Memburu Kebab Turki di Bustanussalatin | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Memburu Kebab Turki di Bustanussalatin

Foto Memburu Kebab Turki di Bustanussalatin

aceh.Uri.co.id, BANDA ACEH –  “Tau tidak? Saya datang ke bazar ini khusus mau rasa kebab Turki. Kabarya yang bikin kebabnya orang Turki langsung loh,” kata seorang perempuan calon pembeli kepada teman perempuannya, Sabtu (06/03), di Sultanussalatin (Taman Sari), Banda Aceh.

Perempuan-perempuan berparas plus, lagi bergaya mentereng dan gaul itu, sudah antre belasan menit lalu, juga terlihat kilau keringat di wajah mereka.

Ada juga beberapa keluarga keturunan (ciri orang Turki) yang lalu lalang dan ikut antre. Tapi kebanyakan perempuan usia kuliahan ikut mejeng dan menyantap kebab, langsung di arena bazar.

“Cafe” dadakan dengan beberapa kursi kayu gaya minimalis berpelitur, agak memberi dimensi ala Timur Tengah. Apalagi rata-rata panitia bazar mengenakan kopiah bulat merah.

Meriah juga akhirnya lokasi yang berluas sekitar 600-an meter itu. Entah karena Sabtu sore menjelang malam Minggu? Atau memang sebagian pengunjung ingin berburu kebab. Yang jelas, para “tamu” masih betah duduk usai santap kebab. Barangkali karena disuguh teh Turki yang Rp 2.000 saja per gelas, yang untuk tamu spesial bersifat gratis.

“Sebentar ya buk,” terdengar seorang lelaki Turki yang melayani transaksi kekab. Sosok atletis dan tampan itu pun tak luput dari senyum tipisnya. Keningnya kelihatan berkeringat juga. Ia sibuk dengan pembelinya, kendati sore itu, cuaca terbilang adem.

Di arena pojok depan Bustanussalatin itu, sebenarnya ada juga stand aneka jus, penganan dalam negeri, aksesoris imitasi, makanan kering dari Turki. Tapi rata-rata pengunjung antre di meja pembuatan kebab. Seru juga menyaksikan mereka berjajar dengan sabar mengantre. Memang ada juga yang tak sabaran.

“Sebentar, sebentar, tunggu ya, yang isi ayam kan?” kata kru kebab, yang ketika ke Aceh, sudah belajar bahasa Indonesia semala tiga bulan. Dalam situasi padat pembeli itu, kadang-kadang mereka hanya mengangguk menanggapi pesanan.

Uniknya, pengunjung bisa melihat langsung para “pendekar” kebab bekerja dengan gesitnya. Mulai dari membulirkan daging sapi giling atau merajangtipiskan daging ayamnya.

Di menjelang senja “meriah” itu aceh.Uri.co.id mendapati ada tujuh orang ada tujuh orang asal Turki, yang langsung datang dari Turki. Satu orang dari Malaysia, Cek Kamaruzzaman (yang menanangi pencincangan ayam dengan menggunakan alat pencincang sekaligus pemanggang daging ayam, doner namanya).

Lelaki ini khusus mengambil cuti untuk bazar penggalangan dana bagi sekolah hafal Alquran tersebut. Padahal dia hanya mengerti cara mengiris ayam kebab yang pernah dilakukannya di Malaysia. Tapi bukan pekerja di perusahaan kebab.

“Sampai setakat ni sudah tiga doner habis. Satu doner ni 30 puloh kilo grem ayam,” jelasnya bersemangat. Iya tetap nyaman bekerja kendati doner mengeluarkan panas seperti kita berdiri dekat panggangan kambing guling.

Bazar juga melibatkan sejumlah santri Tahfizul Quran Ponpes Sulaimaniyah, Aceh Besar. Agak kontras dengan stand kebab, dua siswa yang menunggugui jajanan Nusantara, hampir tak ada peminat.

Sebaliknya, di barisan aneka jus, tiga siswa cukup sibuk juga melayani pembeli. Sama seperti di meja penjual penganan kering serba Turki. Laris manis, terutama coklat yang dikemas seperti permen, yang harganya Rp10.000/enam buah.

Pada Sabtu malam, bazar sedianya ditutup pukul 22.00 Wib, namun melihat ramainya pengunjung yang belanja, gebyar “kebab” baru tutup pukul 24.00 Wib. Pada hari penututupan bazar Minggu malam, kebab Turki masih menjadi primadona.

Ajang ini simpel dan sangat sederhana, sebenarnya. Yang membuat kita mesti mengadopsinya adalah, kreatifitas keluarga besar Yayasan Sulaimaniyah Tahfidz Center Aceh, untuk “menghidangkan” warna lain dalam bazarnya.

Tak ada umbul-umbul atau dekor spektakuler. Tapi tetap tampil beda dengan bazar umumnya. Faktanya, ini memiliki daya jual lebih, dengan menghadirkan “aroma” Turki, baik kebabnya, tehnya, aneka coklatnya, makanan keringnya, maupun kurma Pearl Dates Al-Ansar, dalam kemasan sebesar kotak kertas nasi, dengan netto 1000 gram kurma, dan dibanderol Rp50 ribu/kotak.

Seperti penuturan Ustadz Muzakki, bidang informasi dan komunikasi bazar, kegiatan jualan sambil berderma ini, bertujuan untuk membiayayi calon penghafal Alquran tiga pesantren di Aceh. Ada 70 calon penghafal Alquran yang menanti uluran tangan. Tahun 2015 sudah diwisuda 15 orang penghafal 30 juz Alquran.

Anda tahu dari mana modal usaha ala anak sekolahan ini? “Dari kaum muslimin muslimat Turki. Donasinya berupa uang tunai, bahan makanan, makanan kemasan, dan pakaian. Ini diberikan secara gratis,” ungkap Ustad Muzakki. (VIDEO Bazar Makanan Turki)

Menurut Muzakki, hingga malam Minggu lalu, khusus untuk produksi kebab, dapur yang dipimpin oleh Abi Tajuddin itu, telah menghabiskan 140 ekor ayam, 30 Kg daging sapi. Kebab ayam disebut doner kebab (satu doner 30 ekor daging ayam), kebab daging sapi disebut adana kebab (Adana nama sebuah kota di Turki yang mula-mula membuat kebab). “Ayamnya kami sembelih sendiri secara syariat,” jelas Muzakki lagi.

Satu kebab berisikan setengah ons daging, seiris tomat, sejumput selada, dan bumbu-bumbu seperti merica, cabe bubuk, dan lain-lain. Satu kebab adana dihargakan Rp20.000, dan satu kebab doner Rp15.000. Satu produk lagi, miazum namanya (kulit kebab yang permukaannya dibubuhi daging giling berbumbu), dihargakan Rp10.00/lembar. Hanya saja bila hendak dikonsumsi harus dipanggang dulu.

Bazar yang dibuka Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal (bakda Jumat, 4/3) ini ditutup Minggu malam lalu. Panitia, berhasil mengumpulkan sejumlah dana. Cukupkah untuk membiayayi segala sesuatu bagi 70 calon penghafal Quran? Tapi, hasil usaha “keroyokan” ini semoga bermanfaat dan berkah adanya.(nani hs)


(uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id