Ulama: Jangan Berjanji yang Membinasakan Diri | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ulama: Jangan Berjanji yang Membinasakan Diri

  • Reporter:
  • Selasa, Maret 21, 2017
Ulama: Jangan Berjanji yang Membinasakan Diri
Foto Ulama: Jangan Berjanji yang Membinasakan Diri

* [email protected] Kawal Janji Mundur Politisi

BANDA ACEH – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali meminta politisi di Aceh agar tidak mengumbar janji yang berlebihan kepada publik atau masyarakat. Ia mengingatkan, para politisi atau siapa pun tidak mengikat janji dengan sesuatu yang bisa membinasakan atau memudharatkan diri sendiri.

“Berkomitmen terhadap sesuatu yang akan dicapai itu sesuatu yang harus kita apresiasi, tapi dalam berjanji atau berkomitmen itu janganlah sampai memudharatkan diri kita sendiri. Ini dilarang dalam Islam. Jangan kita berjanji dengan sesuatu yang dilarang oleh agama, itu tidak boleh,” kata Lem Faisal, sapaan akrab Tgk H Faisal Ali.

Pencerahan yang disampaikan Lem Faisal itu menanggapi berita sebelumnya berjudul ‘Politisi PA Siap Potong Jari’. Sebagaimana diketahui, publik Aceh telah dibuat heboh dengan janji seorang politisi Partai Aceh (PA), Azhari Cagee yang menyebutkan bahwa ia siap potong jari telunjuk jika tidak mundur dari DPRA apabila Mahkamah Konstitusi (MK) tidak menggunakan UUPA sebagai acuan dalam menyelesaikan sengketa Pilkada Aceh.

Kemarin, Serambi bertanya kepada Lem Faisal tentang janji potong jari ala Azhari Cagee itu dalam pandangan agama. Diskusi awal berlangsung melalui salah satu kanal WhatsApp, kemudian Serambi lanjutkan dengan mewawancari Lem Faisal.

Menurut Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar ini, dalam konsep Islam, setiap manusia dilarang melakukan perbuatan yang bisa memudharatkan dirinya sendiri dan memudharatkan orang lain. “La dharara wala dhirara, tidak boleh melakukan perbuatan yang berbahaya dan membahayakan, memudharatkan diri sendiri atau orang lain. Itu hadisnya,” sebut Lem Faisal.

Lem Faisal juga menyebutkan penggalan ayat 195 Surah Albaqarah yang artinya: ‘Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik’.

Menurutnya, firman Allah Swt dan sabda Rasulullah saw tersebut cukup jelas menerangkan bahwa tidak boleh setiap manusia berperilaku yang membahayakan diri atau orang lain.

“Tapi lakukanlah yang baik-baik, berjanjilah dengan hal-hal baik, beramal saleh. Misalnya, kalau saya tidak pulan, maka saya akan bersihkan sepuluh masjid, bersihkan got 100 meter, atau berpuasa. Ini amal-amal yang baik, begitu lebih baik, untuk apa kita mengikat diri dengan hal-hal yang membahayakan diri kita sendiri,” sebutnya.

Lem Faisal mengatakan, dalam konteks ini dirinya tidak mengomentari persoalan kegaduhan politik yang sedang terjadi di Aceh akhir-akhir ini, ia hanya mengajak semua pihak untuk tidak melampaui diri dengan kaidah-kaidah agama. Ia mengapresiasi jiwa patriotik masyarakat Aceh dalam mewujudkan sesuatu hal. “Tentunya semangat itu kita apresiasi, tapi mari sama-sama kita jaga diri kita, agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama,” ujar Lem Faisal.

Kepada semua masyarakat, Lem Faisal juga meminta agar tidak saling menyudutkan dan memancing untuk melakukan hal-hal yang dilarang itu. “Lebih baik kita saling mengingatkan jika di antara kita ada yang khilaf,” pungkas Lem Faisal.

Bernada ancaman
Sementara itu, Koordinator Mahasiswa Peduli Perdamaian Aceh ([email protected]), Azwar AG mengatakan akan mengawal janji politisi Partai Aceh (PA)–legislatif maupun eksekutif–yang menyatakan mundur dari jabatannya apabila Mahkamah Konstitusi (MK) tidak menggunakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai acuan dalam penanganan sengketa pilkada di Aceh.

“Janji pengunduran diri sejumlah elite Partai Aceh baik di eksekutif maupun legislatif, merupakan gaya lama untuk menarik simpati rakyat. Seolah-olah mereka dizalimi oleh sistem yang ada,” kata Azwar kepada Serambi, Senin (20/3), melalui press release menanggapi ancaman yang disampaikan politisi PA, bahkan ada anggota legislatif yang nekat siap potong jari telunjuk jika tidak mundur dari DPRA.

Menurut Azwar, ancaman-ancaman seperti itu bukan hanya kali ini saja dikeluarkan. Pola politik seperti ini, ulasnya, patut dipertanyakan lantaran selama ini PA mengklaim diri sebagai partai damai. Namun, dalam perjalanannya kerap mengeluarkan statemen bernada ancaman.

“Sebelum pilkada juga mereka mengancam akan konflik kembali jika Partai Aceh gagal meraih kemenangan. Apakah ini substansi dari damai yang selama ini diwariskan oleh perjuangan sebelumnya? Apakah pernyataan-pernyataan seperti itu murni keluar dari mulut politisi PA karena latah atau memang ada yang mengonsep dari belakang layar,” kata aktivis Aceh ini.

Jika dugaan terakhir tersebut benar adanya, Azwar mengatakan, maka para “sutradara” atau “konsultan” politik yang dipakai PA saat ini diduga malah sedang menjalankan skenario besar untuk memecah belah masyarakat dan memperkeruh suasana. Hal ini tentunya harus diwaspadai mantan kombatan GAM yang ada di dalam dan di luar PA.

Kendati demikian, kata Azwar lagi, pihaknya akan memegang kata-kata politisi PA yang siap undur diri jika UUPA tidak menjadi rujukan dalam penyelesaian sengketa pilkada Aceh di MK. Sebab, komitmen yang disampaikan ini perlu dipertanggungjawabkan agar lembaga legislatif dan eksekutif di Aceh tak berubah jadi panggung lelucon.

“Jangan jadikan lembaga eksekutif dan legislatif Aceh itu panggung lelucon kepentingan jangka pendek segelintir elite. Kami akan kerahkan masyarakat untuk menduduki Gedung DPRA jika mereka tidak mengundurkan diri nantinya. Kami akan buktikan hari ini bahwa masyarakat Aceh sudah tidak takut dengan teror hitam elite-elite politik munafik,” kata mantan kombatan GAM wilayah Batee Iliek ini.

Ketua [email protected] ini meminta PA membuktikan komitmennya sesuai nilai-nilai perjuangan seperti yang disampaikan selama ini. (dan/mas) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id