Fenomena Langka | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Fenomena Langka

Foto Fenomena Langka

GERHANA Matahari Total (GMT) yang akan terjadi Rabu pagi, 9 Maret 2016 merupakan gerhana yang istimewa. Inilah sebabnya berita tentang fenomena alam semesta ini sangat digembar-gemborkan di seluruh dunia, bahka sejak dua tahun lalu.

Momen kali ini istimewa karena gerhana totalnya hanya dapat dinikmati di Indonesia. Selain itu, siklus serupa hanya dapat terulang setiap 300 tahun sekali.

Menurut Ahli Astronomi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Dr Suhrawardi Ilyas SSi MSc, gerhana matahari terjadi disebabkan siklus astronomi. Saat itu, bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus. Saat itu bulan berada di tengah matahari dan bumi. Cahaya matahari terhalang oleh bulan, sehingga Bumi menjadi gelap walaupun siang hari. Sebagian wilayah bumi akan gelap dalam waktu tertentu walau seharusnya terang benderang.

Dikatakan, pada dasarnya siklus gerhana matahari terjadi dalam rentang waktu 18 tahun sekali di tempat berbeda. Kali ini meliputi Indonesia dan sebagian kawasan Pasifik. Siklus yang terjadi di tahun 2016 ini disebut Siklus Saros. Siklus serupa atau di tempat yang sama hanya terjadi 300 tahun sekali. Dalam kurun waktu itu 18 tahun bisa terjadi gerhana hingga 70 kali gerhana yang terdiri atas gerhana bulan atau gerhana matahari sebagian. Kali ini tergolong istimewa karena siklus yang sama hanya terulang setiap 300 tahun sekali. Durasi gelap totalnya juga tergolong lama hingga 7 menit.

Walau gerhana matahari pernah terjadi pada tahun 1983, 1988, dan 1995 namun gerhana matahari total 2016 merupakan yang pertama di abad 21 ini di wilayah Nusantara. Jadi, warga hanya dapat menyaksikannya sekali seumur hidup untuk siklus gerhana serupa. Untuk itu jangan lewatkan menyaksikannya. Gerhana matahari tidak berbahaya namun disarankan melihatnya dengan teleskop, kacamata gerhana, klise film, atau kacamata riben yang paling gelap. Ini bertujuan agar matahari dapat terlihat dengan mudah tanpa silau. Pasalnya, perubahan cahaya secara umum bisa mengganggu retina.

Dulu, pada tahun 1983 sempat beredar isu bahwa melihat matahari bisa menyebabkan kebutaan. Hal ini dipercayai secara massal oleh penduduk Indonesia. Ternyata isu itu tidak benar. Justru saat ini penduduk dunia menganggap gerhana jadi sebuah pemandangan yang menarik untuk disaksikan.

Alumnus Univerty of New South Wales (UNSW) Australia tahun 2007 yang juga anggota Badan Hisab dan Rukyah (BHR) Aceh ini mengatakan, gerhana kali ini sangat ditunggu-tunggu oleh ilmuan di seluruh belahan dunia. Bahkan para ilmuan dari dunia barat sengaja mendatangi kawasan Indonesia yang nantinya mengalami gerhana matahari total. Tak tanggung-tanggung, mereka berjumlah ribuan dan telah memesan hotel sejak dua tahun lalu dan menyebar di seluruh Indonesia.

Ini kesempatan bagi para peneliti baik oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) maupun Lembaga Antariksa Amerika (NASA) untuk melakukan sejumlah riset terkait fisika matahari maupun fisika umum dan pengkajian keantariksaan. Juga sering dijadikan pembuktian teori relativitas Einstein, bahwa suatu benda bisa membelokkan cahaya.

Ketika gerhana matahari, saat sang surya ditutup, bintang-bintang di sekitar matahari sedikit bergeser. Diduga juga ada perubahan perilaku hewan. Peneliti-peneliti ini menyebar di beberapa kawasan Indonesia.

“Mereka terdiri dari astronomer, juga ada ahli geografi yang mengamati posisi bumi saat gerhana termasuk pasang surut air laut, juga ada ahli biologi yang mengamati perilaku hewan-hewan saat gerhana. Intinya, momentum ini akan dijadikan kajian untuk perkembangan ilmu pengetahuan ke depannya,” kata Dr Sahruhardi.

Secara umum, lanjut Suhrawardi, gejala gerhana matahari jika dikaji dari bayangan bulan ada dua macam. Terdapat dua bayangan bulan yakni umbra dan penumbra. Disebut umbra karena adanya bayangan langsung sehingga bumi akan gelap total. Sedangkan penumbra adalah bayangan bulan yang tak langsung sehingga bumi akan gelap sebagian. Gerhana sebagian juga ada dua macam yakni gerhana matahari cincin dan gerhana parsial.

Pada 9 Maret nanti, ada 12 provinsi di Indonesia yang akan dilalui oleh gerhana, yakni Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Sebagian daerah ini akan mengalami GMT satu hingga tiga menit, namun tak semua sudut daerah dilintasi gerhana total karena ada daerah yang hanya mengalami gerhana total empat detik. Sepanjang kawasan Nusantara akan dilintasi gerhana sepanjang 1.200 hingga 1.300 kilometer menurut jalurnya.

Menurut Suhrawardi, proses gerhana matahari 2016 di seluruh dunia berdurasi 1 jam 58 menit, mulai pukul 06.19 sampai 11.43 WIB. Gerhana matahari di Aceh juga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Aceh. Hanya saja di Aceh tak terdapat gerhana matahari total, akan tetapi hanya sebagian (parsial).

Untuk Banda Aceh proses gerhana dimulai pada pukul 06.26 WIB yakni sebelum matahari terbit. Matahari baru akan terbit pukul 06.47 WIB. Dengan demikian, matahari pada Subuh itu takkan tampak seluruhnya karena akan tertutup sebanyak 78 persen. Bahkan suasananya persis seperti senja. Saat terjadi gerhana, matahari saat itu berada di posisi masih minus 6,0 derajat dari ufuk atau dalam kata lain masih berada 6 derajat di bawah ufuk. Peristiwa itu terjadi ketika bulan bergerak dari barat ke arah timur.

Hal serupa akan terjadi di seluruh kawasan Aceh kecuali di Singkil agak lebih gelap karena matahari tertutup hingga 83 persen. Jadi proses di Aceh hanya bisa terlihat 1 jam 27 menit sejak matahari terbit. Artinya, proses secara keseluruhan bisa dinikmati hingga pukul 08.24 WIB. Begitupun gerhana matahari takkan bisa dinikmati jika ternyata kondisi di suatu daerah berawan.

“Gerhana matahari total sebenarnya unik karena langsung menyebabkan siang atau pagi menjadi malam diikuti penurunan suhu layaknya malam. Yang menarik lagi, bintang yang pada pagi hari tak terlihat bisa dilihat saat itu. Bagi daerah yang mengalami GMT, suasana benar-benar gelap, meski terlihat ada cahaya di atas tapi tak bisa menerangi,” kata Suhra. (gun) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id