Memulai dengan ‘Basmalah’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Memulai dengan ‘Basmalah’

Memulai dengan ‘Basmalah’
Foto Memulai dengan ‘Basmalah’

Oleh Agustin Hanafi

AJARAN Islam begitu mulia dan sempurna, bukan hanya mengatur hal-hal yang bersifat pokok, tetapi hal-hal kecil pun diperhatikan secara detail dan rinci. Misalnya, setiap pekerjaan harus dimulai dengan basmalah (menyebut nama Allah), kecuali untuk melakukan maksiat, lalu mengutamakan tangan/kaki sebelah kanan, kecuali masuk WC dan beristinja.

Hampir setiap surat dalam Alquran diawali dengan Bismillahir-rahmanir-rahim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Betapa agung dan indah kalimat ini, sebuah ungkapan yang menunjukkan kelemahan hamba-Nya di mata sang Khalik sebagai pemilik dan pengatur alam semesta ini yang tidak pernah luput dari pantauan dan penguasaan-Nya. Meskipun demikian, sebagian orang merasa kalimat yang penuh makna ini tidak begitu urgens dan mengabaikannya pada setiap aktivitasnya, sehingga apa yang dilakukannya kurang sempurna di mata Allah Swt.

Makna ‘basmalah’
Bismillahir-rahmanir-rahim, kalimat ini sekilas sederhana tetapi sungguh menakjubkan dan mengagumkan bagi yang mau merenungkan dan menghayatinya sehingga menambah keimanan dan kedekatan diri kepada Allah. Secara harfiah, kata bi diterjemahkan “dengan”, atau “memulai”. Dengan demikian, pengucap basmalah berkata, “Dengan (atau demi) Allah saya memulai (pekerjaan ini).” Maka ketika seseorang mengucapkan kalimat ini pada setiap aktivitas dan rutinitasnya, berarti telah memohon keberkahan dan ridha dari Allah Swt, sehingga motivasi dan semangatnya akan berbeda.

Kata bi juga dikaitkan dengan “kekuasaan dan pertolongan”, sehingga si pengucap menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya terlaksana atas kodrat (kekuasaan) Allah Swt. Ia memohon bantuan-Nya agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan baik dan sempurna. dan Apabila suatu pekerjaan dilakukan atas bantuan Allah maka pasti ia sempurna, indah, baik dan benar karena sifat-sifat Allah “berbekas” pada pekerjaan tersebut.

Dengan permohonan itu, di dalam jiwa si pengucap tertanam rasa ketidakberdayaan di hadapan Allah Swt. Namun pada saat yang sama, tertanam pula kekuatan, rasa percaya diri, dan optimisme karena ia merasa memperoleh bantuan dan kekuatan dari Allah sumber segala kekuatan. Maka ketika berada di darat, laut, udara sekalipun, tidak lagi ada perasaan cemas dan was-was karena semuanya telah diserahkan kepada Allah Swt.

Maka, begitu sampai pada suatu tujuan atau meraih kesuksesan, dia tidak lupa memuji Allah karena menyadari bahwa itu semua tidak terlepas dari campur tangan Allah sehingga tidak membuatnya lupa diri ataupun angkuh dan sombong, begitu juga ketika mengalami sebuah kegagalan atau apa yang diharapkannya tidak mencapai target, dia tidak akan menggerutu, mengucapkan sumpah serapah sebagai bentuk kekecewaan, karena sukses atau tidaknya sebuah pekerjaan tidak luput dari intervensi Allah, sehingga dia menjadi ikhlas dan legowo menerima kenyataan.

Kemudian, ketika seseorang menyebut “nama Allah” otomatis tujuannya adalah untuk kebaikan, maka apapun yang dilakukannya niscaya akan sesuai dengan perintah Allah yang mengharuskan berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang status sosialnya. Tidak akan berlaku semena-mena, seperti kecurangan, kezaliman yang dapat merugikan orang lain.

Dalam politik, misalnya, ketika mendapat amanah dari rakyat untuk menjadi seorang pemimpin maka dia akan mengayomi dan melayani rakyat serta berupaya mensejahterakan rakyat, bukan memperkaya diri sendiri dan kelompok. Sekiranyapun gagal memperoleh mandat, maka dia tetap bersyukur dan tidak mencari kambing hitam karena meyakini bahwa itulah ketetapan Allah yang terbaik, dan Allah akan memberikan kedudukan kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa seorangpun yang dapat menghalanginya.

Demikian pula halnya dalam keluarga, seseorang yang menyebut “nama Allah” ketika mempersunting seorang gadis, berarti dia akan bersikap amanah, penuh tanggung jawab tidak menyia-nyiakan dan mengkhianatinya, akan memperlakukan isterinya secara makruf dan tidak akan memperbudaknya. Begitu juga halnya dengan sang gadis dan walinya, ketika bersedia menerima lamarannya atas “nama Allah” berarti akan jauh dari rasa khawatir terhadap sesuatu yang buruk menimpanya di kemudian hari, dengan demikian akan siap lahir batin untuk hidup bersama, tidak akan berkhianat, bersedia membantu, meringankan beban suaminya demi menggapai keluarga samara (sakinah mawaddah warahmah).

