Dari Madu hingga Waria Bangkok | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dari Madu hingga Waria Bangkok

Dari Madu hingga Waria Bangkok
Foto Dari Madu hingga Waria Bangkok

OLEH ROSI MALIA SH, MM, Ketua DPC Iwapi Kota Banda Aceh, melaporkan dari Bangkok, Thailand

KAMI dari Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (DPC Iwapi) Kota Banda Aceh melaksanakan Tour and Business di Bangkok, Thailand, selama lima hari pada minggu ketiga Maret 2017. Kami tinggalkan Aceh justru pada saat suhu politik pascapilkada kembali memanas. Bagi kami, politik memang penting, tapi misi dagang harus tetap jalan, karena itu juga penting.

Tim DPC IWAPI Kota Banda Aceh yang delegasinya terdiri atas delapan orang bergegas ke luar dari Bandara Don Mueang, Bangkok. Kami dijemput oleh Staf Embassy Indonesia di Thailand. Ia wanita muda asli Thailand, namun pernah kuliah tiga tahun di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan telah belajar bahasa Indonesia delapan bulan. Hingga kini ia mampu berbahasa Indonesia dengan baik.

Kami langsung bergegas menuju sentra budidaya madu lebah yang sangat terkenal dan kualitasnya terbaik di dunia, sehingga kami tertarik membelinya karena sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Selanjutnya kami menuju Pattaya, Bangkok, untuk melihat-lihat suasana keramaian di sini. Resor ini terkesan seperti di pantai Kuta Bali saja, dengan jumlah penduduknya lebih kurang 1 juta orang.

Pattaya yang banyak dikunjungi turis mancanegara mampu membuat kawasan tersebut makin baik pertumbuhan ekonominya. Itu karena banyaknya pelancong/wisatawan yang berkunjung ke sini.

Suasana malam di Pattaya sangatlah ramai dan sangat membuat para turis happy. Kami ikut menikmati keindahan dan gemerlap lampu-lampu gedung di pinggiran pantainya. Juga terdapat banyak bar, toko aksesori, dan toko pakaian di sini.

Setelah puas foto-foto selfi di seputaran Pattaya, kami pun beranjak menuju Alcazar Cabaret Show. Pelakon dalam pertunjukan ini terdiri atas para lady-boy yang berwajah cantik rupawan. Mereka menyuguhkan ragam tarian dari berbagai negara yang warganya sering berkunjung ke Thailand, seperti Rusia, Korea, Jepang, Indonesia, Filipina, India, Cina, Italia, dan lain sebagainya.

Semua tarian mereka kemas dengan sangat indah dan glamour, walau para penarinya lelaki dan para waria (bencong). Tampilan mereka lucu, tapi menarik dan variatif.

Sungguh, para waria itu lebih terlihat cantik dan seksi dibandingkan para wanita original yang hadir saat itu. Hehe, lucu tapi nyata.

Seusai menyaksikan pertunjukan budaya, baik tarian dan opera, kami pun kembali ke hotel yang tak jauh dari Kedutaan Negara Republik Indonesia di Bangkok. Di kedutaan, kami menghadiri serangkaian meeting dengan pengusaha Thailand dan juga Dubes Indonesia di Bangkok.

Thailand sangatlah bisa memberikan services yang baik untuk para turis. Thailand juga punya mata uang yang nilai kursnya rendah, di samping harga barangnya rata-rata murah.

Namun, ya, dari sisi keasrian, kota ini masih terlihat kurang bersih. Bus angkutannya pun masih ada yang kurang baik kondisinya. Beda sekali halnya dengan kita di Aceh yang armada angkutan penumpangnya rata-rata oke punya. Infrastrukturnya pun cukup mendukung.

Tapi, untuk bidang tourism, performa kita masih belum begitu baik. Ya, mungkin karena sumber daya manusia (SDM) dan etos kerja orang kita yang masih kurang. Sedangkan di Thailand, semua warganya sangat giat dalam bekerja, termasuk dalam memajukan sektor pariwisata dan pertanian, lebih khususnya lagi ekowisata.

Mereka juga gigih dan pantang menyerah. Juga amat patuh mengikuti berbagai aturan (rules) yang ditetapkan kerajaan, karena mereka punya raja yang karismatik, arif, dan bijaksana serta cinta terhadap rakyatnya.

Yang paling lucu lagi saat kami belanja di pinggiran jalan atau pedagang kaki lima. Begitu jam berniaganya habis, maka harga murah pun sontak jadi mahal. Mestinya dengan harga 100 bath dapat dua item barang, tapi dengan pembatasan waktu berniaga tersebut malah kita hanya dapat satu saja. Haha… Tapi, ya sudahlah. Yang penting, visi dan misi kami ke Bangkok kali ini tercapai. Terutama untuk melakukan hal-hal yang penting bagi pelaku UKM dan UMKM di Aceh dan semoga dapat membawa perubahan, karena kami sudah menggaet buyer (pembeli) dan investor untuk menampung produk Aceh yang di Aceh justru agak kurang pemasarannya. Ini sudah menjadi tugas dari organisasi kami. Kami juga berharap Pemerintah Aceh paham dengan hal yang lebih penting daripada yang penting.

Ada beberapa hal yang kami peroleh dari misi tour and business ke Bangkok kali ini. Yakni, selain menyelami success story Bangkok mengurus tourism, kami juga belajar mengenai market yang manajemen pasarnya sangat rapi dan terbaik di Thailand. Jadi, betapa tertinggalnya negara Indonesia dalam hal ini. Pejabat kita banyak yang melawat ke luar negeri, tapi banyak hal yang positif tidak dapat diterapkan sesampainya ke Tanah Air. Semoga ke depan Pemerintah Indonesia, khususnya Aceh, dapat belajar dan menerapkan hal-hal positif dari negara luar, terutama dari negara jirannya.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id