjadi saluran informasi yang sangat cepat bagi pengguna media. Tapi, di sisi lain media sosial juga menyimpan berbagai informasi bohong (hoax) yang diarahkan oleh pihak di belakang layar untuk mengambil keuntungan.

Sehingga terkadang maraknya isu penculikan anak sulit diterima akal sehat di tengah maraknya isu-isu penting di negeri ini. Pada awalnya masyarakat diarahkan untuk mengikuti dan mengawasi perjalanan kasus-kasus amoral yang mahadahsyat, semisal penistaan agama, tapi tiba-tiba diarahkan untuk memelototi isu penculikan anak yang meresahkan para orang tua. Sebab itu, melakukan kroscek atas segala informasi yang diterima merupakan satu indikator cerdas bermedia sosial.

Beberapa langkah
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menyikapi isu penculikan anak, yaitu: Pertama, masyarakat tidak mudah percaya dengan informasi yang diterima. Artinya, masyarakat harus cerdas dalam menyaring informasi yang diterima. Sebab, tidak semua informasi yang diterima itu sebuah kebenaran. Pasti ada oknum-oknum tertentu (fasik) yang mencoba ingin merusak kenyamanan, keamanan, ketenangan, yang sedang dinikmati oleh masyarakat. Sehingga dengan mewabahnya isu ini membuat para orang tua was-was, khawatir, cemas, dan resah terhadap keberadaan anak-anak mereka.

Kedua, masyarakat tetap waspada. Meskipun sebuah isu harus dikelola dengan bijak nan arif. Tapi, masyarakat perlu terus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman penculikan anak setiap saat. Sebab, memberikan keamanan kepada anak merupakan hak anak yang harus dijamin oleh keluarga dan lingkungan masyarakat. Karena itu, hakikatnya menjamin keamanan lingkungan anak, bukan hanya ketika isu penculikan anak marak terjadi. Namun harus dijamin setiap saat meskipun tidak ada isu penculikan anak. Bukankah banyak kasus ditemukan, ketika marak terjadi isu penculikan anak tapi tidak ada korban penculikan. Tapi ketika tidak ada isu penculikan, saat itulah anak-anak diculik.

Ketiga, orang tua hendaknya terus berkomunikasi intens dengan pihak sekolah. Sekolah sebagai pihak yang mengelola anak-anak di pagi hari memiliki kewajiban untuk menjamin keamanan anak di sekolah, dan selalu memberikan berbagai informasi yang berkenaan dengan anak kepada paraorangtua, agar orang tua tidak resah dan cemas. Tapi yang perlu diingat para orangtua bahwa, menjalin hubungan intens dengan pihak sekolah bukan hanya ketika isu penculikan anak marak terjadi.

Akan tetapi, komunikasi intens orangtua dengan sekolah harus dilakukan setiap saat. Artinya, komunikasi intens orangtua dengan sekolah bukan hanya sekedar untuk memastikan anak diculik atau tidak. Akan tetapi juga untuk menerima laporan-laporan dari sekolah terkait dengan prestasi anak di sekolah, baik prestasi yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.

Kempat, orangtua hendaknya memberikan informasi menyeluruh tentang kondisi dan keberadaan anak kepada pihak sekolah. Semisal orang tua harus memberitahu pihak sekolah siapa yang berhak mengantar atau menjemput anak ke sekolah. Ini perlu dilakukan orang tua, agar ketika anak pulang sekolah tidak dijemput oleh sembarangan orang, agar anak lebih terjamin keamanannya. Namun demikian, menjemput anak tepat waktu menjadi keharusan bagi orangtua untuk memudahkan koordinasi orangtua dengan pihak sekolah dalam menjamin keamanan anak.

Kelima, penegakan hukum yang berkeadilan terhadap anak. Oknum penculik hendaknya dapat dihukum dengan hukuman seberat-beratnya sebagai efek jera bagi pelaku maupun para pelaku lain. Selain pedoman dalam KUHP, UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan, dan Qanun Aceh tentang anak juga harus dimaksimalkan. Artinya, oknum penculik anak harus dihukum seberat-beratnya, sebab penculikan anak merupakan kejahatan mahadahsyat yang melanggar nilai-nilai agama maupun peraturan perundang-rundangan yang berlaku.

Karena itu, penculikan anak merupakan satu kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir, bertentangan dengan nilai-nilai agama maupun peraturan perundang-rundangan yang berlaku. Sebab, korban merupakan pihak yang paling dirugikan. Korban penculikan pasti akan mengalami trauma (traumatic disorder) yang dapat merusak dan mengganggu tumbuh-kembang mereka.

Oleh sebab itu, masyarakat dituntut untuk selalu waspada dengan kejahatan yang tidak manusiawi tersebut. Kewaspadaan penculikan anak tidak hanya dilakukan ketika maraknya isu penculikan anak saja. Akan tetapi, kapan pun anak-anak tetap harus terjaga dari berbagai ancaman, termasuk penculikan. Semoga!

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh. Email: [email protected] (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id