Matahari Sabit ‘Sapa’ Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Matahari Sabit ‘Sapa’ Aceh

Foto Matahari Sabit ‘Sapa’ Aceh

BERSIAP-siaplah menikmati pemandangan langka Gerhana Matahari Total (GMT) yang hanya berulang 350 tahun sekali di tempat yang sama. Pada hari Rabu, 9 Maret 2016 akan ada GMT yang hanya bisa dilihat di 12 provinsi di Indonesia. Sisanya, hanya bisa menikmati Gerhana Matahari Sebagian (GMS), termasuk Provinsi Aceh. Di beberapa lokasi di Aceh, masyarakat hanya bisa melihat GMS, atau matahari dengan 72 persen tertutup piringan bulan, yang berarti warga hanya bisa melihat matahari berbentuk sabit. Mengapa pula muslim disunatkan shalat gerhana dan apa risikonya jika melihat langsung fenomena alam itu dengan mata telanjang? Serambi mengulas peristiwa langka ini dalam laporan khusus edisi ini.

Kamis, 9 Mei 1929. Hari itu, sebagian Sumatera gelap total dalam beberapa menit. Di Aceh, gerhana matahari total itu bisa disaksikan, antara lain di Aceh Tengah. Dataran Tinggi Gayo itu menjadi salah satu tempat terbaik menikmati panorma tertutupnya seluruh piringan matahari oleh piringan bulan dalam beberapa menit. Namun, seperti juga sejarah proses terjadinya gerhana di berbagai belahan Nusantara, masyarakat tidak ada yang berani melihat. Sebagian memang melaksanakan shalat sunat gerhana. Namun, sebagian lainnya justru bersembunyi penuh ketakutan di dalam rumah. “Saat itu warga ketakutan,” kata Mahmud (70), warga Aceh Tengah, yang mengaku mendengar cerita itu dari almarhum ayahnya.

Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, proses terjadinya gerhana pun kini mudah dipahami. Untuk menikmati gerhana total pada 9 Maret 2016, warga dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong masuk Indonesia. Mereka ingin menyaksikan langsung GMT di beberapa lokasi, seperti di Palembang, Bangka, dan Belitung.

Sementara di Aceh, Pusat Studi Ilmu Falak Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe menetapkan lokasi pengamatan dan shalat saat terjadi gerhana matahari pada 9 Maret di KP3 Lhokseumawe. Gerhana matahari berdasarkan perhitungan Pusat Studi Ilmu Falak STAIN terjadi selama dua jam, mulai pukul 06.26 WIB sampai 08.26 WIB.

“Gerhana matahari total itu adalah hal normal yang terjadi dalam ilmu falak. Gerhana matahari itu memang terjadi setiap tahunnya. Namun, kadang tidak bisa terlihat di wilayah Indonesia dan persentase piringan matahari tertutup piringan bulan itu lebih kecil,” kata Kepala Pusat Studi Ilmu Falak STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Tgk Ismail SSy MA kepada Serambi, kemarin.

Menurut dia, gerhana matahari yang terjadi adalah kekuasaan Allah SWT dalam mengatur bumi ini. Artinya, semua planet itu berputar pada garis eleptika dan tidak pernah bergeser, tidak lambat dan tidak cepat, tapi teratur, sehingga kejadian seperti gerhana matahari ini bisa dihitung dengan ilmu falak. Itu sebabnya hasil perhitungan ilmu falak yang dilakukan di Indonesia dan luar negeri itu sama.

Proses terjadinya gerhana matahari total tersebut hanya bisa dilihat menggunakan alat teleskop dan kacamata khusus. Sebab, jika melihat langsung tanpa menggunakan alat, bisa menyebabkan kerusakan mata.

Mata tak bisa menerima secara langsung cahaya matahari. “Jadi kita berharap nantinya tidak ada warga yang mencoba melihat langsung gerhana matahari tersebut, karena bisa menyebabkan terjadi kerusakan pada bola mata. Di kawasan Lhokseumawe matahari baru terlihat terbit di belahan timur pada pukul 06.40 WIB, artinya ketika pertama matahari terlihat itu sudah terjadi gerhana pada pagi hari dan puncaknya pada pukul 07.22 WIB,” ujar Tgk Ismail.

Menurutnya, cahaya matahari pada saat gerhana itu tidak membahayakan bagi makhluk hidup. Jadi, masyarakat tidak perlu panik jika melihat pada pagi tersebut cahaya mataharinya lebih redup dibandingkan hari biasa. “Untuk wilayah Aceh tidak sampai gelap gulita hanya sedikit redup saja, jadi tidak berpengaruh untuk melakukan aktivitas seperti biasa,” katanya.

Ditambahkan, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan tempat pengamatan dan shalat di KP3, agar masyarakat memudahkan masyarakat mengaksesnya. Karena jika dilaksanakan di Gua Jepang itu bisa menyulitkan warga mengakses, sebab gerhana itu terjadi pagi-pagi sekali. “Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana tersebut bisa menggunakan kacamata yang diproduksi khusus untuk melihat matahari secara langsung,” katanya.

Disebutkan, kacamata itu sebelumnya dijual Rp 15.000 jika dipesan dalam jumlah banyak di luar Aceh. Namun, lantaran kini sudah heboh dengan gerhana matahari, harganya naik menjadi Rp 35.000. “Jadi, awalnya kita targetkan kacamata sampai 500 unit, tapi karena harganya naik, sehingga hanya sekitar 200 unit yang bisa kita sediakan untuk masyarakat,” ujarnya.

Untuk shalat berjamaah, pihak STAIN sudah berkoordinasi dengan MPU Lhokseumawe, dengan khatib Ketua MPU Tgk Asnawi Abdullah MA dan imam Ustaz Fauzan. “Perlengkapan shalat dibawa sendiri,” demikian Tgk Ismail.(jaf/sak) (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id