Ketersediaan Air untuk Masa Depan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ketersediaan Air untuk Masa Depan

Ketersediaan Air untuk Masa Depan
Foto Ketersediaan Air untuk Masa Depan

Oleh Teuku Rahmad Danil Cotseurani

KETERSEDIAAN air bersih di masa mendatang merupakan hal terpenting bagi kehidupan semua manusia. Air sebagai satu hajat dasar manusia, ketersediaan air bersih adalah hal utama menjamin kelayakan keberlangsungan hidup. Tentu akan menjadi petaka bila krisis air terjadi.

Dewasa ini, tiap-tiap negara punya metode sendiri dalam menangani krisis air. Di beberapa negara di mana angin yang menguntungkan terus-menerus bertiup, kincir-kincir angin mengangkat air ke permukaan dan juga berfungsi sebagai generator listrik. Di negara yang lebih kaya, mengubah air laut menjadi air tawar juga dipandang sebagai solusi yang tepat guna. Di banyak tempat, bendungan-bendungan raksasa menampung air sungai dan air hujan, metode yang sedikit banyak terbukti efektif meskipun reservoir di daerah gersang bisa menyusut sekitar 10% karena penguapan.

Lebih dari 780 juta orang di seluruh dunia kekurangan akses air bersih, dan kemajuan dalam pencapaian target global untuk sanitasi yang memadai sangat di luar jadwal, upaya baru kini sedang dilakukan guna memastikan sanitasi dan air untuk semua. Pada Pertemuan Tingkat Tinggi Sanitasi dan Air untuk Semua (SWA), yang diselenggarakan belum lama ini di Washington DC, Amerika Serikat, menyatukan sekitar 60 menteri lebih dari 30 negara. Pertemuan yang diselenggarakan oleh UNICEF ini, memastikan bahwa akses sanitasi dan sumber air minum yang baik dapat menjadi kenyataan bagi miliaran orang yang masih hidup tanpanya.

Menurut Angela Kearney –Perwakilan UNICEF di Indonesia– kemajuan penting telah dibuat dalam dekade terakhir untuk meningkatkan akses terhadap sumber air dan sanitasi yang baik di Indonesia. Tapi masih banyak orang yang masih tidak mendapatkan haknya yang paling dasar itu. Hanya separuh dari penduduk Indonesia memiliki akses air bersih, dan kurang dari setengah memiliki akses ke sanitasi yang layak.

Prioritas utama, menurut UNICEF, harus mencakup pelaksanaan program air, sanitasi dan kebersihan di semua sekolah pada 2020, dengan fokus khusus pada air dan sanitasi bagi masyarakat miskin perkotaan sebagai bagian dari semua program pembangunan perkotaan, dan alokasi sumber daya yang cukup untuk mencapai target air, sanitasi dan kebersihan di tingkat Nasional dan subnasional.

Program sanitasi
Pelaksanaan program air, sanitasi dan kebersihan di sekolah tidak hanya meningkatkan ketersediaan sarana yang sesuai dan berkelanjutan di semua sekolah pada 2020, tetapi juga memberdayakan siswa untuk menjadi advokat untuk perilaku baik dalam keluarga mereka sendiri. Inisiatif masyarakat untuk meningkatkan sanitasi di Indonesia juga telah terbukti memberikan hasil positif. Berbagai upaya diperlukan untuk memastikan masyarakat tidak lagi melakukan praktik buang air besar sembarangan, mempromosikan cuci tangan dengan sabun, meningkatkan kebersihan pada air rumah tangga, dan memperkuat pengelolaan limbah padat dan cair.

Diharapkan seluruh masyarakat Indonesia bisa mengakses air minum yang layak mulai 2019. Target ambisius itu tertuang dalam program 100-0-100, yakni 100% ketersediaan akses air bersih, 0% kawasan kumuh, dan 100% ketersediaan akses sanitasi sehat. Untuk merealisasikan ketahanan air, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) secara masif membangun bendungan-bendungan di seluruh Indonesia beberapa tahun kedepan.

Kondisi ketersediaan air di Indonesia saat ini ialah 56 m3 per kapita per tahun.

Jumlah tersebut masih rendah. Bahkan, situasinya menyerupai Ethiopia yang ketersediaan hanya berkisar 38 m3 per kapita per tahun. Dalam membangun bendungan, ada beberapa aspek yang wajib diperhatikan seperti tingkat risiko, biaya, dan dampak sosial yang akan timbul disebabkan adanya penggunaan lahan untuk fi sik bendungan. Hal itu sejalan dengan penerapan UU No 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, dan Permen PU No.27 Tahun 2011 tentang Pembangunan Bendungan.

Pembangunan bendungan akan dilakukan Kementerian PU-Pera apabila Komisi Keamanan Bendungan telah mengeluarkan sertifikat terkait dengan desain bendungan yang akan dibangun. Pada 2015, Ditjen SDA telah menyelesaikan 13 bendungan, dan 2016 ada sembilan bendungan yang pengerjaannya telah selesai. Harapannya pada 2019, melalui percepatan pembangunan bendungan, ketersediaan tampungan air bisa meningkat mencapai 14 miliar m3.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketahanan air sama pentingnya dengan ketahanan pangan dan energi nasional. Walaupun air bukan merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas yang akan habis nantinya, air yang diidentifikasi sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui suatu saat juga akan terjadi perebutan akan air di dunia, bahwa krisis air di dunia akan memberi dampak yang mengenaskan, tidak hanya membangkitkan epidemic penyakit yang merenggut nyawa, tapi juga akan mengakibatkan bencana kelaparan dan perang.

