Makna Shalat Saat Gerhana | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Makna Shalat Saat Gerhana

Foto Makna Shalat Saat Gerhana

AHLI astronomi dari Unsyiah, Banda Aceh, Dr Suhrawardi Ilyas SSi MSc yang juga anggota Badan Hisab dan Rukyah (BHR) Aceh mengatakan, untuk menyambut gerhana matahari di Aceh, pihaknya bersama tiga ratusan orang yang terdiri atas ilmuan Fakultas MIPA Unsyiah dan anggota BHR akan berkumpul di gedung Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) atau gedung mitigasi tsunami di Ulee Lheu, Banda Aceh. Mereka akan membawa lima teleskop dari BHR Aceh. Di sana juga akan dibagikan 200 kacamata gerhana bagi yang cepat datang. Kacamata ini dirancang dengan filter pengaman, sehingga dapat melihat matahari langsung tanpa silau. Warga juga bisa saling bergantian menggunakan kacamata ini dengan sanak famili jika tertarik melihat matahari langsung saat gerhana. Media lain yang bisa digunakan yakni klise film dan atau kacamata riben yang paling gelap.

Ditanya mengenai perintah shalat sunat saat terjadi gerhana matahari, Suhrawardi menjelaskan, dalam ajaran Islam disunatkan melaksanakan shalat gerhana matahari yang disebut dengan shalat sunat kusuf. Shalat kusuf ini tergolong berbeda dengan shalat sunat lainnya karena dianjurkan untuk memperbanyak bacaan saat rukuk dan sujud. Jika biasanya bacaan rukuk dan sujud hanya diulangi tiga kali, namun dalam shalat kusuf dibaca hingga ratusan kali. Perbedaan lainnya, setelah rukuk, tangan kembali bersedekap dan membaca surah Al-Fatihah. Setelah itu baru bacaan iktidal seperti biasa. Demikian juga untuk rakaat kedua sehingga seolah empat rakaat, padahal hanya dua rakaat. Shalat dilaksanakan saat gerhana dan dianjurkan berjamaah di masjid. Shalat kusuf juga terdiri atas khutbah dan setelah itu berdoa.

“Dulu shalat kusuf sering dikaitkan dengan meninggalnya seorang putra Nabi Nuhammad SAW bernama Ibrahim. Padahal tidak ada hubungannya sama sekali antara gerhana dan meninggalnya anak Nabi. Hanya saja saat itu kebetulan terjadi gerhana dan Rasul memerintahkan shalat sunat,” katanya.

Dijelaskan, Nabi saat itu memerintahkan untuk shalat sunat justru sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Setelah dikaji oleh para ahli, ternyata sikap syukur ini berkaitan dengan matahari yang cukup ekstrem saat berjalannya siklus gerhana. Secara syariah, perintah shalat hampir semuanya dianjurkan saat cahaya sedang sedikit contohnya shalat malam dan sebagainya. Demikian juga untuk shalat wajib. Ini berkaitan dengan kondisi tubuh manusia yang membutuhkan ketenangan dan relaksasi.

Saat terjadi gerhana matahari, cahaya cenderung lebih redup meski sebelumnya dipengaruhi radiasi yang ekstrem. Jadi, saat itu tubuh manusia cenderung tenang. Terkadang manusia tak menyadarinya karena manusia cenderung sibuk.

Dari kajian lain, ternyata gerhana bulan atau gerhana matahari berhubungan dengan magnetik bumi. Bumi mengalami tekanan magnetik matahari pada saat gerhana. Akibatnya, hari itu membuat magnetik bumi lebih rapat sehingga kondisi organ tubuh mahluk hidup sedikit terganggu termasuk manusia. Ini terjadi pada bagian organ dalam manusia yang bersifat auto. Pergerakan organ dalam ini pada dasarnya tak dapat dideteksi dengan kasat mata sehingga kurang disadari.

“Namun saat adanya gerhana, kondisi organ itu cenderung stabil, seolah dikembalikan ke posisi netral atau stabil. Untuk itu shalat sunat gerhana matahari (kusuf) maupun gerhana bulan (khusuf) diperintahkan sebagai rasa syukur kepada Allah karena saat itu diberi kenyamanan,” kata dia.

Dijelaskan, kalau diteliti lebih jauh, seluruh waktu shalat diperintahkan Allah saat tubuh kita memerlikan relaksasi dan penstabilan organ tubuh secara keseluruhan. Oleh sebab itu, jika kita menyadari Allah memerintahkan shalat, karena sebenarnya kita sendiri yang membutuhkan shalat itu. “Untuk itu mari kita menyaksikan gerhana matahari sebagai tanda kebesaran Allah sekaligus bersyukur atas karunia-Nya,” kata Suhrawardi.(gun) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id