‘Hacking’ agar Anak Rajin Membaca | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Hacking’ agar Anak Rajin Membaca

‘Hacking’ agar Anak Rajin Membaca
Foto ‘Hacking’ agar Anak Rajin Membaca

OLEH CUT FAMELIA, Fulbright Student Jurusan Ilmu Data di Worcester Polytechnic Institute, melaporkan dari Massachusetts, Amerika Serikat

SEMBARI mengerjakan capstone project (mahasiswa memecahkan persoalan yang terjadi di perusahaan/institusi di luar kampus), saya menerima sepucuk e-mail yang mengabarkan bahwa saya lolos seleksi untuk mengikuti “Codex-Hackathon” tanggal 10-12 Februari 2017 di Kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, di negara bagian Massachusetts. MIT hanya berjarak dua rute kereta api bawah tanah (Subway) dari Harvard University.

Kegiatan “hacking” yang disponsori oleh MIT, Harvard, dan Google ini, ibarat bengkel ide yang pekerjanya orang-orang lintas usia, perspektif, dan keahlian (tidak hanya programmer, tapi juga pustakawan, graphic designer, pegiat digital humanity, dan lain-lain) untuk membuat bermacam hal inovatif demi masa depan dunia buku dan baca.

Codex membantu menyajikan sumber data online yang bisa di-hacked (diolah/dimanipulasi) untuk menjadi bahan membuat aplikasi berbasis komputer. Jadi, hacking yang saya maksud di sini bukanlah dalam konteks mencuri password e-mail atau membobol website seperti yang diisukan pada situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru-baru ini yang katanya cuma hoax. Sebagai pembelajar yang bermain dengan data, analisis, dan pemrograman komputer, saya merasa tertantang untuk berbagi ide dan mencoba membangunnya dengan kemampuan hacking yang sedang saya tekuni di Worcester Polytechnic Institute. Kampus ini laboratorium dan pustakanya ramai dihuni mahasiswa sampai pagi dan kami disuguhi cokelat hangat, kopi, dan kue gratis setiap musim ujian.

Ditemani serpihan salju dan hawa dingin yang merasuk ke tulang, saya tiba di Boston, ibu kota Massachusetts, yang disebut “New England” karena bekas jajahan Inggris. Pantas saja banyak bangunan bernuansa klasik ala London di sini dan beberapa kota namanya sama seperti di Inggris, Cambridge dan Worcester, misalnya. Jarak Boston hanya sekitar 40 menit mengemudi dari Worcester, tempat tinggal saya, ibarat Banda Aceh-Montasik. Saya sering bermain ke Boston, ke luar sejenak dari dunia akademik saya yang hanya sependek rumah dan kampus hampir setiap hari. Saya temukan banyak hal menantang dan edukatif di Boston yang tampak seperti kota pelajar. Banyak sekolah dan orang yang bersekolah di sini. Kata teman saya yang pernah tinggal lama di Amerika, “Massachusetts is the most educated state in America.” Transportasi publiknya (bus maupun kereta api bawah dan atas tanah) sangatlah rapi dan mudah diakses. Dari Boston saya naik Subway menuju Cambridge. Boston dan Cambridge hanya dibelah oleh Charles River yang membeku karena mati suri di musim dingin ini.

Saya menginap di Marriot Hotel, persis di belakang Stasiun Subway Kendall MIT. Hanya butuh lima menit jalan kaki menuju MIT. Panitia menanggung biaya penginapan, makan, dan transportasi saya.

Di hari pertama, peserta berkenalan sambil disuguhi buku-buku yang boleh dimiliki secara gratis. Saya tanya ke panitia, apa boleh saya ambil lebih dari satu? Akhirnya saya bawa pulang enam buku.

Di hari kedua, peserta menyampaikan elevator pitch selama 30 detik, semacam iklan untuk mempromosikan ide. Berbicara superringkas, padat, dan komersial adalah kebiasaan orang Amerika dalam berkompetisi di dunia akademik maupun nonakademik. “Time is money,” kata guru saya.

Pitch saya berisi media sosial berbasis buku untuk anak-anak. Kampanye membaca dan menulis perlu dimulai sejak usia dini demi membentuk masyarakat yang gemar meneliti, sebagaimana diperintahkan dalam Alquran Surah Al-‘Alaq 1: “Iqra”. Media sosial ini saya namakan “Word Wonderland”, untuk membuat anak-anak ketagihan membaca buku, menulis book review, serta merekomendasikan buku kepada teman-temannya, seperti ketika mereka ketagihan main game smartphone atau nonton Upin-Ipin. Banyak ide canggih yang muncul dari peserta, seperti Bookstagram (Instagram versi buku) dan Pen Name (aplikasi pendeteksi siapa penulis dari potongan teks buku untuk mencegah plagiasi yang dibuat dengan teknik analisis data Machine Learning yang sangat diminati di Amerika). Jadi, jika ada peserta yang tertarik dengan ide peserta yang lain, mereka bisa membentuk satu project team. Atau, jika pustakawan dan desainer punya ide, mereka bisa mengajak programmer untuk bergabung dan mewujudkan idenya ke dalam web application.

Terakhir, setiap tim harus mempresentasikan hasil kerjanya. Banyak yang mampu merampungkan hampir seluruh pekerjaannya hanya dalam waktu lebih kurang 15 jam. Hackathon atau “hacking berjamaah” untuk melahirkan inovasi di berbagai bidang sudah membudaya di Amerika, terkadang dikemas dalam bentuk kompetisi berhadiah. Budaya ini mampu melipatgandakan ide yang jika hanya dipikirkan secara menyendiri belum tentu akan sebanyak dan sekreatif ini. Ketika 10 kreativitas dikumpulkan di satu meja, maka lahirlah 20 kreativitas yang baru. Demikianlah kira-kira.

Di Aceh, saya pikir, kegiatan menjaring dan rekayasa ide secara kolektif seperti ini juga perlu dibiasakan dan disponsori, supaya kreativitas masyarakat tak hanya tersembunyi di dalam kepala, tapi bisa muncul ke luar, berkembang biak, dan berjalan agar Aceh menjadi etnis yang semakin cerdas dan bermanfaat bagi dunia.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id