Dengan demikian, siapa saja yang menyebut nama Allah, tentu akan berpengaruh pada setiap dimensi kehidupannya. Maka, ketika belajar tentu akan serius, sungguh-sungguh, dan tekun, bukan hanya sebatas formalitas untuk mendapatkan gelar, ijazah, tidak mudah mengeluh dan putus asa karena yakin akan kasih sayang Allah yang tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang sedang berjihad menuntut ilmu, sesuai janji Allah, “di balik kesulitan pasti Allah berikan kemudahan”.

Tidak angkuh
Di sisi lain, juga berpengaruh pada sikap dan perilakunya, misalnya santun ketika berjalan, tidak angkuh membusungkan dada dengan memodifikasi knalpot kenderaannya yang mengganggu kenyamanan orang lain, tidak ugal-ugalan ketika di jalan raya yang menyebabkan ketidaknyamanan orang lain. Semakin menghargai teman dan gurunya, selalu menebarkan senyum dan salam ketika berjumpa, tidak dengan wajah cemberut dan dahi berkerut, walaupun nilai yang didapatnya kurang memuaskan karena yang diinginkannya adalah keberkahan.

Kemudian akan berusaha mengingat jasa dan perngorbanan orang tuanya, selalu mendoakannya, tidak akan mengkhianati harapan mereka dengan merokok, mengisap narkoba, bolos sekolah, pergaulan bebas, membonceng yang bukan mahram-nya karena menyadari betul perjuangan orang tuanya yang penuh dengan cucuran keringat dan deraian air mata demi menyiapkan nafkah anaknya.

Sedangkan makna al-rahman curahan rahmat Allah tanpa batas yang diberikan di dunia ini kepada alam raya dan juga manusia baik mukmin maupun kafir. Makna al-rahim adalah curahan rahmat-Nya kepada mereka yang beriman yang akan diberikan kelak di hari akhirat. Hal inilah yang patut direnungi oleh manusia, betapa besar anugerah dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, tidak ada yang mati kelaparan, semuanya mendapatkan rezeki jika mau berusaha walaupun berada di bawah dasar laut dan perut bumi sekalipun.

Diciptakan-Nya bumi sebagai hamparan agar manusia dapat mencari karunia Ilahi. Kemudian diciptakan juga gunung-gunung agar bumi menjadi seimbang dan stabil, kemudian tumbuh di atasnya pepohonan yang sungguh bermanfaat bagi umat manusia yang dapat dijadikan makanan dan obat-obatan, kemudian menyerap polusi udara sehingga manusia dapat menghirup udara segar, kemudian di dalamnya hidup binatang buas sehingga kenyamanan manusia tidak terusik.

Kemudian manusia membutuhkan panas matahari, di mana panas tersebut mengakibatkan menguapnya air, kemudian, air tersebut turun lagi dalam bentuk hujan sehingga dapat tumbuh tanam-tanaman untuk kebutuhan manusia, hujan yang turunpun bukan dari langit yang tertinggi sehingga tidak merusak tempat tinggal, dan pesawat yang merupakan transportasi utama manusia leluasa terbang sehingga manusia merasa aman.

Kemudian Allah ciptakan lautan begitu luas, dihiasi dengan terumbu karang yang sungguh indah dan rapi, sehingga ikan dapat berlindung agar jauh dari kepunahan bahkan setiap saat manusia dapat menikmatinya. Berjuta juta tahun hasilnya dikeruk dengan peralatan super-canggih sekalipun tetapi ikan tidak pernah berkurang justru populasinya saban hari semakin bertambah.

Di sisi lain, lautan sedemikian luas dan airnya terasa asin, sedangkan sungai dengan air yang segar tawar dalam posisi yang lebih tinggi dari lautan, sehingga air sungai itu mengalir ke lautan, namun ia tidak mengubah keasinannya. Sebaliknya, air laut tidak dapat juga mengasinkan sungai karena pada dasarnya semua air selalu mencari tempat yang rendah. Begitulah sunnatullah, bahkan matahari dan bulan berada pada orbitnya dan beredar pada garisnya masing-masing, satu sama lain tidak pernah saling mendahului yang semua itu diperuntukkan Allah untuk kepentingan makhluk-Nya.

Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya, “Katakanlah (Wahai Muhammad) seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhan-Ku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai penulisan kalimat-kalimat Tuhan-Ku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). Maka wajar Allah menegur manusia yang lupa menyebut nama Allah, nikmat Tuhan-Mu yang mana lagi yang engkau dustakan.”

Dengan demikian, mari kita menyebut basmalah pada setiap aktivitas, baik ketika akan memejamkan mata untuk istirahat bertawakal menyerahkan semua urusan kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, begitu juga ketika bangun tidur memuji Zat yang Mahasuci yang masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup, sehingga dapat bergerak mencari karunia-Nya di muka bumi ini. Wallahu a‘lam.

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: [email protected] (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id