Amanat yang terkandung dalam UU No.7 Tahun 2014 tentang Sumber Daya Air, meliputi berbagai aspek dan penerapannya sangat bergantung pada harmonisasi kebijakan yang berada di beberapa kementerian dan institusi terkait. Untuk itu tata kelola sumber daya air yang baik merupakan persyaratan utama dalam mencapai tingkat ketahanan air, selain ketahanan pangan dan energi yang baik dan berkesinambungan.

Tata kelola sumber daya air yang efektif memerlukan adanya penataan ruang air dan pemecahan konflik kepentingan antara lain dengan pemanfaatan ruang antara manusia dan air; perlunya keseimbangan pembangunan infrastruktur sumber daya air baik dari sisi lokasi maupun alokasi air; tata kelola sumber daya air didasarkan pada wilayah sungai dan penegakan hukum terkait banyaknya pelanggaran di bidang sumber daya air. Untuk mencapai ketahanan air, diperlukan dukungan institusi, aturan dan peraturan, kemampuan untuk mengelola perubahan, struktur manajemen yang terus disesuaikan dan adanya kerjasama dengan semua pihak agar mampu mengintegrasikan kompleksitas sosial dan alam.

Penyelamatan air
Penting bagi kita menjadi “pahlawan” penyelamatan air dan untuk konservasi air dengan cara-cara sederhana dalam kehidupan sehari-hari di rumah, antara lain: Pertama, ketika sedang mencuci tangan atau piring di wastafel, jangan biarkan air keran terus mengalir ketika sedang membubuhkan sabun pada tangan, piring, dll. Atau siapkan dua bak cuci khusus, satu sebagai tempat air untuk mencuci, satu sebagai tempat air untuk membilas; Kedua, nyalakan mesin cuci pakaian atau mesin cuci piring ketika pakaian atau piring sudah memenuhi mesin tersebut. Ini dapat menghemat 1.000 galon air per bulan;

Ketiga, siram tanaman di pagi atau sore hari, menyiram tanaman pada tengah hari, mengakibatkan sebanyak 14% air tak sanggup diserap tanaman karena penguapan; Keempat, cucilah barang-barang di bak cuci piring atau ember yang telah terisi air, ketimbang mencucinya di keran yang mengalir; Kelima, untuk membersihkan kotoran di rumah atau jalan, gunakan sapu dari pada menggunakan penyemprot air. Ini menghemat lebih dari 80 galon air setiap membersihkannya itu;

Keenam, setiap 7 liter air baru bisa menghasilkan 1 liter air kemasan. Oleh karena itu bawalah sendiri air dalam botol yang dapat dipergunakan berulang kali, baru bisa membuat air dipergunakan pada tempatnya. Setiap tahun kita bisa menghemat 577 galon air; Ketujuh, cukup gunakan waktu 5 menit untuk mandi. Gunakan shower ketimbang bathub. Bathtub dapat membuang air sebesar 60 liter; Kedelapan, matikan air ketika gosok gigi dan kamu akan menghemat air 4 galon per menit. Itu sama dengan 200 galon seminggu untuk keluarga berjumlah 4 orang;

Kesembilan, kumpulkan air yang kamu gunakan untuk membilas produk anda dan gunakan lagi untuk menyiram tanaman di rumah; Kesepuluh, gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman. Selain hemat, air bekas cucian sayur, buah dan daging ternyata bisa menyuburkan tanaman; Kesebelas, biarkan cabang-cabang rendah pada pepohonan dan semak-semak dan biarkan sampah dedaunan menumpuk di tanah. Hal ini menjaga tanah supaya tetap sejuk dan mengurangi penguapan; Keduabelas, hindari pemasangan ornamen di rumah kita yang menggunakan air (air mancur, kolam, dll.) kecuali air itu didaur-ulang;

Ketigabelas, jika punya binatang peliharaan, kucing atau hewan piaraan lain saat memandikannya,sebaiknya direrumputan agar airnya juga ikut menyiram tanaman dan diserap tanah; Keempatbelas, saat kita menyisakan es batu bekas air minum, jangan buang es ke tong sampah. Sebaiknya buang ke tanah agar diserap tanaman, dan; Kelimabelas, sampaikan ide-ide ini kepada orang lain dan masyarakat pada umumnya. Doronglah sistem sekolah, dinas, tempat kita bekerja dan pemerintah untuk membantu mengembangkan dan mempromosikan etika konservasi air bagi anak-anak, orang dewasa dan masyarakat luas.

Sedih rasanya bila kita melihat segelintir orang-orang kaya dan pebisnis hotel dan restauran yang membuang-buang air secara percuma. Selain dari pemerintah melalui PDAM untuk penyediaan air bersih dan air minum untuk semua, tentu perlu melibatkan masyarakat pada umumnya dengan kearifan lokal setempat untuk mengembangkan peningkatan dan penyediaan akses air bersih dan sanitasi di Indonesia. Sehingga juga akan terwujudnya air untuk semua. Selamat Hari Air Sedunia, 22 Maret 2017!

* Teuku Rahmad Danil Cotseurani, Bagian Akuntansi, Audit dan Pelaporan/Penata Laporan Keuangan PDAM Tirta Krueng Meureudu, Pidie Jaya. Email: [email protected] (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id